[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #83

Keputusan Sisterhood

Tiga puluh menit sebelum konser dimulai, lorong belakang Osaka Grand Hall berubah menjadi jalur sempit yang dipenuhi manusia, kabel, suara radio komunikasi, dan cahaya putih dari lampu kerja.

Sepatu para kru berulang kali menghantam lantai hitam. Flight case didorong melewati dinding. Dari kejauhan terdengar dentuman bass yang sedang diuji untuk terakhir kalinya, begitu rendah sampai getarannya terasa melalui telapak kaki.

Rin berdiri di depan cermin ruang rias.

Wajahnya sudah selesai.

Foundation menutup pucat yang tidak bisa disembunyikan tubuhnya. Garis eyeliner membuat matanya tampak lebih tajam. Rambut panjangnya jatuh sempurna di kedua sisi wajah. Kostum panggung berkilau di bawah lampu putih, setiap detailnya telah diperiksa berulang kali oleh stylist.

Secara visual, Rin sudah siap.

Tubuhnya tidak.

Ia menatap pantulan dirinya beberapa detik.

Napasnya pendek.

Bukan sampai kehilangan kendali. Belum.

Namun setiap tarikan terasa terlalu dangkal, seolah paru-parunya hanya menerima sebagian udara yang dibutuhkan.

Jari telunjuknya bergerak pelan di sisi rok panggung, merapikan lipatan yang sebenarnya sudah tidak bermasalah.

Kemudian ia mengangkat dagu.

"Baik."

Suara itu keluar pelan.

Rin mencoba tersenyum.

Senyumnya terlihat benar.

Hanya matanya yang tidak ikut.

Pintu ruang rias terbuka.

"Rin?"

Suara Mei.

Rin segera menoleh.

"Aku siap."

Mei berhenti di ambang pintu.

Tatapannya langsung menangkap wajah Rin.

"Kamu pucat."

Rin tertawa kecil.

"Makeup-nya belum selesai?"

"Jangan bercanda."

Mei masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Rin menghindari tatapannya dengan berpura-pura memeriksa gelang di pergelangan tangan.

"Aku cuma tegang."

"Karena konser?"

Rin tidak menjawab segera.

Pertanyaan itu sederhana.

Jawabannya tidak.

"Karena semuanya."

Mei mendekat.

Untuk sesaat Rin mengira Mei akan bertanya lebih jauh.

Tentang telepon.

Tentang paparazzi.

Tentang Kazuma.

Tentang Ren.

Namun Mei tidak bertanya.

Ia hanya membuka kedua tangannya.

Rin berkedip.

"Apa?"

"Ke sini."

Rin tersenyum samar.

"Kenapa?"

"Karena aku mau."

Kalimat itu begitu sederhana sehingga Rin tidak punya alasan untuk menolaknya.

Ia melangkah mendekat.

Mei memeluknya.

Bukan pelukan singkat seperti sebelum naik panggung.

Pelukan itu lebih lama.

Tangan Mei menekan lembut punggung Rin. Tidak terlalu kuat. Tidak membuat kostum berantakan. Cukup untuk membuat tubuh yang sejak tadi menegang perlahan kehilangan sedikit kekakuannya.

Rin mengembuskan napas di bahu Mei.

"Mei."

"Hm?"

"Kamu kenapa hari ini baik sekali?"

Mei tersenyum tanpa melepaskan pelukan.

"Aku biasanya juga baik."

"Enggak."

"Kurang ajar."

Rin tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa jam terakhir, napasnya keluar tanpa terasa dipaksa.

Mei melepaskannya.

"Sudah?"

Rin mengangguk.

"Sedikit."

"Bagus."

Pintu terbuka lagi.

Yuka muncul dengan dua botol air di tangannya.

"Ketemu!"

Ia berhenti melihat Rin dan Mei.

"Kalian pelukan tanpa aku?"

Mei mengangkat alis.

"Masuk saja."

Yuka langsung berjalan mendekat.

"Aku juga mau."

Rin tertawa.

"Kalian kenapa sih?"

"Enggak kenapa-kenapa."

Yuka meletakkan salah satu botol air di meja, lalu memeluk Rin dari samping.

Rin sedikit terhuyung.

"Yuka."

"Diam."

"Aku belum seimbang."

"Makanya jangan kurus-kurus."

"Aku enggak kurus."

"Menurutku kurus."

Rin tertawa lagi.

Yuka melepaskannya.

Di balik senyum cerianya, ada sesuatu yang ia tahan.

Ia tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, dunia Rin berubah di mata mereka.

Namun sekarang, ketika melihat wajah pucat itu, Yuka tidak ingin memandangnya sebagai rahasia.

Ia ingin memandangnya sebagai orang yang selama ini mereka kenal.

Rin.

Bukan dokumen.

Bukan rumor.

Bukan foto.

Bukan nama yang tercetak di kartu.

Rin.

Yuka mengambil botol air.

"Minum."

"Aku sudah minum."

"Minum lagi."

"Yuka."

"Rin."

Mereka saling menatap.

Rin menyerah.

"Baik."

Ia mengambil botol itu dan meneguk beberapa kali.

Yuka tersenyum puas.

"Bagus."

Pintu terbuka untuk ketiga kalinya.

Chino muncul.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Memaksa Rin minum," jawab Yuka.

Chino melihat Rin.

Kemudian melihat tiga orang lainnya.

Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya.

Sangat kecil.

Lihat selengkapnya