Lima ribu lightstick bergerak seperti permukaan laut.
Dari atas panggung, lautan cahaya itu tampak hampir tidak nyata. Biru, putih, merah muda, dan ungu bergoyang mengikuti ketukan musik, membentuk gelombang panjang yang bergerak dari depan hingga tribun paling belakang. Setiap kali bass menghantam, ribuan suara ikut pecah.
Osaka Grand Hall malam itu terasa seperti milik ECLIPSE.
Lampu utama padam.
Sorotan putih menyapu arena.
Lalu musik berikutnya meledak.
Rin bergerak ke tengah panggung.
Sepatu panggungnya menghantam permukaan hitam dengan presisi yang sudah dilatih ratusan kali. Rambut panjangnya mengikuti putaran kepala. Rok kostumnya berayun ketika tubuhnya berpindah arah, sementara cahaya LED di belakang mereka menampilkan pola geometris yang berubah mengikuti tempo.
Suara penonton membesar.
"Rin!"
"Rin!"
"Rin!"
Ia tersenyum.
Senyum Center.
Tidak terlalu lebar.
Tidak terlalu dibuat-buat.
Cukup untuk membuat kamera utama menangkap sudut wajahnya ketika lampu putih menyentuh pipinya.
Di sisi kiri, Aoi bergerak dengan ketepatan hampir mekanis. Mei menjaga vokal harmoninya. Yuka memanfaatkan setiap ruang panggung dengan energi yang membuat penonton terus bergerak. Chino berada sedikit di belakang Rin, tetapi ekspresinya tetap terang.
Mereka sudah melewati dua lagu.
Dan untuk beberapa menit, tidak ada Kenji.
Tidak ada Kazuma.
Tidak ada Ryuuto.
Tidak ada rumor.
Tidak ada nama Ren.
Hanya musik.
Hanya panggung.
Hanya ECLIPSE.
Rin menarik napas pada jeda koreografi.
Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih dari beberapa hari yang kacau. Ada rasa berat yang samar di belakang kepalanya, tetapi lampu dan sorakan membuatnya tidak memikirkannya.
Ia memandang ke arah tribun.
Ribuan wajah.
Ribuan cahaya.
Ribuan orang yang datang malam itu untuk melihat Rin.
Senyumnya menjadi sedikit lebih tulus.
Ini milikku.
Bukan dalam arti memiliki penonton.
Bukan dalam arti memiliki panggung.
Melainkan memiliki satu tempat di dunia yang selama beberapa tahun terakhir selalu terasa seperti sesuatu yang harus ia rebut sedikit demi sedikit.
Tempat untuk bernapas.
Tempat untuk bergerak.
Tempat untuk menyebut namanya sendiri tanpa rasa takut.
Intro lagu ketiga dimulai.
Nada pertama terdengar.
Sorakan langsung pecah.
Rin berbalik mengikuti formasi.
Aoi berada di sebelah kirinya.
Mereka bergerak bersama.
Satu langkah.
Putar.
Turunkan bahu.
Angkat tangan.
Pindah posisi.
Semua berlangsung sesuai hitungan.
Lalu lampu panggung berubah.
Sorotan putih menyapu bagian depan arena.
Awalnya Rin tidak memperhatikan.
Matanya masih mengikuti titik kamera.
Satu detik.
Dua detik.
Sorotan itu berhenti di barisan depan.
Seseorang berdiri di balik barikade.
Pria berjas gelap.
Tegak.
Tidak membawa lightstick.
Tidak bertepuk tangan.
Tidak tersenyum.
Rin hanya melihat siluetnya terlebih dahulu.
Kemudian cahaya mengenai wajah itu.
Dunia berhenti.
Kenji Tachibana.
Napas Rin terputus.
Tubuhnya tetap menghadap penonton, tetapi matanya terkunci pada pria itu.
Ayahnya.
Bukan di rumah.
Bukan di ruang kerja.
Bukan di balik meja tempat nilai kuliahnya dibahas.
Bukan di apartemen dengan pecahan botol obat di lantai.
Di sini.
Di antara lima ribu orang.
Di depan panggungnya.
Kenji berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. Seolah ia sudah melihat semuanya sejak awal dan hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk memastikan anaknya tahu bahwa ia ada di sana.
Di sebelah Kenji berdiri Ootori.
Detektif swasta itu mengenakan mantel gelap. Wajahnya jauh lebih tenang daripada Kenji. Tatapannya bergerak antara panggung dan orang-orang di sekitar mereka, seperti seseorang yang sedang mengamati situasi profesional.
Namun Rin hanya melihat satu orang.
Ayahnya.
Hitungan koreografi terus berjalan.
Satu.