Nada terakhir masih menggantung di udara ketika Rin menahan napas.
Lampu putih yang sejak beberapa menit lalu menyorot panggung Osaka Grand Hall perlahan meredup, meninggalkan lima sosok ECLIPSE dalam bayangan biru keunguan. Lagu penutup telah selesai. Ribuan lightstick bergerak seperti permukaan laut yang diterpa angin, sementara suara penonton membesar menjadi satu gelombang panjang yang terasa hampir tidak masuk akal untuk sebuah grup yang beberapa tahun lalu bahkan belum memiliki nama.
Rin masih tersenyum.
Senyum panggung itu sudah menjadi refleks yang nyaris tidak membutuhkan kesadaran. Sudut bibirnya terangkat. Dagunya sedikit terangkat. Bahunya tetap terbuka meskipun paru-parunya bekerja lebih cepat setelah koreografi terakhir.
Di sampingnya, Aoi mengangkat tangan kepada penonton.
Mei membungkuk dalam-dalam.
Yuka melambaikan kedua tangannya sambil tertawa, rambutnya berayun mengikuti gerakan.
Chino menahan air mata sambil membentuk kedua tangannya menjadi hati.
Rin melakukan hal yang sama.
Lima orang membungkuk bersamaan.
Suara tepuk tangan mengguncang dinding gedung.
"Terima kasih!"
Suara Rin keluar melalui mikrofon dengan kejernihan yang masih terjaga.
"Osaka, kami tidak akan melupakan malam ini!"
Sorakan kembali meledak.
Rin menatap lautan manusia di depannya.
Untuk sepersekian detik, ia membiarkan dirinya percaya.
Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin setelah malam ini mereka bisa kembali ke hotel, melepas sepatu panggung, memesan makanan terlalu banyak, lalu duduk berdesakan di satu kamar sambil membicarakan kesalahan kecil selama konser.
Mungkin Kenji akan tetap berada di barisan depan sebagai ancaman yang belum bergerak.
Mungkin Kazuma hanya akan menjadi bayangan yang masih bisa mereka lawan.
Mungkin dunia belum tahu.
Mungkin ia masih memiliki waktu.
Tirai mulai bergerak.
Rin menundukkan kepala sekali lagi.
Kemudian kelima anggota ECLIPSE berbalik dan berjalan menuju sisi panggung.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang melihat perubahan kecil di seluruh arena.
Satu ponsel berbunyi.
Kemudian dua.
Kemudian puluhan.
Lalu ratusan.
Suara notifikasi elektronik yang biasanya tenggelam dalam kebisingan penonton tiba-tiba muncul dari berbagai arah.
Ting.
Ting.
Ting.
Ting.
Seorang penonton di barisan tengah menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
Di sebelahnya, seorang perempuan muda ikut mencondongkan tubuh.
"Apa ini?"
"Kenapa?"
"Rin..."
Kata itu terdengar seperti bisikan.
Beberapa detik kemudian, layar-layar lain mulai menyala.
Seorang staf yang sedang memeriksa rundown berhenti berjalan.
Ponselnya bergetar terus-menerus di dalam saku.
Ia menariknya keluar.
Matanya membesar.
Notifikasi X memenuhi layar.
Satu unggahan.
Kemudian unggahan ulang.
Kemudian kutipan.
Kemudian tautan berita.
Sebuah tagar berada di posisi teratas.
#FakeIdolRin
Staf itu menelan ludah.
"Astaga..."
Di sisi lain arena, seorang penonton sudah membuka foto yang beredar.
Foto pertama memperlihatkan seorang mahasiswa laki-laki berambut pendek dengan jas formal universitas.
Foto kedua memperlihatkan Rin.
Bukan foto buram.
Bukan siluet.
Bukan gambar dari kejauhan.
Resolusinya tinggi.
Terlalu tinggi.
Wajah Ren terlihat jelas.
Nama Tachibana Ren terbaca pada kartu mahasiswa yang berada di salah satu foto.
Foto lain menampilkan Ren mengenakan pakaian mahasiswa kedokteran.
Kemudian foto Rin di panggung.
Sudut mata.
Bentuk wajah.
Tanggal lahir.
Nama.
Semua disusun berdampingan.
Tidak ada ruang lagi untuk teori.
Tidak ada ruang untuk "mungkin".
Tidak ada ruang bagi orang untuk mengatakan bahwa itu sekadar kemiripan.
Seseorang telah menghapus kata kemungkinan dari cerita itu.
Dan menggantinya dengan bukti.
Di belakang panggung, Rin baru saja melepas mikrofon headset ketika ponselnya mulai bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ia mengerutkan dahi.
Aoi yang berada beberapa langkah di belakangnya sedang menerima handuk dari staf.
"Rin."
Rin menoleh.
Wajah Aoi berubah.
Tidak pucat sepenuhnya.
Namun cukup untuk membuat Rin langsung berhenti bergerak.
"Apa?"
Aoi tidak menjawab.
Ponselnya berada di tangannya.
Layar itu menghadap ke bawah.
"Jangan lihat dulu."
Suara Aoi rendah.
Terlalu rendah.
Rin menatapnya.
"Kenapa?"
Mei keluar dari sisi lain lorong sambil membawa botol air. Yuka menyusul. Chino masih mengenakan pakaian panggung lengkap dengan napas yang belum sepenuhnya pulih.
Semua ponsel mereka bergetar.
Bersamaan.
Rin merasakan sesuatu jatuh ke dalam perutnya.
Bukan rasa takut biasa.
Ia mengenal ketakutan.
Ia pernah merasakan ketakutan ketika Ryuuto pertama kali menyebut nama Ren.
Ia mengenal ketakutan ketika Kazuma mengirim foto.
Ia mengenal ketakutan ketika Kenji berdiri di barisan depan.
Tetapi ini berbeda.
Tubuhnya mengenali sesuatu sebelum pikirannya mampu menyusunnya.
"Kasih aku."
Aoi menggeleng.
"Rin..."
"Kasih aku ponselmu."
Nada Rin berubah.
Bukan suara Center.
Bukan suara perempuan lembut yang biasa dipakai di depan kamera.
Itu suara Ren.
Pendek.
Tajam.
Aoi menatapnya beberapa detik.
Kemudian layar ponsel itu diberikan.
Jari Rin bergerak.
Satu ketukan.
Aplikasi X terbuka.
Halaman utama hampir tidak dapat dimuat karena jumlah notifikasi.
Puluhan.
Ratusan.
Kemudian ribuan.
Sebuah unggahan berada di paling atas.
Nama akun pengunggahnya tidak membuat Rin perlu membaca dua kali.
Kazuma.
Jantungnya seperti berhenti satu ketukan.
Ia membuka unggahan itu.
Foto pertama muncul.
Ren.
Seragam universitas.
Wajah yang sudah ia kenal selama sembilan belas tahun.
Wajah yang selama bertahun-tahun ia benci karena selalu menjadi wajah yang dipaksakan dunia kepadanya.
Foto kedua.
Rin.
Gaun panggung.
Rambut panjang.
Mata yang dihias.
Senyum yang selama ini menjadi miliknya.
Dua wajah itu berdampingan.
Di bawahnya terdapat puluhan foto lain.
Ren di lingkungan universitas.
Rin di belakang panggung.
Ren memasuki gedung.
Rin turun dari kendaraan.
Ren mengenakan pakaian mahasiswa.
Rin mengenakan kostum ECLIPSE.
Ada dokumen.
Ada identitas.
Ada tanggal.
Ada nama lengkap.
Semua yang selama ini ia bangun dengan kebohongan kecil, jadwal terpisah, perubahan pakaian, suara yang dikendalikan, rambut yang disembunyikan, dan ribuan keputusan mikro untuk menjaga dua dunia tetap berjauhan telah dijadikan satu halaman.
Rin tidak bergerak.
Suara arena di balik tirai terasa semakin jauh.
Ia membaca satu kalimat yang berada di bagian atas unggahan.
Rin dari ECLIPSE adalah Tachibana Ren. Identitas aslinya selama ini disembunyikan dari publik.
Tangannya mulai bergetar.
Ponsel itu hampir terlepas.
Mei langsung memegang pergelangan tangannya.
"Rin."
Rin tidak menjawab.
Scroll.
Komentar.
Ribuan.
Beberapa orang terkejut.
Beberapa marah.
Beberapa menyebutnya penipu.
Beberapa mengatakan mereka merasa tertipu.
Sebagian membela.
Sebagian justru meminta bukti lebih banyak.
Sebagian hanya menulis namanya berulang-ulang.
Ren Tachibana.
Ren Tachibana.
Ren Tachibana.
Nama itu terlihat seperti sesuatu yang telah dilemparkan ke dalam ruangan dan terus memantul dari dinding ke dinding.