[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #86

Nama yang Dipanggil

Lorong backstage Osaka Grand Hall masih dipenuhi suara-suara yang saling bertabrakan.

Dari arah panggung terdengar gema penonton yang belum sepenuhnya meninggalkan arena. Kru produksi berlari membawa kabel dan perangkat komunikasi. Beberapa staf membicarakan perubahan jadwal secara cepat melalui headset. Pintu-pintu ruang ganti terbuka dan tertutup. Bau keringat, hairspray, kain kostum, dan udara dingin dari pendingin ruangan bercampur menjadi satu.

Namun di tengah semua itu, Rin hanya mendengar satu suara.

"Ren."

Kenji masih berdiri di depannya.

Tangannya belum melepaskan lengan Rin.

"Ren, ikut Ayah."

Rin menatap tangan itu.

Jari-jari Kenji menekan kain kostum panggung yang membungkus lengannya. Tekanannya tidak sampai membuatnya terluka, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tahu bahwa lelaki itu tidak sedang meminta.

Ia sedang memerintah.

"Ren."

Nama itu terdengar lagi.

Rin mengangkat wajah.

"Jangan panggil aku begitu."

Kenji membeku.

Aoi menoleh tajam.

Mei berhenti berbicara dengan salah seorang staf.

Yuka dan Chino saling bertukar pandang.

Bahkan Ryuuto, yang sejak beberapa menit terakhir sibuk menatap layar ponselnya, perlahan mengangkat kepala.

Kenji mengeraskan rahang.

"Apa?"

Rin menarik napas.

Udara terasa dingin ketika masuk melalui hidung, tetapi dadanya tetap sesak. Tangannya bergetar kecil. Ia mengepalkan jari-jari tangan yang bebas agar gemetarnya tidak terlalu terlihat.

"Aku bilang jangan panggil aku begitu."

"Nama itu adalah nama kamu."

"Di dokumen."

"Nama lahirmu."

Rin menelan ludah.

"Ya."

Kenji mendekat.

"Jadi ikut Ayah."

Rin tidak bergerak.

Kenji menarik lengannya.

"Ren."

Tubuh Rin tersentak.

Namun kali ini ia tidak mundur.

Ia justru menatap ayahnya lebih lama.

"Nama itu milik masa lalu yang sedang Ayah coba paksa kembali kepadaku."

"Jangan bicara seperti itu kepada Ayah."

"Kalau begitu jangan bicara kepadaku seperti aku masih anak kecil."

Suara Rin bergetar.

Tetapi kalimatnya jelas.

Kenji menatapnya seakan baru pertama kali mendengar anaknya berbicara dengan cara seperti itu.

Di belakang Rin, Aoi perlahan maju.

Satu langkah.

Tidak agresif.

Tidak mengancam.

Hanya cukup untuk menempatkan tubuhnya di antara Kenji dan Rin.

"Pak Tachibana."

Kenji mengalihkan pandangan.

"Geser."

Aoi tidak bergerak.

"Saya tidak bisa."

"Kamu tidak tahu urusan keluarga kami."

"Saya memang tidak tahu semuanya."

Aoi menarik napas pendek.

"Tapi saya tahu satu hal. Rin tidak mau ikut."

Kenji menatapnya dingin.

"Ini bukan keputusan yang bisa dibuat oleh seorang anak perempuan seusiamu."

Aoi tidak berkedip.

"Kalau begitu tanyakan langsung kepadanya."

Kenji kembali menatap Rin.

"Ren."

Rin memejamkan mata.

Satu detik.

Dua detik.

Nama itu seperti mengetuk pintu yang sudah bertahun-tahun ia kunci dari dalam.

Ren.

Nama yang tercetak di kartu mahasiswa.

Nama yang tertulis di lembar ujian.

Nama yang dipanggil dosen.

Nama yang digunakan ayahnya saat memeriksa nilai.

Nama yang selalu datang bersama kemeja laki-laki, rambut pendek, suara rendah, dan bahu yang harus ditegakkan sesuai kehendak keluarga.

Nama itu nyata.

Ia tidak membenci kenyataan bahwa nama itu pernah ada.

Yang ia benci adalah ketika orang lain menggunakannya sebagai alasan untuk menghapus dirinya yang sekarang.

Rin membuka mata.

"Aku tidak akan ikut."

Kenji menarik napas dalam.

"Kamu tidak punya pilihan."

"Aku punya."

"Kamu masih sembilan belas tahun."

"Aku tetap manusia."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kenji terdiam.

Rin sendiri merasakan tenggorokannya bergetar setelah mengucapkannya.

Ia melanjutkan.

"Usiaku mungkin sembilan belas. Aku mungkin masih mahasiswa. Aku mungkin masih bergantung pada banyak hal. Tapi itu tidak berarti Ayah boleh menarik tubuhku ke mana pun hanya karena Ayah tidak menyukai siapa diriku."

Wajah Kenji mengeras.

"Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan."

"Aku tahu."

"Kamu sedang dalam keadaan tidak stabil."

"Mungkin."

Rin menghela napas.

"Tapi keputusan ini bukan keputusan yang kubuat malam ini."

Kalimat itu membuat Kenji berhenti.

Karena untuk pertama kalinya, Rin tidak membicarakan panggung.

Tidak membicarakan kostum.

Tidak membicarakan ECLIPSE.

Lihat selengkapnya