[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #87

Kami Sudah Tahu

Ruang istirahat kecil di belakang Osaka Grand Hall terasa terlalu sunyi setelah malam yang baru saja mereka lewati.

Pendingin ruangan berdengung pelan di atas kepala. Lampu fluoresen memantulkan warna pucat pada meja, botol air, kotak makanan yang belum disentuh, dan lima wajah yang masih membawa sisa riasan panggung. Di luar pintu, langkah kaki staf sesekali terdengar. Radio keamanan berdesis. Suara kendaraan yang menunggu di area belakang gedung samar-samar masuk melalui dinding.

Tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara.

Rin duduk di ujung sofa dengan kedua tangan saling menggenggam di antara lutut. Kostum panggungnya masih melekat di tubuh. Rambut panjang yang tadi ditata sempurna mulai sedikit berantakan di sekitar wajah. Sebagian glitter di bawah matanya telah memudar bersama air mata.

Di layar ponsel yang diletakkan terbalik di meja, dunia sedang membicarakannya.

Ren Tachibana.

Rin.

Dua nama itu kini telah menjadi berita.

Namun di ruangan ini, ia hanya ingin mengetahui satu hal.

Kenapa empat orang di depannya tidak meninggalkannya.

Aoi duduk di kursi paling dekat pintu. Punggungnya tegak, kedua tangan terlipat di dada. Mei berada di samping Yuka. Chino duduk paling ujung dengan kedua tangan menggenggam ujung lengan bajunya.

Tidak ada seorang pun yang tampak siap memulai pembicaraan.

Akhirnya Rin mengangkat kepala.

"Kenapa?"

Suara itu kecil.

Tidak ada yang menjawab.

Rin menarik napas.

"Kenapa kalian tidak kaget?"

Aoi menatapnya.

Rin melanjutkan.

"Ketika berita itu muncul. Ketika foto-foto itu tersebar. Ketika Ayah datang dan memanggilku Ren."

Ia berhenti.

"Kenapa kalian seperti sudah tahu?"

Yuka langsung menunduk.

Chino menggigit bibir.

Mei menatap Aoi.

Aoi mengembuskan napas panjang.

Kemudian ia berdiri.

"Aku akan bicara."

Rin menatapnya.

Aoi berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sofa.

"Yuka yang pertama menemukan bukti."

Rin mengerutkan dahi.

"Pada malam konser?"

"Beberapa waktu sebelumnya."

Rin membeku.

Aoi melanjutkan.

"Di Osaka. Sebelum konser."

Jantung Rin seperti kehilangan ritme.

"Kapan?"

Yuka menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Di ruang ganti."

Suaranya bergetar.

"Aku yang menemukan kartu mahasiswa itu."

Rin tidak berkedip.

Ingatan tentang hari itu muncul dengan sangat jelas.

Tas yang jatuh.

Barang-barang yang berserakan.

Kartu mahasiswa.

Wajah Ren dalam foto.

Nama yang tercetak jelas.

Tangannya sendiri yang saat itu hampir tidak mampu bergerak ketika melihat kartu tersebut.

Rin menatap Yuka.

"Kamu tahu?"

Yuka mengangguk.

Air matanya langsung jatuh.

"Iya."

"Sejak kapan?"

"Sejak sebelum konser."

Rin menelan ludah.

"Lalu..."

Suaranya tersangkut.

"Lalu kalian semua tahu?"

Aoi mengangguk.

"Setelah Yuka menemukan kartu itu, kami membicarakannya."

Mei menyambung dengan suara tenang.

"Kami tidak langsung tahu harus bagaimana."

Rin menatap mereka satu per satu.

"Aku tidak tahu."

"Kami tahu."

"Kenapa kalian tidak bilang?"

Tidak ada jawaban.

Rin berdiri terlalu cepat.

Dunia terasa bergeser sesaat.

Tangannya otomatis mencengkeram sisi meja untuk menjaga keseimbangan.

"Kenapa kalian tidak bilang?"

Kali ini suaranya lebih keras.

"Aku berbohong kepada kalian selama berbulan-bulan."

Aoi tidak bergerak.

"Aku membiarkan kalian percaya bahwa aku orang lain."

"Kami tahu."

"Aku membuat kalian percaya banyak hal yang tidak benar."

"Kami tahu."

"Aku bahkan..."

Rin berhenti.

Tenggorokannya mengencang.

"Aku bahkan membuat Chino khawatir tentang penyakit yang sebenarnya tidak pernah ada."

Chino menunduk.

Jari-jarinya mencengkeram kain rok.

Rin menatapnya.

"Maaf."

Air mata Chino jatuh.

"Aku marah."

Rin membeku.

Chino mengangkat wajah.

"Aku memang marah."

Suara gadis tujuh belas tahun itu pecah.

"Aku merasa dibohongi."

Rin menunduk.

"Aku tahu."

"Tapi..."

Chino mengusap air mata dengan cepat.

"Aku tidak pernah berpikir kamu orang jahat."

Rin menatapnya.

Chino mencoba tersenyum, tetapi bibirnya bergetar.

"Aku sempat berpikir, kenapa kamu tidak percaya kepada kami sampai segitunya?"

Ia menarik napas.

"Kenapa kamu harus membuat cerita tentang obat itu?"

Rin menutup mata.

"Karena aku takut."

"Takut sama kami?"

Rin membuka mata.

"Takut kehilangan kalian."

Chino terdiam.

"Aku pikir kalau kalian tahu siapa aku, kalian akan melihat semua yang kulakukan sebagai kebohongan."

Chino menggeleng perlahan.

"Tidak semuanya bohong."

Rin tidak menjawab.

Chino mengusap pipinya lagi.

"Kalau waktu itu aku menemukan kartu itu dan langsung membencimu, mungkin aku akan pergi."

Ia tertawa kecil di tengah tangis.

"Tapi aku malah masih ingin kamu duduk di sebelahku."

Rin merasakan dadanya sesak.

Yuka mulai menangis lebih keras.

"Aku juga merasa bersalah."

Rin menoleh.

Yuka mengusap kedua pipinya dengan telapak tangan.

"Waktu pertama kali melihat kartu itu, aku merasa seperti orang bodoh."

Ia tertawa pendek.

"Aku terus berpikir, selama ini aku tidak tahu apa-apa tentang orang yang paling sering berada di tengah kita."

Rin diam.

"Aku merasa tertipu."

Yuka menarik napas.

Lihat selengkapnya