Pagi datang tanpa memberi kesempatan kepada siapa pun untuk beristirahat.
Di luar kantor cabang Vivid Prominence di Osaka, udara masih pucat. Langit menggantung kelabu di antara gedung-gedung, sementara kendaraan media sudah memenuhi sebagian area di depan gedung sejak matahari belum sepenuhnya naik. Kamera televisi berdiri di atas tripod. Mikrofon dengan berbagai logo stasiun berita tersusun di meja. Wartawan berbicara melalui telepon sambil membaca layar tablet. Beberapa fotografer menunggu dengan lensa panjang mengarah ke pintu masuk.
Nama Rin telah menjadi berita utama sepanjang malam.
Bukan lagi sekadar tagar.
Bukan lagi sekadar rumor.
Tachibana Ren.
ECLIPSE.
Vivid Prominence.
Identitas Rin terbongkar.
Dan di antara semua itu, satu nama lain mulai muncul semakin sering.
Kazuma.
Di lantai dua kantor, ruang konferensi darurat dipenuhi kursi yang hampir semuanya telah terisi.
Ryuuto berdiri di belakang panggung kecil dengan jas hitam yang kusut di bagian bahu. Rambutnya tidak tertata seperti biasanya. Lingkaran gelap terlihat jelas di bawah matanya. Ponselnya berada di tangan kiri, tetapi sejak tadi layar itu tidak pernah benar-benar padam.
Panggilan masuk.
Pesan dari investor.
Pesan dari pemilik venue.
Pesan dari staf hukum.
Pesan dari media.
Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Ia mengabaikan semuanya.
Di depannya, meja panjang sudah dilengkapi beberapa mikrofon.
Di belakang meja itu terpampang logo Vivid Prominence.
Tidak ada logo ECLIPSE.
Ryuuto sengaja memilihnya begitu.
Ini konferensi perusahaan.
Bukan konferensi grup.
Bukan konferensi Rin.
Ia masih ingin mempertahankan sedikit kendali.
Pintu belakang terbuka.
Rin masuk bersama Aoi, Mei, Yuka, dan Chino.
Untuk pertama kalinya sejak debut, Rin tidak mengenakan pakaian panggung.
Ia mengenakan blazer sederhana berwarna gelap dengan rok panjang dan sepatu datar. Rambutnya tetap ditata sebagai Rin, tetapi riasannya jauh lebih tipis. Tidak ada senyum Center.
Tidak ada gestur yang dibuat untuk kamera.
Ia hanya berjalan.
Ketika beberapa kamera langsung mengarah kepadanya, bahunya menegang sesaat.
Klik.
Klik.
Klik.
Suara shutter terdengar bertubi-tubi.
Rin menahan napas.
Aoi berjalan di sebelahnya.
Mei berada di belakang.
Tidak ada yang menyentuh Rin, tetapi jarak mereka cukup dekat untuk membuatnya tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Mereka duduk.
Ryuuto berdiri.
"Terima kasih kepada rekan-rekan media yang sudah hadir."
Suara pertamanya terdengar serak.
Ia menunduk singkat.
"Kami memahami bahwa situasi yang terjadi setelah konser ECLIPSE di Osaka menimbulkan banyak pertanyaan."
Kamera bergerak.
Seorang reporter sudah mengangkat tangan sebelum Ryuuto selesai berbicara.
Ryuuto melanjutkan.
"Vivid Prominence menyesalkan penyebaran informasi pribadi salah satu artis kami secara tidak bertanggung jawab."
Ia berhenti sebentar.
"Kami juga ingin menegaskan bahwa keselamatan dan privasi artis merupakan prioritas perusahaan."
Kalimat itu terdengar rapi.
Terlalu rapi.
Rin menatap meja.
Tangannya berada di atas paha.
Jari telunjuknya mengetuk perlahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mengenali pola itu.
Ryuuto sedang membangun narasi.
Bukan menjelaskan apa yang terjadi.
Membangun sesuatu yang bisa bertahan di depan kamera.
"Ketika Rin bergabung dengan Vivid Prominence," lanjut Ryuuto, "perusahaan tidak mengetahui sepenuhnya seluruh latar belakang pribadi yang bersangkutan."
Kamera kembali berbunyi.
Rin mengangkat mata.
Seorang reporter langsung berdiri.
"Saeki-san."
Ryuuto menunjuknya.
"Silakan."
"Anda mengatakan perusahaan tidak mengetahui sepenuhnya latar belakang Rin ketika kontrak ditandatangani?"
"Benar."
"Namun berdasarkan informasi yang beredar, Anda mengetahui identitas Tachibana Ren sebelum skandal ini meledak."
Ryuuto terdiam.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi kamera menangkapnya.
"Vivid Prominence memiliki kewajiban untuk melindungi informasi pribadi artis."
Reporter itu tidak duduk.
"Itu bukan jawaban."
Ruangan mulai gaduh.
"Apakah Anda mengetahui bahwa Rin adalah Tachibana Ren?"
"Kapan Anda mengetahuinya?"
"Apakah identitas tersebut dicatat dalam dokumen kontrak?"
"Apakah agensi menyembunyikan informasi itu dari investor?"
Ryuuto mengangkat tangan.
"Satu per satu."
Seorang wartawan lain langsung menyela.
"Apakah benar Anda pernah bertemu seseorang bernama Kazuma terkait informasi mengenai Rin?"
Wajah Ryuuto berubah.
Rin melihatnya.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup.