Tokyo, 13.18.
Hujan yang turun sejak pagi meninggalkan garis-garis air di jendela lantai sebelas sebuah gedung perkantoran di Chiyoda. Dari balik kaca, kota tampak seperti lukisan yang dikerjakan dengan warna kelabu. Kendaraan bergerak lambat di persimpangan, payung-payung hitam mengalir di trotoar, dan papan iklan raksasa di gedung seberang tetap menampilkan wajah-wajah selebritas dengan senyum sempurna seolah tidak ada seorang pun di kota itu yang sedang kehilangan hidupnya.
Rin duduk di ruang tunggu sebuah firma hukum dengan kedua tangan bertaut di atas lutut. Rambut panjangnya telah disisir rapi, tetapi ia tidak mengenakan riasan panggung. Sebuah topi gelap menutupi sebagian dahinya, sementara masker putih menggantung di bawah dagu karena udara di dalam ruangan terasa terlalu pengap untuk bernapas dengan nyaman. Ia mengenakan blus berwarna gading di bawah mantel abu-abu panjang, dipadukan dengan rok hitam sederhana. Pakaian itu cukup untuk membuatnya merasa seperti dirinya sendiri tanpa menarik perhatian berlebihan, meskipun hari ini tidak ada pakaian yang benar-benar bisa menyembunyikannya dari dunia.
Di layar ponselnya, namanya muncul ribuan kali.
Rin. Ren Tachibana. Fake Idol.
Beberapa unggahan menggunakan foto panggungnya. Sebagian lain memakai foto kartu mahasiswa yang telah disebarkan Kazuma, mempertemukan dua citra yang selama ini ia pisahkan dengan susah payah. Ada pula foto buram dirinya di depan gedung fakultas kedokteran, foto ketika memasuki kantor Vivid Prominence, serta potongan gambar dari malam ketika para paparazzi mengepung hotel di Nagoya.
Ia mematikan layar.
Tidak ada gunanya membaca semuanya lagi. Setiap kali jempolnya menggulir, ia hanya menemukan variasi baru dari pertanyaan yang sama, seolah ribuan orang merasa berhak memperoleh jawaban karena mereka telah membeli tiket konser, mengikuti akun resmi, atau menyukai wajahnya di layar.
Di sampingnya, Aoi duduk tegak dengan sebuah map tebal di pangkuan. Rambut hitamnya diikat sederhana, tanpa aksesori yang biasa dikenakannya saat tampil. Sejak tiba di gedung itu, ia hanya berbicara seperlunya. Namun, setiap kali pintu lift terbuka dan seseorang melangkah keluar, matanya bergerak sekilas ke arah koridor, memastikan tidak ada kerumunan wartawan yang berhasil mengikuti mereka.
Mei berada di sisi lain Rin. Ia memegang tas berisi dokumen dan sebotol teh hangat yang dibelinya di lantai bawah. Beberapa kali ia menawarkan minuman itu, tetapi Rin baru menerimanya setelah Mei membuka tutup botol dan meletakkannya tepat di dekat tangannya.
"Minum sedikit," kata Mei.
Rin menatap botol tersebut. "Aku tidak haus."
"Aku tidak bertanya apakah kau haus."
Mei tidak mengatakannya dengan nada menggurui. Ia hanya mengangkat alis, kemudian menyodorkan botol itu sedikit lebih dekat. Ketika Rin akhirnya menerimanya, Mei kembali menghadap ke depan tanpa meminta ucapan terima kasih.
Kehangatan teh merambat perlahan ke telapak tangan Rin. Baru saat itulah ia menyadari betapa dingin jari-jarinya.
Di seberang mereka, Shizuka Tachibana berdiri dekat jendela. Perempuan berusia empat puluh delapan tahun itu mengenakan mantel krem yang masih menyimpan titik-titik air hujan di bagian bahu. Rambutnya disanggul rendah, rapi seperti biasanya, tetapi beberapa helai terlepas di dekat telinga. Ia telah memeriksa ponselnya berkali-kali sejak mereka tiba. Tidak ada panggilan dari suaminya yang ia jawab.
Pada panggilan terakhir, nama Kenji memenuhi layar selama hampir dua puluh detik sebelum akhirnya berhenti sendiri.
Shizuka tidak menghapus notifikasinya. Ia hanya membalikkan ponsel, meletakkannya di atas ambang jendela, lalu mengatupkan kedua tangan di depan perut.
"Apakah Ayah tahu kita berada di sini?" tanya Rin.
Shizuka menoleh.
"Dia tahu aku pergi ke Tokyo. Aku mengatakan bahwa aku perlu menemui seseorang." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Aku tidak memberitahunya siapa."
Rin mengamati wajah ibunya. "Dia akan mencari tahu."
"Aku tahu."
"Dia mungkin akan mengatakan bahwa Ibu mempermalukan keluarga."
Shizuka menarik napas perlahan. Tatapannya jatuh pada pantulan wajahnya sendiri di kaca.
"Dia sudah mengatakan itu sejak kamu masih kecil, hanya dengan kata-kata yang berbeda."
Rin tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang berubah dalam cara ibunya mengucapkan kalimat tersebut. Tidak ada pembelaan untuk Kenji, tidak ada usaha mengubah kekejaman menjadi kesalahpahaman yang dapat diterima, dan tidak ada permintaan agar Rin memaklumi ayahnya demi menjaga ketenangan keluarga.
Namun, satu kalimat tidak menghapus puluhan tahun kepatuhan.
Rin tahu itu. Shizuka pun mungkin tahu bahwa anaknya belum mampu mempercayai perubahan tersebut sepenuhnya.
Pintu ruang konsultasi terbuka.
Seorang perempuan berambut sebahu muncul dengan tablet tipis di tangan. Setelan jasnya berwarna biru gelap, potongannya sederhana, tanpa perhiasan mencolok selain jam tangan perak. Wajahnya tidak memperlihatkan keramahan berlebihan, tetapi juga tidak memiliki kekakuan yang membuat orang merasa sedang diinterogasi.
"Saeki-san? Tachibana-san?" Ia memeriksa catatan di tabletnya, lalu menundukkan kepala ringan. "Saya Eri Takagi. Terima kasih sudah menunggu. Ruang konsultasi kita sudah siap."
Rin berdiri terlalu cepat. Pandangannya sempat menggelap selama sepersekian detik, membuatnya harus menahan tepi kursi.
Aoi langsung bangkit. "Rin?"
"Aku tidak apa-apa."
Jawaban itu keluar terlalu cepat, hampir otomatis. Rin melepaskan kursi, merapikan ujung mantel, lalu mengangkat dagu. Ia tidak ingin memasuki ruang konsultasi pertama mereka sebagai seseorang yang harus ditopang hanya untuk berjalan beberapa meter.
Eri melihat gerakan itu, tetapi tidak memberikan komentar.
"Silakan ikut saya."
Ruang konsultasi itu tidak besar. Sebuah meja oval mendominasi bagian tengah, dikelilingi lima kursi dengan sandaran kulit gelap. Di salah satu dinding terdapat rak dokumen dan jam analog yang berdetak hampir tanpa suara. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan bau kertas, kayu, dan pendingin ruangan. Tidak ada lambang negara, palu hakim, atau simbol keadilan yang dramatis. Hanya ruangan profesional dengan lampu putih dan tempat untuk meletakkan bukti.
Justru kesederhanaan itulah yang membuat Rin merasa aneh.
Selama bertahun-tahun, ia menganggap bahwa untuk melindungi kehidupannya, ia harus selalu menjadi orang paling siap di ruangan mana pun. Ia harus mengetahui siapa yang mungkin datang, kebohongan apa yang perlu disiapkan, benda apa yang perlu disembunyikan, dan bagian mana dari dirinya yang harus ditampilkan agar orang lain tidak melihat terlalu jauh.
Di sini, ia diminta duduk dan menjelaskan apa yang terjadi.
Seolah-olah kebenaran dapat disusun menjadi sesuatu yang bisa dibaca orang lain tanpa harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya.
Eri mempersilakan mereka duduk, lalu meletakkan tabletnya di atas meja.
"Sebelum mulai, saya ingin menetapkan satu hal. Pertemuan hari ini bukan untuk menentukan apakah identitas Rin benar atau salah. Saya juga tidak akan menilai apakah kehidupan pribadi klien saya sesuai dengan harapan keluarga, agensi, atau publik." Ia memandang Rin secara langsung. "Tugas saya adalah memahami peristiwa yang Anda laporkan, menilai pilihan hukum yang tersedia, dan membantu Anda menentukan langkah yang masuk akal."
Rin merapatkan jemarinya di sekitar botol teh.
"Termasuk jika ada bagian dari peristiwa itu yang justru membuat saya terlihat bersalah?"
"Terutama jika ada bagian seperti itu."
Jawaban Eri datang tanpa jeda.
Aoi mengalihkan pandangan kepadanya. Mei berhenti membuka tas. Shizuka perlahan menarik kursinya.
Eri melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya. "Saya tidak bisa menjanjikan bahwa semua tindakan Anda akan terlihat baik di mata hukum. Saya juga tidak akan menyuruh Anda menyembunyikan fakta yang relevan hanya karena fakta itu tidak menguntungkan. Namun, kita perlu membedakan antara sesuatu yang memalukan menurut masyarakat dan sesuatu yang memiliki konsekuensi hukum. Keduanya bukan hal yang sama."
Rin menatap perempuan itu beberapa detik lebih lama.
Kemudian ia mengangguk.
"Baik."
Eri membuka halaman pertama pada tabletnya. "Mari kita mulai dari hal yang paling mendesak. Penyebaran foto, ancaman, dan komunikasi yang Anda terima. Setelah itu, kita akan membahas tindakan orang-orang yang berada di sekitar Anda sebelum skandal ini muncul."
Ia memandang Rin.
"Apakah Anda masih menyimpan pesan asli dari orang yang mengancam Anda?"
"Sebagian besar."
"Sebagian besar?"
"Ada beberapa pesan yang hanya muncul sebagai notifikasi. Saya tidak sempat menyimpan semuanya. Beberapa panggilan juga masuk dari nomor yang tidak dikenal."
"Apakah Anda menghapus pesan yang lain?"
Rin menggeleng. "Tidak. Saya berhenti membukanya setelah situasinya memburuk. Saya masih punya sebagian riwayatnya."
"Bagus. Jangan menghapus apa pun lagi. Jangan membalas ancaman, jangan mencoba memancing pengirimnya, dan jangan menghubungi orang yang Anda curigai untuk meminta pengakuan. Kita perlu menjaga bukti yang sudah ada, bukan menciptakan percakapan baru yang kemudian sulit ditafsirkan."
Eri meminta izin sebelum melihat perangkat Rin. Setelah Rin menyetujuinya, mereka mulai memeriksa satu per satu bahan yang tersimpan.
Unggahan Kazuma menjadi bagian pertama.
Di layar tablet, foto Rin di atas panggung berdampingan dengan foto Ren mengenakan jaket mahasiswa. Sudut pengambilannya berbeda, tetapi kesamaan wajah dan bentuk mata terlihat jelas. Di bawahnya, terdapat tangkapan layar unggahan anonim yang menyebut Rin sebagai pembohong dan menuduh agensinya membangun karier menggunakan identitas palsu.
Beberapa komentar memuat hinaan. Yang lain menyusun teori tentang riwayat sekolahnya, keluarga Tachibana, hingga dugaan bahwa seluruh penampilan ECLIPSE merupakan bagian dari penipuan.
Eri tidak membaca komentar itu dengan suara keras. Ia mencatat tanggal, nama akun yang terlihat, alamat unggahan yang tersimpan, serta konteks ketika materi tersebut pertama kali ditemukan.
"Apakah akun ini milik Kazuma?" tanyanya.
"Saya tidak bisa memastikan semuanya," jawab Rin. "Ada unggahan yang menggunakan akun anonim. Namun, beberapa foto yang muncul di sana hanya pernah saya lihat sebelumnya dalam situasi yang melibatkan dia."
"Situasi seperti apa?"
Rin mengusap ibu jari di sisi botol. Kulit di sekitar kukunya memutih akibat tekanan.
"Dia datang ke acara temu penggemar. Dia membeli banyak tiket dan berkali-kali datang ke meja saya. Pertanyaannya bukan lagi tentang musik atau penampilan. Dia ingin tahu jadwal saya, tempat saya belajar, dan hal-hal pribadi yang tidak pernah saya umumkan."
"Apakah Anda pernah memberikan informasi itu kepadanya?"
"Tidak dengan sengaja."
Eri mengangkat wajah. "Saya membutuhkan jawaban yang lebih tepat daripada itu."
Rin terdiam.
Kalimat tersebut tidak terdengar seperti tuduhan, tetapi memaksanya menelusuri kembali percakapan yang selama ini ia singkirkan dari ingatan. Ada pertanyaan yang dijawabnya secara refleks, ada komentar yang ia tanggapi karena ingin mempertahankan kesan ramah, dan ada momen ketika ia menganggap pengetahuan seorang penggemar tentang kebiasaannya sebagai sesuatu yang menjengkelkan, tetapi belum cukup berbahaya untuk dilaporkan.
"Saya pernah mengatakan bahwa saya sedang sibuk dengan kegiatan kampus," jawabnya akhirnya. "Saya juga pernah menyebut bahwa jadwal kami padat karena tur. Saya tidak memberikan alamat tempat tinggal atau jadwal pribadi secara langsung. Tetapi, saya tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak pernah mendapat informasi apa pun dari percakapan kami."
Eri mengetik catatan.
"Baik. Kita tidak perlu menyimpulkan sesuatu yang belum terbukti. Kita perlu mengetahui apa yang benar-benar Anda katakan dan apa yang kemudian dilakukan orang itu dengan informasi yang mungkin diperolehnya."
Rin mengangguk. Ada sedikit rasa malu yang bergerak di bawah tulang rusuknya. Selama ini, ia ingin menemukan satu kesalahan yang jelas pada Kazuma, sesuatu yang membuat semua ketakutannya tampak sepenuhnya sah tanpa meninggalkan ruang bagi pertanyaan lain. Namun, kenyataan tidak pernah serapi itu. Ia bisa saja pernah bersikap terlalu ramah, salah membaca situasi, atau meremehkan seseorang. Tidak satu pun dari hal itu otomatis memberikan hak kepada orang lain untuk menguntit atau mengancamnya.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa membela diri tidak mengharuskannya menjadi korban yang sempurna.
Eri beralih ke bahan berikutnya.
Sebuah email pemerasan.
Tanggal pengirimannya tercatat beberapa hari setelah foto-foto Ren dan Rin mulai beredar secara anonim. Isinya singkat, tetapi tuntutannya jelas. Uang dalam jumlah besar harus dibayarkan dalam tenggat yang ditentukan. Jika tidak, seluruh materi akan disebarkan kepada publik, termasuk informasi pribadi yang dapat menghubungkan Rin dengan keluarga dan universitasnya.
Rin mengenali kalimat-kalimat itu.
Bukan karena ia pernah membaca email tersebut secara langsung ketika pertama kali dikirimkan, melainkan karena beberapa bagian telah diperlihatkan kepadanya setelah semuanya terlambat. Ryuuto pernah menyebut ancaman yang diterima agensi, tetapi pada saat itu ia tidak mengetahui keseluruhan tuntutannya. Ia hanya diberi cukup informasi untuk memahami bahwa seseorang sedang mengincarnya.
"Apakah ini email yang sama dengan yang diterima pihak agensi?" tanya Eri.
"Saya tidak menerima salinan aslinya. Saya melihat sebagian isinya setelah masalah ini berkembang."
"Siapa yang memperlihatkannya?"
Rin mengatupkan bibir sejenak.
"Ryuuto Saeki."
Aoi bergerak sedikit di kursinya. Ia tidak menyela, tetapi tatapannya beralih kepada Rin.
Eri mencatat nama itu.
"Apakah Anda tahu kapan dia pertama kali menerima ancaman tersebut?"
"Tidak secara pasti."
"Apakah dia memberi tahu Anda tentang pemerasan sebelum foto-foto itu dipublikasikan?"
"Dia tidak memberi tahu saya semuanya. Dia mengatakan ada masalah yang sedang ditangani dan saya tidak perlu ikut campur."
Rin menatap layar. Email itu tidak hanya berisi ancaman terhadap reputasinya. Di dalamnya terdapat sebuah kenyataan lain yang selama ini tidak ingin ia hadapi, yaitu bahwa orang yang mengaku melindunginya mungkin telah menyimpan informasi tentang bahaya yang mengancamnya tanpa memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.
"Apakah Anda pernah mendengar Ryuuto berbicara langsung dengan Kazuma?" tanya Eri.
"Ya."
"Kapan?"
Rin menarik napas. "Sebelum identitas saya terbongkar sepenuhnya. Saya tidak mengetahui seluruh isi percakapan mereka, tetapi setelah beberapa kejadian, saya mulai memahami bahwa Ryuuto mengetahui lebih banyak daripada yang dia katakan kepada saya."
Eri meletakkan tabletnya.
"Kita akan kembali ke sana. Sebelum itu, saya ingin memeriksa dokumentasi paparazzi."
Mei membuka map yang dibawanya. Di dalamnya terdapat salinan artikel tabloid, cetakan foto, serta beberapa tangkapan layar dari berita daring. Sebagian gambar memperlihatkan Rin berjalan keluar dari gedung agensi. Sebagian lain menunjukkan Ren di sekitar kampus. Tidak semua foto tampak melanggar batas yang sama, dan Eri berhati-hati agar mereka tidak mencampuradukkan peliputan publik dengan tindakan yang mungkin mengandung unsur penguntitan atau pelanggaran privasi.
"Foto-foto ini diterbitkan oleh media berbeda," jelas Mei. "Kami belum tahu apakah mereka mendapatkan bahan dari sumber yang sama."
Eri memeriksa satu halaman, kemudian halaman berikutnya.
"Jangan berasumsi bahwa semua media bekerja bersama. Kita perlu melihat siapa yang mengambil foto, siapa yang menerbitkan, dan apakah ada bukti bahwa seseorang memperoleh materi melalui tindakan melawan hukum. Foto di tempat umum, foto dari ruang privat, dan dokumen pribadi yang disebarkan tanpa izin bisa menimbulkan persoalan yang berbeda."
Ia menunjuk beberapa gambar yang memperlihatkan Rin berjalan menuju stasiun.
"Apakah Anda pernah mengetahui keberadaan fotografer ini sebelum gambar tersebut terbit?"
"Pada beberapa kesempatan, saya melihat kilatan lensa," jawab Rin. "Saya tidak selalu tahu siapa yang memotret."
"Apakah ada ancaman yang disampaikan langsung oleh fotografer?"
"Tidak."
"Baik. Kita catat apa yang Anda lihat, bukan apa yang kita duga."
Kalimat itu kembali terdengar sederhana, tetapi Rin mulai menyadari bahwa kesederhanaan tersebut menuntut disiplin yang selama ini tidak pernah ia gunakan untuk menghadapi ketakutannya sendiri. Ia terbiasa merangkai kebohongan dengan cepat, mengantisipasi pertanyaan, dan menyusun jawaban yang dapat menutup percakapan. Kini, ia diminta melakukan kebalikannya. Mengakui batas pengetahuannya. Menyebut apa yang tidak ia ketahui. Membiarkan beberapa bagian tetap terbuka sampai ada bukti yang dapat menjelaskannya.
Eri mengumpulkan dokumen yang telah diperiksa ke dalam beberapa kategori terpisah. Unggahan dan ancaman Kazuma berada dalam satu berkas. Dokumentasi paparazzi berada di berkas lain. Riwayat komunikasi dengan agensi ditempatkan terpisah dari keduanya.
"Ini belum menjadi berkas perkara yang selesai," katanya. "Kita sedang membangun kronologi awal. Saya ingin memastikan bahwa tidak ada yang tercampur hanya karena semua peristiwa ini berkaitan dengan identitas Anda."
Rin memandang tumpukan dokumen itu.
Selama berbulan-bulan, semuanya terasa seperti satu ancaman raksasa yang tidak memiliki tepi. Foto, pesan, suara, nama keluarga, panggung, universitas, dan masa depannya bercampur menjadi satu hingga ia tidak tahu bagian mana yang harus diselamatkan terlebih dahulu.
Di meja ini, masalah-masalah itu mulai memperoleh batas.
Batas yang mungkin bisa digunakan untuk melawannya, tetapi juga bisa digunakan untuk melindunginya.
Menjelang pukul tiga, Eri meminta Rin menceritakan hubungan profesionalnya dengan Ryuuto dari awal.
"Mulai dari pertemuan pertama," katanya. "Saya ingin tahu kapan dia mengetahui nama Ren Tachibana, kapan dia mengetahui bahwa Anda menggunakan nama Rin, dan kapan dia mulai memiliki alasan untuk mengendalikan keputusan pribadi Anda."
Rin tidak segera menjawab.
Ia melihat pantulan dirinya di permukaan gelap layar tablet. Tanpa riasan, tanpa lampu panggung, dan tanpa senyum yang biasa ia gunakan di hadapan kamera, wajah itu tampak lebih muda daripada yang ia rasakan. Ada bayangan kelelahan di bawah matanya. Sudut bibirnya kering. Rambut yang terlepas dari topi menyentuh pipinya setiap kali ia menoleh.
Ia telah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk memastikan bahwa tidak seorang pun dapat menyatukan Ren dan Rin. Sekarang, ia harus menghubungkan keduanya dengan kata-kata.
"Ryuuto mengetahui identitas saya jauh lebih awal daripada yang saya kira," katanya.
"Seberapa awal?"
"Sejak saya pertama kali datang ke Vivid Prominence."
Aoi menoleh kepadanya. Mei tidak bergerak.
Eri menggeser tabletnya ke samping. "Silakan lanjutkan."
Rin menaruh botol teh di atas meja. Telapak tangannya masih sedikit lembap, tetapi ia memaksa jemarinya terbuka.
"Saya datang ke agensi untuk mengikuti audisi. Saat itu, saya sudah menggunakan nama Rin dalam kehidupan yang tidak berhubungan dengan kampus. Saya tahu penampilan saya berbeda dari identitas yang tercatat di dokumen, tetapi saya mengira saya masih bisa mengendalikan batas antara keduanya. Saya membawa dokumen yang diminta, mengikuti prosedur audisi, dan menjelaskan kemampuan saya. Saya tidak datang dengan niat menipu agensi mengenai pekerjaan yang bisa saya lakukan."
Ia berhenti untuk mengatur napas.
"Ryuuto meminta beberapa dokumen tambahan. Saya tidak tahu apakah dia sudah curiga ketika itu. Namun, setelah audisi, dia memanggil saya untuk berbicara secara pribadi. Dia menyebut nama Tachibana dan menanyakan apakah saya memiliki hubungan dengan keluarga yang dikenal di bidang medis."
Eri mencatat sesuatu.
"Apakah Anda menjawab?"
"Saya mengatakan bahwa saya tidak ingin membahas keluarga saya dalam urusan pekerjaan."
"Apakah dia menerima jawaban itu?"
Rin tersenyum tipis, tanpa kegembiraan.
"Tidak. Dia mengatakan bahwa masa lalu seorang idol bisa menjadi masalah bagi agensi. Dia tidak menyebutnya ancaman. Belum."
Ingatan itu kembali dengan kejelasan yang tidak menyenangkan. Kantor kecil Vivid Prominence. Tirai yang tidak sepenuhnya menutup jendela. Cahaya sore yang jatuh pada meja berantakan. Ryuuto yang duduk santai seolah sedang menawarkan kesempatan besar, bukan sedang menguji seberapa jauh ia bisa memasuki kehidupan seseorang.
"Setelah saya diterima, dia mulai mengatur hal-hal yang awalnya tampak seperti bagian normal dari pekerjaan. Jadwal, pakaian, cara menjawab wawancara, dan bagaimana saya harus berbicara di depan kamera. Sebagian memang wajar untuk seorang produser. Saya tidak menganggap semua instruksinya sebagai sesuatu yang buruk."
"Pada titik mana Anda mulai merasa ada masalah?"
Rin menunduk sejenak. "Ketika dia mulai berbicara seolah-olah dia mengenal Ren, bukan hanya Rin."
Eri berhenti mengetik.