Tokyo, 11.06.
Lorong klinik itu terlalu putih.
Bukan putih panggung dengan sorot lampu yang membuat wajah terlihat lebih halus, melainkan putih datar yang memantulkan cahaya dari lampu langit-langit ke lantai vinil. Bau disinfektan tipis bercampur dengan aroma kopi dari mesin minuman di ujung koridor. Di balik pintu-pintu tertutup, terdengar suara roda troli, langkah sepatu perawat, dan sesekali bunyi monitor yang pendek.
Rin duduk di kursi dekat jendela dengan kedua tangan diletakkan di atas tas.
Ia telah mengunjungi rumah sakit berkali-kali sebagai mahasiswa kedokteran. Ia tahu bagaimana sistem bekerja. Ia tahu bagaimana pasien dipanggil, bagaimana riwayat penyakit dicatat, bagaimana dokter menentukan pemeriksaan lanjutan, bagaimana sebuah tubuh dapat berubah menjadi rangkaian angka dan istilah dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Justru karena mengetahui semuanya, ia semakin gugup.
Di dalam tasnya terdapat catatan pribadi mengenai terapi hormon yang selama berbulan-bulan ia jalani tanpa pengawasan. Tidak semuanya lengkap. Beberapa catatan hanya berupa tanggal yang ditulis terburu-buru. Sebagian lainnya tersimpan dalam ponsel. Ada periode ketika ia tidak mencatat sama sekali karena takut seseorang menemukan jejaknya.
Di sampingnya, Shizuka duduk dengan kedua tangan terlipat di pangkuan.
"Kita masih bisa pergi kalau kamu belum siap."
Rin menoleh.
"Aku sudah sampai di sini."
"Itu bukan jawaban."
Rin menunduk. Sudut mulutnya bergerak sedikit, tetapi senyum itu tidak benar-benar terbentuk.
"Ibu akan tetap di sini?"
"Kalau kamu mau."
Rin mengangguk.
Itulah satu-satunya jawaban yang sanggup ia berikan.
Di seberang koridor, sebuah pintu terbuka.
"Saudari Tachibana?"
Rin mengangkat kepala.
Seorang perawat berdiri di ambang pintu sambil memegang tablet.
"Dokter Mizuno sudah siap."
Jantung Rin berdetak sekali lebih keras.
Ia berdiri, merapikan ujung blusnya, lalu memastikan rambut yang jatuh ke sisi wajahnya tidak menutupi pandangan. Gerakan itu sangat kecil, hampir otomatis. Namun, Shizuka melihatnya.
"Kamu gugup."
"Aku tahu."
"Kamu tidak perlu terlihat sempurna."
Rin menatap ibunya sebentar.
"Aku tahu."
Kali ini, jawabannya terdengar lebih lembut.
Mereka berjalan masuk.
Ruang konsultasi Dr. Haruto Mizuno jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan Rin.
Tidak ada poster besar mengenai anatomi atau grafik hormon yang memenuhi dinding. Hanya meja kerja, dua kursi pasien, satu kursi tambahan, komputer, lemari berisi berkas, dan sebuah model anatomi kecil di sudut rak. Di atas meja terdapat stetoskop yang diletakkan begitu saja di samping keyboard.
Seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun duduk di belakang meja. Rambutnya pendek dan sedikit berantakan di bagian depan, seolah ia sudah beberapa kali menyisirnya dengan tangan sepanjang pagi. Jas putihnya tidak dikancingkan.
Ia berdiri ketika Rin dan Shizuka masuk.
"Silakan duduk."
Suaranya rendah, tetapi tidak berat. Tidak ada nada formal berlebihan yang membuat pasien merasa sedang menghadapi pejabat.
Rin duduk.
Shizuka mengambil kursi di sebelahnya.
Dr. Mizuno memeriksa data di layar, kemudian memandang Rin.
"Sebelum kita mulai, saya ingin memastikan bagaimana Anda ingin dipanggil."
Rin terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, sesuatu di dalam dadanya seakan berhenti.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa memperkenalkan diri dengan dua cara yang berbeda. Di kampus, nama Ren keluar dari mulutnya dengan otomatis. Di panggung, Rin datang bersama cahaya, musik, dan sorak penonton. Tetapi di ruang medis, ia selalu menjadi Ren.
Nama di kartu mahasiswa.
Nama di rekam akademik.
Nama pada dokumen keluarga.
Nama yang tercetak di setiap tempat yang secara resmi menyatakan bahwa ia ada.
Ia menelan ludah.
"Rin."
Suaranya keluar pelan.
Dr. Mizuno menunggu.
Rin merasakan telapak tangannya mulai lembap.
"Nama saya Rin."
Tidak ada perubahan pada ekspresi dokter itu.
"Baik, Rin-san."
Hanya itu.
Tidak ada alis terangkat. Tidak ada jeda aneh. Tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus menjelaskan mengapa nama itu berbeda dengan dokumen yang dibawa.
Rin mengembuskan napas yang baru disadarinya tertahan.
Dr. Mizuno melihat sekilas ke layar.
"Untuk keperluan administrasi, saya tetap perlu menggunakan nama yang tercantum dalam dokumen resmi Anda. Tetapi selama konsultasi, saya akan menggunakan nama yang Anda minta. Apakah itu nyaman?"
Rin mengangguk.
"Ya."
"Kalau ada bagian dari proses administrasi yang membuat Anda tidak nyaman, beri tahu saya. Kita pisahkan kebutuhan administratif dari cara saya memperlakukan Anda sebagai pasien."
Kalimat itu masuk perlahan.
Bukan seperti pujian.
Bukan pula seperti pembelaan.
Hanya sebuah aturan kerja.
Dan justru karena itu, Rin merasa lebih aman.
Dr. Mizuno membuka berkas.
"Saya sudah menerima informasi bahwa Anda datang setelah mengalami penghentian terapi hormon secara mendadak. Saya ingin mendengar semuanya langsung dari Anda. Tidak perlu membuat ceritanya terlihat baik."
Rin menatap meja.
"Semuanya?"
"Yang Anda ingat dan yang menurut Anda relevan. Jika ada bagian yang tidak Anda ketahui atau tidak Anda ingat, katakan saja tidak tahu."
Rin mengangguk.
Dokter itu menunggu.
Akhirnya Rin mulai berbicara.
"Saya mulai menggunakan estradiol secara mandiri beberapa bulan sebelum datang ke sini."
Shizuka tidak bergerak.
Rin tahu ibunya sudah mengetahui sebagian. Tetapi mengatakannya di depan dokter membuat pengakuan tersebut terasa berbeda.
"Saya tidak berada dalam pengawasan dokter saat memulainya."
Dr. Mizuno mengangguk kecil.
"Kenapa?"
Pertanyaan itu tidak disampaikan dengan nada menuduh.
Rin tetap menunduk.
"Karena saya takut."
"Takut pada efek samping?"
"Takut diketahui."
Dr. Mizuno tidak langsung bertanya lagi.
Rin mengusap ujung jarinya.
"Saya berasal dari keluarga yang sangat menolak kemungkinan bahwa saya bisa hidup sebagai perempuan. Saya mahasiswa kedokteran. Saya tahu saya seharusnya mencari bantuan medis. Saya tahu apa risikonya kalau saya melakukannya sendiri. Tetapi saat itu..." Ia berhenti. "Saya merasa kalau saya menunggu izin dari orang lain, saya mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menjadi diri saya sendiri."
Shizuka menunduk.
Rin melihatnya dari sudut mata.
Tidak ada interupsi.
Ia melanjutkan.