[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #91

Tubuhku Bukan Barang Bukti

Siang di apartemen sementara ECLIPSE seharusnya menjadi waktu istirahat.

Tidak ada jadwal pemotretan. Tidak ada latihan vokal. Tidak ada wawancara yang harus dihadiri. Setelah dua hari yang terasa seperti hidup di bawah sorotan lampu tanpa pernah benar-benar mematikan panggung, agensi untuk sementara membatalkan seluruh kegiatan publik mereka.

Namun ketenangan itu hanya berlaku untuk ruangan.

Di luar sana, nama Rin masih bergerak.

Ponsel di tangan Rin bergetar lagi.

Satu notifikasi.

Kemudian dua.

Kemudian belasan.

Layar yang sejak tadi ia tatap menampilkan potongan-potongan berita, unggahan ulang, komentar anonim, tangkapan layar dari forum, dan video analisis yang dibuat orang-orang yang bahkan tidak pernah berbicara dengannya.

Judul sebuah artikel muncul paling atas.

"Tubuh Rin Jadi Kunci Terbongkarnya Identitas Sebenarnya?"

Rin menelan ludah.

Jempolnya bergerak turun.

Foto dirinya dari sebuah pemotretan musim dingin muncul.

Seseorang memperbesar bagian bahunya.

Komentar pertama mengatakan bentuk tubuh Rin terlihat "terlalu berbeda" dari perempuan lain di grup.

Komentar kedua memperdebatkan suaranya.

Komentar ketiga membandingkan foto lama dan baru.

Komentar keempat membicarakan dokumen yang sudah tersebar.

Komentar kelima bertanya apakah perubahan tubuhnya merupakan hasil operasi.

Komentar keenam bertanya apakah ia pernah menjalani pemeriksaan tertentu.

Komentar ketujuh mengatakan bahwa selama Rin tidak menunjukkan bukti medis, semua orang berhak curiga.

Jempol Rin berhenti.

Ia membaca kalimat itu dua kali.

Berhak.

Kata itu terasa lebih mengganggu daripada hinaan.

Ia meletakkan ponsel di paha, lalu mengambilnya lagi.

Entah kenapa.

Seolah jawaban berikutnya mungkin akan membuat semuanya masuk akal.

Layar bergeser.

Sebuah unggahan baru.

"Lihat bentuk tangannya. Jelas bukan perempuan sejak lahir."

Rin menatap tangannya sendiri.

Jari-jarinya terletak di atas selimut tipis yang menutupi lutut. Kukunya masih menyisakan lapisan bening dari pemotretan dua hari lalu. Ada garis kecil di dekat ibu jari akibat terlalu sering memegang pena ketika belajar.

Tangan itu adalah tangannya.

Tangan yang pernah memegang skalpel latihan di laboratorium.

Tangan yang menggenggam mikrofon.

Tangan yang gemetar ketika Kenji memanggilnya Ren di depan ribuan orang.

Tangan yang memegang tangan Chino ketika gadis itu ketakutan.

Tangan yang menulis catatan kuliah pada dini hari.

Namun di layar, tangan itu telah berubah menjadi bukti.

Rin menarik napas.

Pelan.

Lalu membuka komentar berikutnya.

"Suara laki-lakinya sempat terdengar saat live."

"Kalau benar perempuan, kenapa suaranya begitu?"

"Dokumennya jelas."

"Kalau yakin dengan identitasnya, kenapa tidak tunjukkan bukti medis?"

Rin berhenti bernapas selama beberapa detik.

Bukan karena ia terkejut.

Justru karena semua kalimat itu mulai terdengar sama.

Tubuh.

Suara.

Dokumen.

Foto.

Bukti.

Seolah setiap bagian dari dirinya dapat diletakkan di atas meja, diberi nomor, difoto dari berbagai sudut, lalu diperdebatkan oleh orang-orang yang tidak mengenalnya.

Ia menatap bayangannya sendiri pada permukaan hitam di antara dua halaman yang sedang dimuat.

Wajah Rin muncul samar.

Rambut panjang.

Mata yang sudah terbiasa dengan kamera.

Bibir yang masih memiliki sedikit warna merah muda.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak skandal itu pecah, Rin tidak melihat dirinya sebagai Rin.

Ia melihat sebuah objek.

Sebuah gambar yang sedang dinilai.

Sebuah tubuh yang sedang diperiksa.

Sebuah teka-teki yang menurut internet harus diselesaikan.

Ponsel itu kembali bergetar.

Rin membuka pesan berikutnya.

Seseorang menulis bahwa jika ia benar-benar tidak menyembunyikan apa pun, ia seharusnya berani memperlihatkan dirinya tanpa pakaian.

Jari Rin langsung membeku.

Dada terasa sempit.

Udara yang tadi masuk dengan mudah tiba-tiba berhenti di tenggorokan.

Ia menutup layar.

Tetapi kalimat itu sudah terlanjur masuk.

Rin meletakkan ponsel di meja.

Kemudian berdiri.

Langkah pertamanya tidak stabil.

Ia berjalan ke dapur kecil, membuka keran, dan mencuci tangan meskipun tangannya sama sekali tidak kotor.

Air dingin mengalir di antara jari-jari.

Rin menunduk.

Ia mencoba berpikir seperti mahasiswa kedokteran.

Tubuh adalah tubuh.

Anatomi tidak menentukan seluruh pengalaman seseorang.

Data biologis tidak otomatis menjadi izin bagi orang lain untuk menyentuh, memotret, atau membahas tubuh seseorang.

Semua itu masuk akal.

Sangat masuk akal.

Namun logika tidak selalu mampu menghentikan rasa malu yang telah lebih dulu masuk melalui kulit.

Ia mematikan keran.

"Rin?"

Suara Aoi datang dari ruang tengah.

Rin tidak langsung menjawab.

"Rin?"

"Aku di sini."

Suara itu terdengar lebih rendah daripada biasanya.

Rin menyadarinya sendiri.

Ia membersihkan tenggorokan, kemudian keluar dari dapur.

Aoi berdiri di dekat meja makan sambil memegang dua gelas air. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada makeup panggung. Wajahnya terlihat jauh lebih muda tanpa pencahayaan studio.

Tatapan Aoi langsung jatuh ke wajah Rin.

"Apa yang kamu baca?"

Rin menggeleng.

"Berita."

"Apa yang mereka bilang?"

"Macam-macam."

Aoi menatapnya beberapa detik.

Kemudian matanya turun ke meja.

Ponsel Rin masih berada di sana.

Aoi mengambilnya.

Rin refleks mengulurkan tangan.

"Aoi."

"Aku cuma lihat layarnya."

"Jangan."

Aoi berhenti.

Rin menarik napas.

"Bukan karena aku menyembunyikan sesuatu."

"Aku tahu."

"Aku cuma..."

Rin tidak menyelesaikan kalimatnya.

Aoi membalik ponsel itu dan meletakkannya dalam posisi layar menghadap meja.

"Kamu tidak perlu membaca."

Rin menatapnya.

"Aku harus tahu apa yang mereka katakan."

"Untuk apa?"

Pertanyaan itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Rin membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.

"Karena mereka membicarakanku."

"Ya."

"Karena mereka menyebut namaku."

"Ya."

"Karena mereka membicarakan tubuhku."

Aoi mengangguk kecil.

Lihat selengkapnya