Ruang rapat sementara itu terlalu terang untuk sebuah pertemuan yang sebagian besar isinya adalah kabar buruk.
Cahaya putih dari lampu plafon memantul pada meja panjang berwarna abu-abu, membuat setiap lembar kertas terlihat lebih tajam daripada seharusnya. Pendingin ruangan berdengung pelan. Di luar jendela, Tokyo bergerak seperti biasa, dengan deretan kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti dan pantulan gedung-gedung kaca yang menangkap cahaya sore.
Di dalam ruangan, tidak ada musik.
Tidak ada tawa.
Tidak ada Ryuuto.
Lima anggota ECLIPSE duduk mengelilingi meja.
Aoi berada di ujung kiri dengan tiga map terbuka di depannya. Mei duduk di sampingnya, sesekali memeriksa catatan di tablet. Yuka memegang pulpen tetapi sejak sepuluh menit lalu belum menulis apa pun. Chino duduk paling dekat dengan Mei, membaca lembar kontrak dengan alis berkerut.
Rin duduk di ujung meja yang lain.
Tangannya terlipat di atas meja.
Di hadapannya terdapat salinan kontrak yang sudah diberi tanda stabilo dalam berbagai warna.
Kuning.
Merah.
Biru.
Beberapa bagian bahkan diberi lingkaran.
Rin memandangi satu klausul cukup lama.
"Ini."
Aoi mengangkat kepala.
"Yang mana?"
Rin menunjuk sebuah paragraf.
"Klausul perubahan citra."
Aoi menarik salinan yang sama ke arahnya.
"Yang menyebut manajemen memiliki kewenangan menentukan konsep visual selama dianggap sesuai dengan kepentingan komersial grup?"
"Iya."
Aoi membaca ulang.
Bibirnya bergerak sangat pelan mengikuti kalimat.
Kemudian ekspresinya berubah.
"Bukan cuma konsep visual."
Mei menoleh.
"Apa?"
Aoi menunjuk bagian bawah.
"Termasuk penampilan publik."
Yuka mendekat.
"Artinya?"
Aoi menatap mereka satu per satu.
"Artinya kalau mereka menganggap gaya rambut, pakaian, bentuk tubuh, cara bicara, bahkan citra personal kita memengaruhi pemasaran, mereka bisa mengarahkan perubahan itu atas nama kepentingan grup."
Chino mengerutkan dahi.
"Tapi bukannya selama ini memang begitu?"
Aoi terdiam.
Pertanyaan itu justru membuat ruangan semakin sunyi.
"Ya," jawabnya akhirnya. "Memang begitu."
Ia membalik halaman.
"Tapi masalahnya bukan apakah kita biasa diarahkan."
Jari Aoi mengetuk satu baris.
"Masalahnya adalah seberapa jauh mereka punya hak untuk memutuskan."
Rin menatap kontrak.
Dulu, ia tidak terlalu memikirkan kata-kata semacam itu.
Ketika pertama kali masuk ECLIPSE, kontrak hanya terasa seperti pintu.
Tanda tangan berarti boleh naik panggung.
Boleh memiliki jadwal.
Boleh menggunakan nama Rin.
Boleh menyanyi.
Boleh memiliki kesempatan untuk hidup beberapa jam dalam sehari sebagai dirinya sendiri.
Ia tidak membaca setiap kalimat dengan kecurigaan.
Tidak ketika Ryuuto berkata bahwa kontrak itu standar.
Tidak ketika ia mengatakan bahwa semua artis independen menandatangani dokumen serupa.
Tidak ketika Ryuuto menepuk bahunya dan mengatakan bahwa mereka harus saling percaya jika ingin membawa ECLIPSE keluar dari panggung-panggung kecil.
Sekarang setiap kata terasa berbeda.
"Berapa banyak?" tanya Mei.
Aoi menghela napas.
"Belum selesai dihitung."
Ia mengambil lembar lain.
"Hak cipta lagu."
Yuka mengangkat kepala.
"Yang kita nyanyikan?"
"Yang kita ikut ciptakan."
Yuka terdiam.
Aoi melanjutkan.
"Beberapa karya yang dibuat dalam masa kontrak bisa diperlakukan sebagai bagian dari katalog perusahaan. Ada batas tertentu, tapi rumusnya cukup luas."
Chino memandangi kertas.
"Jadi kalau nanti kita menulis lagu sendiri..."
"Belum tentu sepenuhnya berada di tangan kita."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rin melihat jari Yuka yang perlahan berhenti memainkan pulpen.
Mei bersandar.
"Pendapatan?"
Aoi menggeser satu halaman lagi.
"Lebih rumit."
"Seberapa rumit?"
"Royalti, penampilan, promosi, distribusi, potongan biaya produksi. Ada beberapa pengeluaran yang dapat dibebankan kepada pendapatan grup sebelum pembagian."
Yuka menatap Aoi.
"Jadi angka yang kita lihat di laporan bukan berarti angka yang benar-benar kita terima."
Aoi mengangguk.
"Begitu."
Rin merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.
Bukan marah.
Belum.
Lebih seperti kesadaran yang perlahan menemukan bentuk.
Selama ini mereka mengira sedang membangun karier.
Ternyata sebagian besar fondasi itu dibangun di atas tanah yang hak kepemilikannya tidak pernah mereka tanyakan.
Pintu ruangan terbuka.
Eri Takagi masuk membawa satu folder hitam tebal.
"Maaf terlambat."
Ia meletakkan folder di meja.
"Tadi saya meminta salinan kontrak versi awal dan seluruh lampirannya."
Aoi langsung berdiri sedikit dari kursinya.
"Apakah ada perbedaan?"
"Ada beberapa."
Eri duduk.
Ia membuka folder dan mengeluarkan beberapa dokumen.
"Dan sebelum kita membahas isinya, saya ingin mengatakan satu hal."
Kelima anggota menatapnya.
"Jangan membuat keputusan berdasarkan kemarahan."
Tatapan Eri berpindah kepada Rin.
Rin tidak tersinggung.
Justru ia mengangguk.
"Itu juga yang saya pikirkan."
Eri memperhatikannya beberapa detik.
"Bagus."
Ia membuka halaman pertama.
"Karena kalau kalian ingin keluar dari Vivid Prominence, kalian harus keluar dengan posisi yang kuat. Bukan sekadar keluar dengan perasaan bahwa kalian sudah melawan."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi Rin menyukainya.
Tidak ada kata kemenangan.
Tidak ada kata balas dendam.
Hanya posisi.
Hak.
Pilihan.
Konsekuensi.
Eri menunjuk salah satu klausul.
"Ini klausul pemutusan."
Aoi mendekat.
"Kalau agensi mengakhiri kontrak?"
"Perhatikan frasa ini."
Eri menunjuk bagian tertentu.
"Jika kontrak dihentikan karena dianggap merugikan kepentingan perusahaan, beberapa kewajiban tetap dapat berlaku selama periode tertentu."
Mei membaca.
"Termasuk pembatasan aktivitas?"
"Ya."
Yuka langsung bersandar.
"Jadi kalau kita keluar, kita masih bisa dibatasi?"
"Potensial."
"Potensial?"