[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #93

Setelah Tagar Padam

Malam itu, tidak ada lagi nama Rin di daftar tren.

Rin memeriksa layar ponselnya sekali, lalu sekali lagi, seolah angka yang muncul mungkin berubah jika ia melihatnya dari sudut berbeda.

Tidak.

Tagar yang selama beberapa hari memenuhi layar sudah turun jauh.

Beberapa jam lalu masih berada di halaman pencarian teratas. Sekarang ia sudah tertutup oleh berita olahraga, acara televisi, kontroversi selebritas lain, dan sebuah kampanye produk makanan yang entah bagaimana menjadi viral dalam semalam.

Internet telah menemukan sesuatu yang baru.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, dunia tidak sedang membicarakan Rin.

Aneh.

Rin mengira ia akan merasa lega.

Yang muncul justru ruang kosong.

Ia duduk bersila di lantai ruang tengah apartemen sementara ECLIPSE, mengenakan kaus longgar dan celana training. Rambutnya tidak ditata. Wajahnya bersih dari makeup. Di meja rendah di depannya terdapat lima ponsel, dua laptop, beberapa gelas minuman yang sudah tinggal es, dan satu tablet yang sejak tadi menampilkan grafik statistik akun resmi ECLIPSE.

Garisnya turun.

Tidak curam lagi seperti dua hari sebelumnya.

Tetapi tetap turun.

Rin menatapnya cukup lama.

"Ada lagi?"

Suara Aoi terdengar dari belakang.

Rin tidak menoleh.

"Masih turun."

Aoi berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.

"Berapa?"

Rin menyebut angka.

Aoi tidak bereaksi berlebihan.

Ia hanya mengangguk.

"Masih banyak."

Rin tersenyum tipis.

"Dari sudut pandang siapa?"

"Dari sudut pandang orang yang masih mau melihat kita."

Rin menatap layar.

Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang.

Namun matanya tetap tertahan pada angka yang berkurang.

Dua ratus ribu.

Seratus sembilan puluh ribu.

Seratus delapan puluh ribu.

Angka-angka itu turun seperti air dari wadah yang bocor.

Di sisi lain ruangan, Yuka sedang berbaring tengkurap di karpet sambil membuka ponsel.

Mei duduk di sofa.

Chino berada di dekat jendela.

Tidak ada yang benar-benar sibuk.

Semua orang hanya melakukan versi masing-masing dari hal yang sama.

Memeriksa apa yang tersisa.

Rin membuka halaman komentar.

Ia tidak lagi melihat hinaan sebanyak sebelumnya.

Sebagian besar orang sudah pergi.

Yang tersisa justru lebih menyakitkan.

"Aku kecewa."

"Sudah mengikuti mereka sejak awal."

"Kenapa harus bohong?"

"Aku tidak bisa melihat Rin dengan cara yang sama lagi."

"Aku merasa dikhianati."

Rin membaca sampai kalimat terakhir.

Kemudian menutup halaman.

Dadanya terasa berat.

Tidak seperti saat membaca ancaman.

Tidak seperti saat melihat foto pribadi tersebar.

Ini lebih tenang.

Lebih manusiawi.

Dan karena itu lebih sulit dihadapi.

Seseorang benar-benar pernah mencintai ECLIPSE.

Seseorang membeli tiket.

Seseorang mungkin menabung untuk membeli album pertama.

Seseorang mungkin menunggu unggahan mereka setiap hari.

Kemudian orang itu mengetahui tentang Rin dan merasa hubungan tersebut telah dibangun di atas kebohongan.

Rin tidak bisa mengatakan bahwa perasaan itu tidak sah.

Ia tidak bisa memaksa seseorang untuk memahami.

Ia juga tidak bisa mengembalikan versi dirinya yang dulu mereka kira mereka kenal.

"Rin."

Suara Chino terdengar pelan.

Rin mengangkat kepala.

Chino berdiri di dekat sofa.

Matanya merah.

Ponsel masih berada di tangannya.

"Kamu baca?"

Rin mengangguk.

Chino menelan ludah.

"Aku juga."

Ia duduk perlahan.

"Ada yang bilang mereka merasa kita menipu mereka."

Tidak ada yang menjawab.

Chino menatap layar.

"Dia bilang dia mengikuti kita sejak debut."

Suaranya mulai bergetar.

"Dia bilang dia selalu bilang ECLIPSE berbeda dari grup lain karena kita kelihatan dekat."

Jari Chino meremas ujung kausnya.

"Lalu sekarang dia bilang semuanya terasa palsu."

Air mata jatuh.

Chino buru-buru mengusapnya.

"Aku tahu aku seharusnya tidak membaca."

Mei langsung bergerak mendekat.

"Chino."

"Aku cuma ingin tahu..."

Suara Chino pecah.

"...berapa banyak yang pergi."

Mei duduk di sampingnya.

"Kamu tidak perlu tahu semuanya."

"Tapi kalau mereka pergi karena aku..."

"Berhenti."

Nada Mei tetap lembut.

Namun kali ini tegas.

Chino menatapnya.

"Ini bukan kesalahanmu."

"Kalau ECLIPSE kehilangan penggemar—"

"Jumlah penggemar tidak sama dengan jumlah orang yang harus kamu selamatkan."

Chino diam.

Mei mengusap kepala Chino sekali.

"Kamu tidak bertanggung jawab atas perasaan setiap orang di internet."

Chino menggeleng kecil.

"Tapi mereka mencintai kita."

"Ya."

"Terus mereka pergi."

"Ya."

Jawaban Mei tidak mencoba menghibur dengan kebohongan.

Itulah yang membuat Chino kembali menangis.

Mei memeluknya.

"Kadang seseorang bisa benar-benar menyayangi kita dan tetap memilih pergi."

Chino menutup wajah di bahu Mei.

"Rasanya sedih."

"Memang."

Tidak ada kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tidak ada janji bahwa semua penggemar akan kembali.

Hanya pengakuan bahwa kehilangan tetap kehilangan.

Di lantai, Yuka tiba-tiba mengangkat ponselnya.

"Tapi ada yang masih di sini."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Yuka duduk.

Lihat selengkapnya