Sore telah turun ketika Rin tiba di sebuah studio kecil di Tokyo yang bahkan tidak memiliki papan nama.
Bangunannya berada di lantai tiga sebuah gedung tua yang diapit toko percetakan dan kedai kopi kecil. Tangga menuju lantai atas sempit, cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian, dan aroma kopi yang terlalu lama tertinggal bercampur dengan bau debu dari karpet lorong. Tidak ada logo perusahaan. Tidak ada poster artis. Tidak ada staf yang berlari membawa clipboard.
Hanya sebuah pintu abu-abu dengan kertas putih ditempel menggunakan selotip.
STUDIO B.
Rin berdiri di depannya selama beberapa detik.
Tangannya masih menggenggam tali tas.
Jari telunjuknya mengetuk permukaan kulit tas sekali.
Dua kali.
Kemudian berhenti.
"Masuk saja."
Suara Kana terdengar dari dalam.
Rin membuka pintu.
Ruangan itu lebih kecil daripada yang ia bayangkan. Sebuah kamera berdiri di atas tripod, diarahkan ke kursi kayu sederhana. Dua lampu LED dipasang di kiri dan kanan. Di belakang kursi hanya ada dinding putih kusam dengan sedikit bayangan kabel.
Tidak ada backdrop berlogo ECLIPSE.
Tidak ada monitor raksasa.
Tidak ada slogan agensi.
Tidak ada meja dengan susunan botol air yang diberi label nama sponsor.
Kana, perempuan berusia dua puluh lima tahun dengan rambut pendek yang diselipkan ke belakang telinga, sedang memeriksa kamera. Ia mengenakan kaus hitam dan celana panjang longgar. Ketika melihat Rin, ia mengangkat satu tangan.
"Tempatnya memang jelek."
Rin menatap sekeliling.
"Bagus."
Kana tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Kalau bagus, rasanya seperti konferensi pers."
Kana berhenti sebentar, kemudian tersenyum.
"Itu memang alasan aku pilih tempat ini."
Aoi sudah duduk di lantai dekat sebuah meja lipat. Beberapa lembar kertas terhampar di depannya. Mei berada di samping jendela, membuka botol air mineral.
Aoi mengangkat kepala.
"Kau terlambat tujuh menit."
Rin melepas sepatu di dekat pintu.
"Maaf."
"Jangan minta maaf."
Nada Aoi datar.
"Kita bukan agensi."
Rin menatapnya.
Aoi menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Duduk."
Rin menurut.
Begitu tubuhnya menyentuh lantai, Aoi menyerahkan setumpuk kertas.
"Naskah terakhir."
Rin menerimanya.
Kertas itu tidak tebal. Hanya sekitar empat halaman.
Namun tangan Rin langsung terasa berat.
Ia membaca judul yang tercetak di bagian atas.
PERNYATAAN RESMI ECLIPSE MENGENAI SKANDAL TERBESAR DALAM SEJARAH GRUP.
Tatapannya berhenti.
Lama.
Aoi memperhatikan perubahan wajahnya.
"Aku juga tidak suka judulnya."
"Siapa yang menulis?"
"Konsultan komunikasi lama Vivid Prominence."
Rin mengembuskan napas pelan.
Ia membalik halaman.
Paragraf pertama dimulai dengan permintaan maaf kepada penggemar.
Paragraf kedua membahas "kesalahpahaman publik".
Paragraf ketiga menggunakan kata "isu identitas".
Paragraf keempat menjelaskan bahwa perusahaan akan "terus memberikan dukungan kepada Rin sebagai talent yang sedang menghadapi tekanan luar biasa".
Rin membaca sampai akhir.
Kemudian ia meletakkan kertas itu di atas lutut.
"Ini bukan aku."
Aoi mengangguk.
"Aku tahu."
"Kalimatnya terlalu bersih."
"Ya."
"Terlalu banyak kata yang tidak mengatakan apa-apa."
Aoi mengambil pensil.
"Bagian mana yang mau kau buang?"
Rin menunjuk judul.
"Ini."
Pensil Aoi berhenti.
"Semua?"
"Semua."
Ia mengambil kertas itu, melipat bagian atasnya, kemudian menyobek halaman tersebut menjadi dua.
Suara sobekan terdengar kecil di dalam studio.
Kana menoleh dari kamera.
"Bagus."
Rin memandang halaman berikutnya.
"Aku tidak mau mengatakan ini skandal terbesar ECLIPSE."
"Kenapa?"
"Karena bagi mereka mungkin ini skandal." Rin menelan ludah. "Bagi aku, ini hidupku."
Ruangan mendadak sunyi.
Mei meletakkan botol air di atas meja.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rin menunduk dan membaca lagi beberapa kalimat.
"Kalau aku mengatakan 'kami memahami kekhawatiran publik', orang akan menganggap aku sedang meminta mereka untuk mengerti."
Aoi mengangguk.
"Padahal?"
"Aku tidak meminta itu."
Suara Rin nyaris berbisik.
"Aku cuma ingin mereka berhenti masuk terlalu jauh."
Aoi mengambil pensil dan mencoret satu paragraf.
"Kalau begitu, kita tulis dari awal."
Rin menatapnya.
"Aku?"
"Siapa lagi?"
Aoi menyodorkan pensil.
Rin menerimanya.
Ujung pensil itu menggantung beberapa sentimeter di atas kertas.
Ia tidak langsung menulis.
Di luar jendela, suara kendaraan mengalir seperti dengung panjang. Sesekali terdengar bunyi rem bus. Cahaya sore Tokyo menembus kaca dan jatuh miring di lantai.
Rin menatap kertas kosong.
Ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada kamera.
Kertas kosong.
Karena selama ini selalu ada orang lain yang memberitahunya apa yang harus dikatakan.
Ayahnya memberitahunya bagaimana seorang Tachibana harus berbicara.
Dosen memberitahunya bagaimana seorang mahasiswa kedokteran harus bersikap.
Ryuuto memberitahunya bagaimana seorang idol harus tersenyum.
Media memberitahunya bagaimana seorang korban skandal harus menangis.
Penggemar memberitahunya bagaimana seorang idol harus berterima kasih.
Bahkan ketika kebohongannya terbongkar, orang lain masih sibuk menuliskan kalimat untuk menjelaskan siapa dirinya.
Rin menggenggam pensil sedikit lebih erat.
Kemudian menulis satu kalimat.
Nama yang tercantum dalam dokumenku adalah Ren Tachibana.
Ia berhenti.
Membaca kembali.
Tidak ada yang terasa salah.
Ia melanjutkan.
Tetapi nama yang kupilih untuk menjalani hidupku adalah Rin.
Aoi membaca dari samping.
"Bagus."
Rin tidak mengangkat kepala.
"Jangan bilang bagus dulu."
"Kenapa?"
"Karena setelah ini mungkin jelek."
Mei tertawa kecil.
"Kalau jelek, kita hapus."
Rin akhirnya tersenyum.
Kecil sekali.
Namun cukup untuk membuat ketegangan di sudut bibirnya sedikit mengendur.
Ia menulis lagi.
Beberapa kali berhenti.
Beberapa kali mencoret.
Kadang satu kalimat hanya diganti satu kata.
Kadang satu paragraf dihapus seluruhnya.
Rin menolak kata "mengungkapkan".
Ia menggantinya dengan "menjelaskan".
Menolak "pengakuan".
Menggantinya dengan "pernyataan".
Menolak "kebenaran mengejutkan".
Dihapus.
Menolak "identitas kontroversial".
Dihapus.
Menolak "maaf atas kebingungan".
Dihapus.
Setiap kata yang membuat hidupnya terdengar seperti produk yang mengalami kerusakan, ia buang.
Aoi membantu dengan cara yang sangat khas dirinya.