[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #95

Surat Pemutusan

Pagi di Tokyo datang dengan warna abu-abu yang hampir tidak berubah dari hari sebelumnya.

Langit tertutup awan tipis. Jalanan di sekitar gedung Vivid Prominence sudah dipenuhi orang-orang yang berangkat bekerja, tetapi tidak seorang pun memperhatikan lima perempuan muda yang turun dari sebuah taksi di seberang jalan. Tidak ada kamera televisi. Tidak ada wartawan yang menunggu. Tidak ada kerumunan penggemar.

Hanya lima orang dengan pakaian sederhana dan satu perempuan dewasa yang membawa map hitam tebal.

Eri Takagi menutup pintu taksi setelah semua turun.

"Masih ada waktu untuk berubah pikiran," katanya.

Aoi langsung menjawab.

"Tidak."

Yuka menelan ludah.

Chino merapatkan kedua tangannya di depan tubuh.

Mei hanya mengembuskan napas panjang.

Rin berdiri paling belakang.

Ia menatap gedung Vivid Prominence.

Gedung itu tidak pernah terlihat megah.

Cat bagian depannya sedikit kusam. Papan nama perusahaan berada di atas pintu masuk dengan desain yang mulai terasa tua. Dahulu, setiap kali Rin melihat gedung itu, ada sesuatu yang membuat langkahnya terasa ringan. Tempat itu adalah jalan masuk menuju panggung, menuju lampu, menuju nama Rin yang tidak pernah bisa ia gunakan di rumah.

Sekarang bangunan yang sama terlihat seperti sebuah ruangan yang sudah terlalu lama menahan udara.

Rin memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.

Jari-jarinya dingin.

"Aku takut," katanya.

Tidak ada yang mengejek.

Yuka justru mengangguk cepat.

"Aku juga."

Ia tertawa kecil, tetapi suaranya tidak stabil.

"Kalau nanti kita tidak punya gaji tetap, kita makan apa?"

Mei menoleh.

"Untuk sementara, kita makan nasi."

Yuka memandangnya.

"Itu bukan jawaban."

"Jawaban paling realistis."

Yuka mengembuskan napas, lalu tertawa.

Chino ikut tersenyum meskipun wajahnya masih tegang.

"Aku bisa hemat."

Aoi menyilangkan tangan.

"Kita semua bisa hemat."

Eri memperhatikan mereka.

"Ketakutan itu wajar. Tapi jangan mencampur dua hal. Takut kehilangan kestabilan finansial bukan berarti keputusan kalian salah."

Yuka mengangguk.

"Kalau begitu saya akan takut sambil tetap maju."

Aoi meliriknya.

"Bagus."

Rin menatap keempat temannya.

Kemudian mereka masuk.

Ruang rapat Vivid Prominence terasa lebih dingin daripada biasanya.

Meja panjang berwarna cokelat tua berada di tengah ruangan. Lima kursi untuk anggota ECLIPSE berada di satu sisi. Ryuuto duduk di seberang mereka.

Ia datang tanpa senyum.

Tidak ada kopi di tangannya.

Tidak ada tablet.

Tidak ada pakaian panggung.

Hanya kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan wajah yang terlihat jauh lebih tua daripada dua puluh enam tahun.

Di sampingnya terdapat dua map.

Eri duduk paling ujung.

Ia membuka laptop.

"Baik."

Suaranya datar.

"Kita mulai."

Ryuuto menatapnya.

"Seolah-olah ini rapat bisnis biasa."

"Justru karena ini masalah bisnis, semuanya harus dilakukan seperti rapat bisnis biasa."

Ryuuto tersenyum tipis.

"Pengacara memang selalu punya cara membuat sesuatu terdengar sederhana."

Eri tidak membalas.

Ia membuka dokumen.

"Hubungan kontraktual antara Vivid Prominence dan ECLIPSE akan berakhir sesuai mekanisme yang telah dinegosiasikan kedua pihak. Tidak ada pengakuan sepihak atas pelanggaran yang belum diputuskan. Tidak ada pelepasan hak yang tidak tercantum dalam dokumen. Hak dan kewajiban masing-masing pihak akan mengikuti lampiran penyelesaian."

Ryuuto menatap kelima anggota.

"Jadi kalian benar-benar pergi."

Tidak ada jawaban.

Tatapan Ryuuto berhenti pada Rin.

"Tentu saja."

Rin tidak menghindari matanya.

"Ya."

Ryuuto tertawa pendek.

"Aku masih ingat hari pertama kau datang."

Rin diam.

"Kau bahkan belum tahu cara berdiri di depan kamera."

Senyumnya semakin tipis.

"Aku yang membuat orang memperhatikanmu."

Aoi menggerakkan bahu sedikit, tetapi Eri menyentuh ujung meja dengan jarinya.

Jangan.

Bukan waktunya.

Rin tetap diam.

Ryuuto melanjutkan.

"Aku yang mencari panggung pertama kalian. Aku yang negosiasi jadwal. Aku yang membuat orang mengenal ECLIPSE."

Mei memandang meja.

Yuka menggenggam lututnya sendiri di bawah meja.

Chino menunduk.

Ryuuto menghela napas.

"Dan sekarang setelah semuanya mulai berhasil, kalian memutuskan pergi."

Aoi menjawab.

"Kami memutuskan mengakhiri kontrak."

Ryuuto menatapnya.

"Bahasa yang bagus."

"Bahasa yang tepat."

Aoi tidak menaikkan suara.

"Kami bukan milikmu."

Ryuuto tertawa.

"Tidak pernah bilang kalian milikku."

Aoi menatapnya.

"Semua orang tahu."

Ruangan kembali sunyi.

Rin dapat mendengar suara pendingin ruangan.

Dengungnya konstan.

Dingin.

Ryuuto menundukkan kepala sebentar.

Ketika mengangkatnya lagi, ekspresinya berubah.

Bukan lagi manajer.

Bukan lagi produser.

Hanya seorang pria yang merasa kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai miliknya.

"Kau."

Tatapannya kembali kepada Rin.

"Semua ini karena kau."

Rin tidak bergerak.

"Kau datang dengan rahasiamu."

Ryuuto mencondongkan tubuh.

"Kau menyembunyikan identitasmu. Kau membuatku melindungimu. Aku mempertaruhkan perusahaan untukmu."

Rin merasakan telapak tangannya mulai dingin.

"Tapi begitu semuanya terbongkar, kau malah menjadikan aku penjahat."

"Ryuuto."

Suara Eri tegas.

"Jaga pembicaraan tetap dalam ruang lingkup kontrak."

Ryuuto tidak menghiraukannya.

"Kau menghancurkan grup yang kubangun."

Kata-kata itu jatuh berat.

Lihat selengkapnya