Rin terbangun sebelum membuka mata.
Ada sesuatu yang salah.
Kesadaran pertama yang muncul bukan tentang mimpi, bukan tentang suara kendaraan dari jalan raya di bawah apartemen, dan bukan tentang cahaya pagi yang menembus tirai.
Melainkan tentang waktu.
Ia sudah terbiasa bangun karena sesuatu.
Alarm.
Panggilan dari manajer.
Pesan grup.
Jadwal latihan.
Sesi foto.
Soundcheck.
Keberangkatan ke stasiun.
Briefing.
Makeup.
Panggung.
Bahkan ketika tubuhnya terlalu lelah untuk bergerak, selalu ada sesuatu yang menunggunya.
Pagi ini tidak ada apa-apa.
Rin membuka mata.
Langit-langit putih.
Kamar yang masih setengah gelap.
Suara AC yang berputar pelan.
Tangannya langsung meraih sisi tempat tidur, mencari ponsel.
Layar menyala.
07.18.
Tidak ada alarm.
Rin duduk.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia memeriksa kalender.
Kosong.
Hari ini tidak ada latihan.
Tidak ada rekaman.
Tidak ada sesi foto.
Tidak ada penampilan.
Tidak ada rapat agensi.
Tidak ada perjalanan.
Tidak ada apa pun.
Rin memeriksa sekali lagi.
Kemudian membuka grup percakapan ECLIPSE.
Tidak ada pesan mendesak.
Pesan terakhir dari Aoi dikirim semalam.
Besok jangan membuat jadwal sendiri. Istirahat.
Rin membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
"Jangan membuat jadwal sendiri."
Ia meletakkan ponsel di samping.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Tiga puluh.
Tubuhnya masih menunggu perintah berikutnya.
Rin menatap jam.
07.19.
Ia berdiri.
Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin.
Biasanya pada jam seperti ini ia sudah tahu pakaian apa yang harus dikenakan. Kalau latihan, celana olahraga dan kaus. Kalau syuting, pakaian yang disiapkan stylist. Kalau panggung, kostum yang sudah diperiksa berulang kali.
Sekarang ia membuka lemari.
Tangannya berhenti di antara beberapa pakaian.
Tidak ada yang mendesak untuk dipilih.
Ia mengambil kaus putih.
Memandangnya.
Kemudian meletakkannya kembali.
Mengambil sweater.
Meletakkannya juga.
Rin berdiri di depan lemari dengan kedua tangan di pinggang.
"Terus aku harus pakai apa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Tidak ada yang menjawab.
Ia akhirnya mengambil pakaian paling sederhana yang ditemukan, lalu masuk kamar mandi.
Tidak ada makeup.
Tidak ada wig.
Tidak ada lensa kontak.
Tidak ada suara pengering rambut.
Hanya air mengalir.
Ketika keluar, rambutnya masih sedikit basah.
Rin melihat dirinya di cermin.
Wajahnya tampak berbeda tanpa persiapan panggung.
Lebih muda.
Lebih lelah.
Lebih dekat dengan seseorang yang berusia sembilan belas tahun daripada seorang Center yang selama berbulan-bulan harus terlihat seperti tahu apa yang dilakukannya.
Ia menyentuh pipinya.
Kemudian mengusap rambut pendek yang masih tersisa di bagian tertentu.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang menilai.
Aneh.
Ia justru merasa lebih terlihat.
Menjelang pukul sembilan, apartemen mulai terasa terlalu besar.
Padahal luasnya tidak berubah.
Rin membuat kopi.
Duduk.
Minum setengah.
Berdiri.
Mencuci cangkir.
Kemudian berdiri lagi di dapur tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Ia membuka kulkas.
Ada telur.
Beberapa sayuran.
Nasi sisa semalam.
Tahu.
Satu botol saus.
Rin menutup kulkas.
Membukanya lagi.
"Haruskah aku..."
Ia berhenti.
Tidak ada orang yang bertanya kepadanya.
Tidak ada orang yang memintanya memasak.
Ia mengambil telur.
Ponselnya berbunyi.
Rin langsung menoleh.
Bukan manajer.
Bukan produser.
Pesan dari ibunya.
Ibu datang siang ini. Kalau tidak mengganggu.
Rin membaca pesan itu lama.
Jarinya bergerak di atas layar.
Ia mengetik.
Tidak mengganggu. Datang saja.
Kemudian menghapusnya.
Menulis lagi.
Silakan datang.
Menghapus lagi.
Akhirnya ia mengirim.
Iya.
Pesan terkirim.
Rin memasukkan telur ke dalam mangkuk.
Beberapa detik kemudian, ia baru sadar bahwa ia sedang tersenyum.
Laci meja rias terbuka.
Berbagai benda yang selama berbulan-bulan membentuk sosok Rin tergeletak di dalamnya.
Foundation.
Bedak.
Lip tint.
Pensil alis.
Jepit rambut.
Karet.
Aksesori panggung.
Beberapa benda kecil yang tidak pernah ia pikirkan sebagai sesuatu yang penting sampai sekarang.
Di sampingnya terdapat dua wig.
Satu panjang dengan warna hitam kecokelatan untuk penampilan formal.
Satu lagi lebih ringan dan kasual, dengan ujung rambut sedikit bergelombang.
Rin mengambil wig kedua.
Ia memandanginya.
Kemudian tertawa kecil.
"Kenapa tidak?"
Beberapa menit kemudian, rambut panjang itu jatuh melewati bahunya.
Tidak ada gaun panggung.
Tidak ada sepatu hak.
Tidak ada lampu.