Siang itu, Rin duduk di depan meja Eri Takagi dengan sebuah formulir kosong di hadapannya.
Kantor hukum itu jauh lebih tenang daripada kantor Vivid Prominence. Tidak ada poster artis. Tidak ada papan jadwal. Tidak ada suara orang berlari membawa dokumen dari satu ruangan ke ruangan lain. Hanya bunyi pendingin ruangan dan suara kendaraan yang terdengar samar dari balik kaca jendela.
Rin mengenakan kemeja putih sederhana dan rok panjang berwarna gelap. Tidak ada kostum panggung. Tidak ada aksesori mencolok. Rambut panjangnya jatuh alami melewati bahu.
Eri memeriksa beberapa lembar dokumen.
"Untuk urusan kontrak, akun pembayaran, pajak, dan dokumen lain yang secara hukum membutuhkan nama resmi, kita tetap menggunakan nama yang tercantum dalam catatan sipil."
Rin mengangguk.
"Ren Tachibana."
"Ya."
Nama itu terdengar berbeda sekarang.
Dulu, setiap kali nama tersebut disebut, tubuh Rin akan menegang sebelum pikirannya sempat memahami alasannya. Sekarang ia bisa mengucapkannya tanpa rasa seperti tertusuk.
Bukan karena nama itu sudah menjadi nyaman.
Karena ia mulai memahami bahwa nama tersebut memiliki tempatnya sendiri.
Eri melanjutkan.
"Sedangkan untuk komunikasi profesional sehari-hari yang tidak mengharuskan identitas legal, kita bisa mulai konsisten menggunakan Rin."
"Seperti email?"
"Ya."
"Nama kontak?"
"Ya."
"Undangan acara?"
"Kalau penyelenggara menerima, ya."
"Media?"
Eri mengangguk.
"Rin."
Satu kata itu membuat sudut bibir Rin bergerak sedikit.
"Jadi tidak perlu menulis 'Rin, sebelumnya dikenal sebagai...'?"
Eri mengangkat mata dari dokumen.
"Tidak."
"Kalau mereka bertanya?"
"Jawab sesuai kebutuhan."
Rin menatapnya.
Eri meletakkan pulpen.
"Rin, deklarasi publik bukanlah pengganti proses administratif. Tetapi kehidupan sosial juga tidak harus menunggu seluruh dokumen berubah untuk bergerak."
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun Rin menyimpannya baik-baik.
Selama bertahun-tahun ia hidup seolah-olah harus menunggu sebuah izin untuk menjadi dirinya sendiri.
Izin dari ayah.
Izin dari keluarga.
Izin dari industri.
Izin dari dokumen.
Sekarang Eri memberinya sesuatu yang berbeda.
Bukan izin.
Batas yang jelas.
"Jadi aku boleh menggunakan Rin sekarang."
"Dalam konteks yang tepat, ya."
Rin tersenyum.
"Baik."
Eri menyerahkan satu lembar catatan.
"Dan ada satu hal lagi."
Rin membacanya.
"Jangan buru-buru menganggap perubahan administratif sebagai simbol penyembuhan."
Rin mengangkat alis.
"Ini nasihat hukum?"
"Sedikit."
Eri menyandarkan punggung.
"Kalau suatu proses membutuhkan waktu, jangan merasa bahwa setiap hari yang berlalu berarti identitasmu sedang mundur. Administrasi bergerak dengan kecepatannya sendiri."
Rin menatap tulisan itu.
Kemudian mengangguk.
"Aku mengerti."
Ia memasukkan dokumen ke dalam tas.
Sebelum berdiri, ia mengambil kartu nama kosong dari meja.
"Kalau begitu..."
Ia memandang Eri.
"Untuk kartu nama berikutnya, boleh aku tulis Rin?"
Eri tersenyum.
"Justru itu yang sedang kita mulai."
Perubahan pertama terjadi dengan cara yang sangat kecil.
Sebuah email.
Bukan konferensi pers.
Bukan artikel berita.
Bukan wawancara televisi.
Hanya email kepada seorang produser musik independen yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan ECLIPSE.
Rin membuka laptop di apartemen.
Kursor berkedip di kolom nama pengirim.
Dulu ia selalu berhenti di sana.
Nama legal.
Nama panggung.
Nama samaran.
Tiga kemungkinan.
Tiga kehidupan.
Sekarang ia mengetik.
Rin Tachibana.
Jarinya berhenti.
Ia membaca nama itu.
Rin Tachibana.
Bukan Ren Tachibana dengan tanda tangan kecil di bawahnya.
Bukan Rin dalam tanda kurung.
Bukan "Rin, anggota ECLIPSE."
Hanya Rin.
Ia mengirim email.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada petir.
Tidak ada alarm.
Tidak ada suara seseorang berteriak bahwa ia melakukan kesalahan.
Layar hanya menampilkan tulisan sederhana.
Sent.
Rin bersandar di kursi.
Napasnya keluar perlahan.
"Begitu saja?"
Ia hampir tertawa.
Bertahun-tahun hidupnya bergantung pada nama itu.
Dan ternyata langkah pertama untuk mengambilnya kembali hanya membutuhkan satu kali menekan tombol.
Ponselnya berbunyi.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Terima kasih, Rin. Kami akan menghubungi kembali mengenai jadwal berikutnya.
Rin membaca kalimat tersebut.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian menyentuh layar dengan ujung jarinya.
Bukan karena pesannya istimewa.
Justru karena tidak ada satu pun bagian dari pesan itu yang menganggap namanya sebagai masalah.
Ia hanya dipanggil Rin.
Seperti itu seharusnya.
Sore hari, Rin membuka lemari kecil di bagian bawah rak.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak berwarna cokelat.
Kotak itu sudah lama tidak disentuh.
Ia membawanya ke meja.
Membuka penutupnya.
Kartu identitas lama.
Beberapa kartu administrasi universitas.