Siang di Shimokitazawa bergerak dengan cara yang berbeda dari pusat Tokyo. Tidak ada gedung pencakar langit yang mendominasi pandangan, tidak ada arus pejalan kaki yang terasa seperti sungai tanpa tepian. Jalan-jalan sempit di antara toko pakaian bekas, kafe kecil, studio musik, dan papan nama yang mulai pudar dipenuhi suara percakapan, bunyi sepeda yang melintas, dan sesekali denting gitar dari ruang latihan yang pintunya dibiarkan terbuka. Di lantai dua sebuah bangunan tua yang bagian luarnya dicat putih, lima anggota ECLIPSE duduk mengelilingi sebuah meja persegi panjang yang terlalu kecil untuk lima orang dan terlalu besar untuk percakapan santai. Sebuah papan tulis berdiri di belakang Aoi. Di atas meja terdapat lima gelas kopi, dua botol air mineral, laptop milik Aoi, beberapa map transparan, dan setumpuk kertas yang belum ditandatangani.
Rin duduk di sisi kanan meja dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut. Ia mengenakan blus putih sederhana dengan cardigan tipis berwarna abu-abu, rok hitam selutut, dan rambut panjang yang dibiarkan jatuh alami melewati bahu. Tidak ada lampu panggung, tidak ada bulu mata yang dibuat lebih dramatis, tidak ada kostum yang dirancang untuk membentuk siluet tertentu. Wajahnya hanya disentuh riasan ringan. Beberapa minggu sebelumnya, penampilan seperti itu masih terasa seperti kostum yang lebih sederhana. Sekarang, ketika ia melihat pantulan samar dirinya di jendela, ia tidak lagi mencari perbedaan antara Rin yang tampil dan Rin yang hidup.
Hari ini mereka tidak datang untuk membicarakan panggung.
Mereka datang untuk membicarakan bagaimana caranya agar panggung itu tidak pernah lagi menjadi milik seseorang yang berdiri di luar mereka.
Aoi membuka laptop. "Sebelum mulai, aku ingin kita sepakat tentang satu hal."
Yuka mengangkat gelas kopinya, tetapi belum meminumnya. "Kalau kalimat pembuka sudah seperti itu, biasanya sesuatu akan menjadi sangat serius."
"Memang serius."
Yuka menurunkan gelas.
Chino yang duduk di sebelah Mei melirik layar laptop. "Kita sudah tahu bakal serius sejak Aoi bilang harus membawa dokumen."
"Aku membawa dokumen karena kalian selalu bilang 'nanti kita pikirkan' kalau tidak ada yang menulisnya."
"Itu benar," kata Mei.
Aoi menatap mereka satu per satu. Tidak ada ekspresi keras di wajahnya, tetapi ujung jarinya mengetuk meja dua kali, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali pikirannya sedang menyusun sesuatu dengan sangat teliti.
"Kita sudah keluar dari Vivid Prominence. Kita sudah tidak punya manajer yang bisa mengambil keputusan atas nama kita. Itu bagus. Tapi kalau kita hanya mengganti nama perusahaan dengan lima orang dan membiarkan semuanya berjalan berdasarkan siapa yang paling keras bicara, kita tidak benar-benar mengubah apa pun."
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Rin memandang layar.
Di bagian atas dokumen tertulis satu kalimat.
ECLIPSE CREATIVE COLLECTIVE — DRAFT INTERNAL AGREEMENT
Tidak ada nama perusahaan. Tidak ada nama CEO. Tidak ada jabatan direktur.
Hanya nama kelompok mereka.
Rin mengembuskan napas pelan.
"Jadi kita membuat aturan sebelum kita membutuhkan aturan," katanya.
Aoi mengangguk. "Tepat."
Mei menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dan aturan itu berlaku untuk kita semua."
"Termasuk Center," kata Yuka sambil menoleh kepada Rin.
Rin mengangkat alis. "Terutama Center."
Chino terkekeh.
Aoi akhirnya tersenyum kecil. "Bagus. Berarti kita bisa mulai."
Ia memutar laptop sehingga semua orang dapat melihat layar dengan jelas.
Tabel pertama muncul.
Kolomnya sederhana. Pendapatan pertunjukan, penjualan musik, merchandise, royalti, pekerjaan individual, biaya produksi, transportasi, promosi, studio, distribusi, administrasi, dana cadangan.
Di bawahnya ada angka-angka yang masih diberi tanda sebagai contoh.
Yuka menyipitkan mata.
"Kenapa ada dua kolom untuk pendapatan?"
"Karena pendapatan grup dan pendapatan individu tidak boleh tercampur," jawab Aoi.
"Jelaskan."
Aoi menunjuk baris pertama.
"Kalau kita tampil sebagai ECLIPSE, pendapatannya masuk pendapatan kolektif. Setelah biaya yang disepakati dibayarkan, sisa dibagi berdasarkan formula yang kita sepakati bersama. Kalau salah satu dari kita mengambil pekerjaan individu, itu dicatat sebagai pendapatan individu. Tapi kalau pekerjaan itu menggunakan aset grup, nama ECLIPSE, staf kolektif, atau materi yang dibuat bersama, bagian yang menjadi hak kelompok tetap masuk ke rekening kolektif."
Mei mengangguk perlahan.
"Dan semua orang bisa melihat catatannya?"
"Ya."
"Termasuk pengeluaran?"
"Semua."
Yuka mendekatkan wajah ke layar. "Bahkan kalau aku beli seratus lembar stiker?"
"Kalau itu untuk promosi resmi ECLIPSE, ya."
"Kalau aku beli seratus lembar karena aku suka stiker?"
"Itu bukan biaya operasional."
Yuka mengangkat tangan.
"Aku setuju."
Chino tertawa.
Rin justru memperhatikan bagian paling bawah tabel. Ada satu baris yang membuatnya berhenti.
"Dana cadangan."
Aoi mengangguk. "Minimal sebagian pendapatan kolektif masuk ke sana. Bukan untuk dibagikan. Untuk keadaan darurat."
"Berapa?"
"Aku belum menentukan persentasenya. Aku pikir harus diputuskan bersama."
Mei mengambil pensil.
"Bagaimana dengan keadaan darurat anggota? Bukan cuma keadaan darurat grup."
Aoi menatapnya.
"Misalnya?" tanyanya.
"Kalau salah satu dari kita sakit dan tidak bisa bekerja. Atau perlu berhenti sementara karena masalah keluarga. Atau ada kebutuhan mendesak yang berhubungan dengan pekerjaan. Kita tidak boleh punya sistem yang membuat orang kehilangan penghasilan hanya karena tubuhnya sedang tidak sanggup bekerja."
Rin diam.
Kalimat itu masuk lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dulu, tubuh seorang idol adalah aset yang harus terus menghasilkan. Ketika tubuhnya tidak memenuhi angka, jadwal, atau citra yang ditentukan, nilainya ikut turun. Ia pernah merasakan sendiri bagaimana seseorang bisa memandang tubuhnya seperti angka dalam tabel.
Sekarang Mei sedang meminta agar manusia tidak diperlakukan seperti angka.
Aoi menambahkan satu baris.
Dana Perlindungan Anggota.
"Ini dipisahkan dari dana operasional," katanya.
Mei mengangguk. "Bagus."
Rin tersenyum kecil.
"Aku suka."
Aoi menatapnya. "Kita belum selesai."
"Aku tahu."
"Jangan menyetujui sesuatu hanya karena terdengar bagus."
"Aku tidak melakukannya."
Nada suara Rin terdengar tenang, hampir seperti Ren ketika sedang menilai sebuah argumen di ruang kuliah. Namun kali ini ia tidak sedang berusaha menyembunyikan sisi dirinya yang lain. Ia hanya sedang berpikir.
"Kalau kita ingin sistem ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya, transparansi saja tidak cukup."
Aoi menunggu.
Rin meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Yang kita miliki juga harus jelas."
Yuka mengerutkan dahi. "Maksudmu lagu?"
"Lagu, rekaman, konsep, identitas visual, logo, materi promosi yang kita buat bersama."
Rin melihat layar kosong di depan mereka.
"Aku tidak mau suatu hari nanti kita bertengkar karena salah satu dari kita mengira sebuah lagu milik dirinya sendiri, sementara yang lain menganggap itu milik ECLIPSE."
Ia berhenti sebentar.
"Masters lagu yang dibuat sebagai karya ECLIPSE harus menjadi milik kolektif. Begitu juga konsep artistik yang kita sepakati sebagai identitas grup."
Aoi langsung menambahkan catatan.
"Kalau ada anggota yang menciptakan lagu sendiri?"
"Nama penciptanya tetap tercatat," jawab Rin. "Hak pencipta individual tidak hilang hanya karena lagu itu menjadi bagian dari katalog ECLIPSE. Tapi master rekaman yang dibuat sebagai karya ECLIPSE tetap menjadi aset kolektif."
Aoi mengetik.
Mei mengangguk. "Jadi pencipta tetap dihargai, tapi tidak ada satu orang yang bisa membawa seluruh lagu pergi."
"Ya."
Yuka menyandarkan dagu pada telapak tangan.
"Dan konsep?"
Rin menatapnya.
"Konsep yang dibuat untuk ECLIPSE tidak boleh diambil lalu digunakan untuk proyek lain tanpa persetujuan."
Chino mengangguk pelan.
"Itu berarti simbol, warna, karakter visual, dan hal-hal seperti itu juga?"
"Kalau memang disepakati sebagai identitas ECLIPSE, iya."
Chino menatap papan tulis yang masih kosong.
"Aku punya ide."
Semua mata beralih kepadanya.
Chino langsung terlihat sedikit gugup. Tangannya mengambil spidol dari sisi papan tulis.
"Kalau identitas kita memang lima orang, kita harus punya sesuatu yang menunjukkan itu."
Ia berdiri.
Spidol menyentuh papan.
Satu garis miring.
Garis kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kelima.
Lima garis itu bertemu dan membentuk sebuah bentuk sederhana seperti bintang dengan lima sudut, tetapi bagian tengahnya dibiarkan terbuka.
Yuka berdiri dari kursinya.
"Eh."