Sore turun perlahan di Shinjuku ketika ECLIPSE kembali ke gedung Vivid Prominence untuk terakhir kalinya.
Bangunan itu tidak berubah banyak sejak mereka meninggalkannya. Papan nama di depan pintu masih sama, meskipun salah satu hurufnya tampak sedikit miring. Lampu di lorong lantai tiga menyala dengan warna putih pucat yang membuat dinding terlihat lebih tua daripada yang mereka ingat. Bau pendingin ruangan, kopi instan, dan karpet yang terlalu lama menyerap kelembapan masih bercampur menjadi satu.
Namun sesuatu telah hilang.
Bukan dari ruangan.
Dari mereka.
Rin berdiri di depan pintu studio latihan dengan sebuah kunci di telapak tangan. Kunci itu tidak lagi memiliki fungsi apa pun setelah hari ini. Ia memasukkannya ke lubang kunci, memutarnya, lalu membuka pintu.
Ruangan yang dahulu terasa sempit kini terasa terlalu besar.
Cermin panjang memenuhi salah satu dinding. Beberapa bekas tanda perekat masih menempel di lantai tempat mereka pernah menandai posisi koreografi. Di sudut ruangan terdapat speaker lama dengan kabel yang dililit seadanya. Sebuah papan tulis masih menyisakan tulisan jadwal latihan dari berbulan-bulan lalu, sebagian sudah terhapus tetapi beberapa nama masih dapat dibaca.
Aoi masuk lebih dulu.
Ia berhenti di depan papan tulis.
"Ini masih ada."
Yuka menyelipkan kepala dari belakang bahunya.
"Jangan bilang kamu mau foto."
"Aku mau menghapusnya."
Yuka tertawa kecil. "Itu lebih Aoi."
Aoi mengambil penghapus.
Gerakannya lambat.
Ia menghapus tanggal latihan pertama mereka. Kemudian jadwal rekaman. Kemudian catatan mengenai perubahan formasi.
Debu kapur tipis menempel pada ujung jarinya.
Mei memperhatikan dari pintu.
"Jangan semuanya."
Aoi berhenti.
"Kenapa?"
"Karena sebagian dari itu memang pernah menjadi milik kita."
Aoi menatap papan tulis beberapa detik, lalu menyimpan penghapus.
"Benar."
Tidak ada yang mencoba membawa papan itu.
Beberapa hal memang harus ditinggalkan di tempat asalnya.
Mereka mulai mengemasi barang.
Kotak-kotak kardus yang disediakan kantor diletakkan di sepanjang lorong. Setiap orang memiliki satu atau dua kotak. Tidak ada pembagian resmi. Mereka hanya mengambil apa yang memang milik mereka.
Kostum panggung.
Sepatu.
Album foto.
Poster promosi yang pernah ditempel di dinding.
Mug dengan nama masing-masing.
Headset latihan.
Buku catatan koreografi.
Beberapa hadiah kecil dari penggemar.
Foto polaroid pertama mereka sebagai ECLIPSE.
Yuka menemukan sebuah boneka kecil di belakang rak.
"Ini siapa?"
Chino langsung menoleh.
"Itu punyaku!"
Yuka mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kenapa ada di belakang speaker?"
"Aku kira hilang."
"Berarti sekarang ditemukan."
Chino merebut boneka itu sambil tertawa.
Ruang tersebut perlahan kehilangan benda-benda yang selama ini membuatnya terasa seperti markas ECLIPSE. Rak menjadi kosong. Dinding kehilangan poster. Meja kehilangan tumpukan botol minuman yang biasanya muncul setelah latihan. Kabel-kabel digulung.
Semakin banyak yang mereka masukkan ke kardus, semakin jelas bahwa sebuah tempat dapat membentuk ingatan hanya melalui benda-benda kecil.
Mei membuka salah satu laci.
"Rin."
Rin menoleh.
"Ada sesuatu di sini."
Mei mengeluarkan sebuah map tipis berwarna biru.
Rin langsung mengenalinya.
Ia berjalan mendekat.
Jarinya menyentuh tepi map itu sebelum mengambilnya.
"Ini..."
Ia membuka.
Brosur audisi.
Kertasnya sudah sedikit kusam. Sudutnya terlipat. Di bagian atas tercetak nama Vivid Prominence dan pengumuman audisi untuk proyek idol baru.
Di bawahnya terdapat tulisan tangan yang sangat kecil.
ECLIPSE.
Rin menatapnya lama.
Yuka mendekat.
"Yang dulu kamu simpan?"
Rin mengangguk.
"Dari mana kamu dapat?"
"Di kampus."
Chino memandang brosur itu dengan rasa ingin tahu.
"Kamu masih menyimpannya?"
"Aku lupa."
Aoi melihat halaman belakangnya.
"Ini yang kamu sembunyikan di buku anatomi?"
Rin tertawa kecil.
"Ya."
"Kenapa di buku anatomi?"
Rin menutup mata sebentar.
"Karena kalau ayahku melihat aku membawa brosur audisi idol, dia akan membuangnya. Kalau diselipkan di buku anatomi, kemungkinan dia menganggapnya catatan kuliah."
Yuka tertawa.
"Strategi penyamaran pertama Rin."
"Ren," koreksi Rin otomatis.
Lalu ia berhenti.
Keempatnya menatapnya.
Rin tersenyum.
"Atau mungkin Rin. Aku bahkan tidak tahu waktu itu."
Ia memegang brosur tersebut dengan kedua tangan.
Dulu kertas itu terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Sekarang ia tidak perlu menyembunyikannya.
Mei menyentuh bahunya.
"Masukkan ke kotakmu."
Rin mengangguk.
Ia melipat brosur itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam sebuah map plastik transparan.
Bukan ke kardus kostum.
Bukan ke kotak dokumen kerja.
Ia memasukkannya ke tas yang ia bawa sendiri.
Barang itu bukan aset perusahaan.
Bukan bagian dari ECLIPSE yang dapat dibagi menurut kontrak.
Itu adalah awal dari sebuah keputusan.