Pagi di Shimokitazawa belum sepenuhnya ramai ketika lima orang berdiri di depan sebuah pintu besi abu-abu di lantai dua bangunan tua yang diapit toko pakaian bekas dan studio musik kecil.
Rin memegang seikat kunci dengan kedua tangan. Salah satu kunci memiliki label plastik putih bertuliskan nomor ruangan yang ditulis menggunakan spidol hitam. Tidak ada logo perusahaan di sana. Tidak ada nama produser. Tidak ada tanda bahwa tempat ini merupakan bagian dari sebuah industri yang pernah membuat hidup mereka bergerak mengikuti jadwal orang lain.
Hanya sebuah kunci.
Dan nama proyek yang tercetak kecil pada dokumen sewa di dalam tas Aoi.
ECLIPSE.
"Jadi ini benar-benar tempat kita?" tanya Yuka.
Aoi memeriksa alamat di ponselnya sekali lagi.
"Benar."
Yuka mendongak menatap bangunan tua itu.
"Kelihatannya seperti tempat kita bisa menemukan hantu."
Chino tertawa.
"Jangan bilang begitu sebelum masuk."
"Aku cuma realistis."
"Kamu takut."
"Aku tidak takut."
Mei mengangkat dua kardus dari lantai.
"Kalian mau terus berdebat di depan pintu atau masuk?"
Yuka langsung mengambil salah satu kardus.
"Masuk."
Rin memasukkan kunci.
Bunyi klik terdengar sederhana, hampir mengecewakan karena begitu kecil.
Ia mendorong pintu.
Bau debu langsung menyambut mereka.
Ruangan di dalam jauh lebih kecil daripada studio utama Vivid Prominence. Dindingnya polos. Lantainya kayu yang sudah kehilangan kilap. Sebuah cermin tinggi menempel pada dinding kiri, salah satu sudutnya sedikit retak. Ada dua stopkontak di dekat lantai. Sebuah lampu fluoresen menggantung di langit-langit dan membutuhkan beberapa detik sebelum menyala penuh.
Tidak ada sofa.
Tidak ada lemari kostum.
Tidak ada rak penghargaan.
Tidak ada poster promosi ECLIPSE.
Tidak ada kursi produser yang selalu menjadi tempat seseorang mengamati mereka dari jauh.
Hanya ruang kosong.
Yuka masuk paling dahulu dan berputar satu kali.
"Wow."
Chino menutup mulutnya dengan tangan.
"Kosong banget."
Aoi sudah memeriksa sudut-sudut ruangan.
"Bagus."
Yuka menoleh.
"Bagus?"
"Bagus."
"Kenapa?"
"Karena kita tidak perlu memindahkan apa-apa."
Mei meletakkan kardus.
"Dan karena kita tidak punya uang untuk membeli terlalu banyak barang."
Aoi mengangguk.
"Itu juga."
Yuka memandang mereka bergantian.
"Kalian berdua benar-benar menghancurkan suasana."
Rin tertawa.
Tawa itu terdengar ringan.
Ia berjalan masuk perlahan, membiarkan ujung sepatunya menyentuh lantai kayu. Debu tipis bergerak di bawahnya. Tangannya menyapu permukaan meja kecil di dekat jendela.
Ujung jarinya menjadi abu-abu.
Rin menatapnya.
"Ini baru."
"Apa?" tanya Mei.
"Ruang yang belum punya kenangan."
Mei berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu kita isi."
Rin memandang ruangan sekali lagi.
Kali ini ia tersenyum.
"Ya."
Mereka mulai bekerja.
Aoi membuka jendela kecil di bagian belakang untuk mengeluarkan bau pengap. Yuka mencari colokan listrik. Mei mengatur kardus agar tidak menghalangi jalur latihan. Chino menemukan sapu di lemari kecil dekat pintu dan mulai membersihkan lantai bersama Rin.
Tidak ada instruksi dari atas.
Tidak ada suara yang mengatakan siapa harus melakukan apa.
Namun pekerjaan bergerak.
Mungkin karena selama bertahun-tahun mereka sudah belajar membaca satu sama lain.
Aoi tidak perlu berkata bahwa meja harus berada di dekat stopkontak.
Mei tahu kardus kostum harus diletakkan jauh dari jendela.
Yuka sudah tahu Chino akan menemukan sesuatu yang bisa dijadikan dekorasi bahkan sebelum Chino menemukan gulungan pita lama di rak.
Dalam waktu kurang dari satu jam, ruangan yang semula tampak seperti gudang kosong mulai menunjukkan bentuk.
Bukan studio profesional.
Belum.
Tetapi ruang kerja.
Aoi akhirnya membuka papan tulis lipat yang mereka beli bekas.
Ia meletakkannya di depan dinding.
Kemudian mengambil spidol hitam.
Di bagian paling atas ia menulis besar-besar.
ECLIPSE
Di bawahnya ia menulis tanggal.
Lalu tiga kata.
PENDAPATAN. BIAYA. CADANGAN.
Yuka melihat dari belakang.
"Seram."
Aoi menoleh.
"Kenapa?"
"Karena karier baru kita dimulai dengan anggaran."
"Karier baru kita bisa selesai kalau tidak dimulai dengan anggaran."
Yuka terdiam.
"Itu lebih seram."
Mei tertawa.
Aoi kemudian membuat beberapa kolom.
Sewa studio.
Transportasi.
Produksi musik.
Distribusi.
Promosi.
Perlengkapan.
Dana darurat.
Ia menuliskan angka di samping setiap kebutuhan dengan sangat teliti.
Rin duduk di lantai sambil memperhatikannya.
"Berapa sisa?"
Aoi berhenti menulis.
"Kalau semua pengeluaran awal berjalan sesuai perkiraan, sedikit."
"Sedikit itu berapa?"
Aoi menatapnya.
"Jangan tanya kalau kamu tidak siap."
Rin tersenyum.
"Tanya."
Aoi menyebutkan jumlahnya.
Yuka mengeluarkan suara pelan.
"Ah."
Chino ikut melihat papan.
"Segitu?"
"Segitu."
Mei menghela napas.
"Berarti kita harus hati-hati."
"Ya."
Rin tidak terlihat kecewa.
Justru ada sesuatu yang anehnya membuat dadanya terasa ringan.
Dulu, angka-angka yang menentukan hidupnya berada di layar orang lain.
Berapa biaya promosi.
Berapa anggaran kostum.
Berapa nilai dirinya bagi sponsor.
Berapa banyak uang yang dapat dihasilkan tubuh dan wajahnya.
Sekarang angka itu berada di papan tulis mereka sendiri.
Tidak besar.
Tidak aman.
Tetapi dapat dilihat.
Aoi menutup spidol.
"Kita harus tahu ke mana setiap yen pergi."
Rin mengangguk.
"Dan kalau salah?"
"Kita perbaiki."
"Kalau rugi?"
"Kita catat."