[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #101

Era Independen

Pagi datang ke Shimokitazawa bersama suara pintu besi toko yang dibuka satu per satu, derit roda troli pengangkut barang di trotoar, dan aroma kopi dari kedai kecil yang baru menyalakan mesin. Di lantai dua sebuah bangunan tua, pintu studio ECLIPSE terbuka lebar. Udara pagi masuk bersama debu yang beterbangan dalam garis cahaya.

Rin berdiri di tengah ruangan dengan kaus putih polos, celana kerja longgar, dan rambut panjang yang diikat sederhana di belakang kepala. Di satu tangannya ada kuas cat. Di tangan lain terdapat gulungan selotip yang sebagian sudah menempel pada pergelangan tangannya.

Ia memandang dinding yang belum selesai dicat.

"Kalau warna ini terlalu terang, kita harus ulang."

Yuka yang sedang duduk di lantai dengan koran sebagai alas menoleh.

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Karena baru kelihatan setelah kering."

"Rin."

"Ya?"

"Kamu yang memilih warnanya."

Rin menatap dinding.

"Berarti aku harus bertanggung jawab."

Aoi yang sedang memindahkan sebuah rak kecil mendengus.

"Itu perkembangan."

Rin menoleh kepadanya.

"Terima kasih."

"Aku tidak sedang memuji."

Mei tertawa dari sudut ruangan sambil menggulung lengan bajunya. "Biarkan saja. Setidaknya hari ini kita tidak sedang bertengkar dengan perusahaan."

Kalimat itu membuat mereka berhenti sebentar.

Lalu Yuka mengangkat kuas.

"Benar juga."

Mereka kembali bekerja.

Studio kecil itu jauh dari tempat yang layak disebut mewah. Dindingnya penuh noda bekas pemilik sebelumnya. Lantai kayunya memiliki beberapa bagian yang sedikit terangkat. Ventilasi di sudut ruangan mengeluarkan suara berdengung ketika dinyalakan. Bahkan pintu kamar mandi harus didorong sedikit lebih keras agar benar-benar tertutup.

Namun pagi itu tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh.

Mereka mengecat sendiri.

Mereka membersihkan sendiri.

Mereka memindahkan meja sendiri.

Tidak ada staf yang datang membawa daftar pekerjaan. Tidak ada produser yang berdiri dengan tangan terlipat sambil menilai apakah hasilnya cukup bagus untuk citra grup.

Aoi bahkan menempelkan selembar kertas di pintu masuk.

ECLIPSE RECORDS

Tulisan itu masih sedikit miring.

Yuka memperhatikannya dari bawah.

"Logo resminya belum jadi."

"Ini hanya penanda sementara," jawab Aoi.

"Kelihatannya seperti toko fotokopi."

Chino muncul dari belakang dengan dua lembar sketsa.

"Kalau begitu jangan lihat."

Yuka langsung berdiri.

"Mana?"

Chino mengangkat kertas tinggi-tinggi.

"Belum selesai."

"Aku cuma mau lihat."

"Kalau kamu lihat, nanti kamu ikut mengubah."

"Aku memang mau ikut mengubah."

"Itu masalahnya."

Mei menahan tawa.

Rin menyandarkan kuas ke dinding.

"Jangan berantem soal logo sebelum catnya kering."

Yuka dan Chino saling pandang.

"Kita tidak berantem," kata mereka hampir bersamaan.

Aoi menggeleng.

"Baru pagi."

Menjelang pukul sepuluh, dinding utama selesai dicat.

Ruangan masih sederhana, tetapi sekarang cahaya yang masuk melalui jendela memantul lebih lembut pada dinding bersih. Di satu sisi, keyboard dan perangkat rekaman sederhana telah disusun. Di sisi lain, papan tulis berdiri dengan anggaran yang penuh coretan.

Aoi berdiri di depannya dengan laptop terbuka.

"Bagian berikutnya."

Yuka mengerang.

"Anggaran lagi?"

"Ya."

"Kenapa kebebasan ternyata banyak tabelnya?"

Aoi tidak tersenyum.

"Karena kebebasan tanpa pengelolaan uang biasanya berumur pendek."

Mei mengangguk.

"Biarkan dia."

Aoi menampilkan sebuah lembar kerja.

"Ini rancangan pembagian pendapatan digital."

Rin mendekat.

Di layar terdapat beberapa kategori. Pendapatan streaming, penjualan digital, lisensi, biaya distribusi, biaya produksi, dana operasional, dan pembagian untuk anggota.

Aoi menunjuk satu per satu.

"Pertama, semua pemasukan masuk ke rekening kolektif. Tidak ada uang yang masuk ke rekening pribadi sebelum dicatat."

Yuka mengangguk.

"Transparan."

"Setiap anggota bisa melihat laporan."

Chino mendekat.

"Kalau lagu ditulis salah satu dari kita?"

"Nama pencipta tetap mendapat haknya sesuai kesepakatan. Tapi pendapatan yang berasal dari karya ECLIPSE dicatat dengan jelas antara hak pencipta dan pendapatan kolektif."

Rin memperhatikan angka-angka itu.

"Bagaimana dengan biaya perantara?"

Aoi menunjuk bagian lain.

"Kalau kita bisa mengurus sendiri, kita lakukan sendiri. Distribusi digital tetap membutuhkan layanan tertentu, tetapi kita tidak menyerahkan seluruh pengelolaan ke pihak yang bisa mengambil keputusan atas nama kita."

Rin mengangguk perlahan.

Tidak ada lagi satu angka yang muncul dari sebuah kantor jauh tanpa penjelasan.

Tidak ada lagi pendapatan yang terasa seperti sesuatu yang harus mereka percayai begitu saja.

Semua dapat dibuka.

Semua dapat diperiksa.

Semua dapat diperdebatkan.

Mei menunjuk satu baris.

"Dan dana operasional?"

"Masuk sebelum pembagian."

"Bagus."

Yuka mengangkat tangan.

"Pertanyaan."

Aoi menatapnya.

"Kalau nanti kita dapat banyak uang?"

"Catat."

"Kalau sedikit?"

"Catat."

"Kalau nol?"

Aoi menatapnya selama dua detik.

"Juga dicatat."

Yuka tertawa.

"Baik. Sangat Aoi."

Rin menyentuh layar laptop.

"Ini lebih dari sekadar uang."

Aoi mengangguk.

"Ya."

Rin menatap empat orang lainnya.

"Dulu kita menerima hasil. Sekarang kita memahami prosesnya."

Tidak ada yang menjawab.

Namun mereka semua tahu maksudnya.

Kebebasan ternyata tidak selalu terasa seperti berteriak di atas panggung.

Kadang-kadang kebebasan terasa seperti mengetahui dengan tepat ke mana uang hasil kerja sendiri pergi.

Setelah makan siang sederhana dari minimarket, Rin kembali ke meja rekaman.

Perangkat baru yang mereka beli bukan sesuatu yang akan membuat studio profesional iri. Sebuah komputer, antarmuka audio sederhana, mikrofon, headphone, dan beberapa perangkat tambahan memenuhi meja kecil.

Lihat selengkapnya