Siang di Chiyoda terasa lebih tenang daripada yang dibayangkan Rin.
Langit Tokyo pucat setelah hujan pagi. Sisa air masih menempel pada pagar logam di sepanjang trotoar, memantulkan cahaya matahari yang tidak terlalu kuat. Orang-orang berjalan cepat dengan jas kerja, membawa map, tas kulit, atau payung yang belum sempat dikeringkan. Di antara gedung-gedung pemerintahan yang berdiri dengan ketenangan hampir tanpa ekspresi, Rin berjalan bersama Eri dan Shizuka menuju Pengadilan Keluarga Tokyo.
Tidak ada kamera.
Tidak ada penggemar.
Tidak ada reporter yang meneriakkan namanya.
Tidak ada panggung.
Rin mengenakan blus putih sederhana dengan rok panjang berwarna gelap dan mantel tipis. Rambutnya dibiarkan jatuh melewati bahu tanpa styling panggung. Wajahnya hanya memakai riasan tipis. Tidak ada bulu mata dramatis, tidak ada lensa kontak berwarna, tidak ada kostum yang dirancang agar ribuan orang menoleh kepadanya.
Namun setiap beberapa langkah, tangannya secara refleks menyentuh map cokelat yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen identitas lama.
Beberapa surat.
Catatan administrasi.
Dokumen medis dari Dr. Haruto Mizuno.
Rekaman kontrak dan materi publik ECLIPSE.
Dan beberapa bukti sederhana yang, jika dilihat satu per satu, mungkin tampak tidak berarti.
Nama yang tercetak pada kartu identitasnya adalah Ren Tachibana.
Nama yang tertulis dalam kontrak lama adalah Ren Tachibana.
Nama yang selama bertahun-tahun dipaksakan kepadanya adalah Ren.
Tetapi di luar rumah keluarganya, di atas panggung, dalam hubungan profesional, di antara sahabat-sahabatnya, dan sekarang dalam kehidupan sehari-harinya, satu nama terus muncul.
Rin.
Rin Tachibana.
Eri berjalan di sebelah kirinya sambil memeriksa kembali isi map.
"Paspor lama?"
"Ada."
"Dokumen universitas?"
"Ada."
"Catatan penggunaan nama Rin dari kegiatan profesional?"
"Sudah."
"Surat dari dokter?"
Rin mengangguk.
"Sudah ditandatangani."
Eri berhenti sejenak di depan lampu penyeberangan. Tatapannya berpindah dari map ke wajah Rin.
"Dan surat keterangan dari ibumu."
Shizuka yang berdiri di sisi lain Rin mengangkat map tipis miliknya.
"Ini."
Eri menerima dokumen itu, memeriksa halaman pertama, lalu mengembalikannya.
"Bagus."
Rin menarik napas perlahan.
"Masih ada yang kurang?"
"Secara berkas, kita sudah punya dasar yang cukup untuk mengajukan permohonan perubahan nama. Yang perlu kamu pahami adalah pengadilan tidak bekerja berdasarkan kalimat 'saya merasa lebih cocok dengan nama ini'. Mereka ingin melihat bahwa penggunaan nama baru memang nyata, konsisten, dan punya alasan yang masuk akal dalam kehidupanmu."
Eri melirik Rin.
"Jadi jangan mencoba membuat semuanya terdengar dramatis."
Sudut bibir Rin bergerak tipis.
"Aku tidak pandai dramatis."
Shizuka hampir tertawa.
"Padahal kamu tampil di depan ribuan orang."
Rin menoleh kepadanya.
"Itu pekerjaan."
"Dan ini?"
Rin melihat gedung pengadilan yang mulai terlihat di depan.
"Ini hidup."
Jawaban itu membuat Shizuka terdiam.
Eri tidak memberikan komentar. Ia hanya mengangguk kecil sebelum mereka kembali berjalan.
Ruang konsultasi yang mereka gunakan sebelum berkas diserahkan tidak besar. Dindingnya putih pucat. Kursi-kursinya sederhana. Udara di dalam ruangan terlalu dingin, dan suara langkah dari lorong terdengar samar melalui pintu.
Eri membuka laptop.
Di hadapan mereka, beberapa lembar dokumen tersusun dalam urutan yang sudah ditentukan.
"Pertama, pernyataan medis."
Rin duduk tegak.
Eri menggeser dokumen tersebut ke tengah meja.
"Dr. Mizuno tidak memberikan pendapat bahwa nama Rin harus diakui karena alasan medis. Itu penting. Dokumen ini menjelaskan riwayat perawatanmu, konsistensi identitas yang kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari, serta fakta bahwa perubahan nama dapat membantu menyelaraskan identitas administratif dengan kehidupan sosialmu."
Rin menunduk membaca.
Nama legalnya muncul di bagian atas.
Untuk sesaat, jari telunjuknya berhenti di tepi kertas.
Dulu, melihat nama itu membuat dadanya terasa sempit.
Sekarang rasanya berbeda.
Masih menyakitkan.
Tetapi tidak lagi seperti sebuah perintah.
Nama itu mulai terasa seperti sebuah dokumen lama tentang seseorang yang pernah ia gunakan untuk bertahan hidup.
Bukan keseluruhan dirinya.
"Dr. Mizuno menulisnya dengan hati-hati," kata Eri.
"Dia memang begitu."
"Dia juga menegaskan bahwa pengajuan ini bukan permintaan untuk membuktikan sesuatu tentang tubuhmu."
Rin mengangkat mata.
"Bagus."
Eri menutup satu berkas.
"Karena kamu tidak perlu membawa seluruh tubuhmu ke ruang sidang untuk membuktikan siapa dirimu."
Kalimat itu membuat Rin terdiam beberapa detik.
Shizuka yang duduk di sebelahnya memandang putrinya tanpa mengatakan apa-apa.
Rin kemudian mengalihkan pandangan kembali kepada dokumen.
"Selanjutnya?"
"Riwayat penggunaan nama."
Eri mengambil tumpukan lain.
Ada materi promosi ECLIPSE. Poster pertunjukan. Arsip digital yang dicetak. Dokumen kerja. Beberapa korespondensi profesional. Bukti bahwa nama Rin bukan sesuatu yang baru muncul setelah skandal.
Nama itu telah digunakan jauh sebelum dunia mengetahui siapa dirinya.
"Ini bukan berarti pengadilan harus mengakui seluruh kehidupan idolamu sebagai bukti mutlak," kata Eri. "Tetapi rangkaian ini membantu menunjukkan bahwa penggunaan nama Rin berlangsung secara konsisten."
Rin mengangguk.
Ia melihat sebuah foto lama ECLIPSE.
Lima gadis berdiri di bawah lampu panggung.
Aoi dengan ekspresi serius.
Mei tersenyum lebar.
Yuka hampir tidak bisa diam.
Chino berdiri paling muda di antara mereka.
Dan Rin berada di tengah.
Center.
Di foto itu, tidak ada Ren.
Tidak ada keluarga Tachibana.
Tidak ada kontrak yang mengekang.
Hanya lima orang yang baru menemukan panggung.
"Foto ini cukup lama," kata Shizuka.
Rin menoleh.
"Ibu masih ingat?"
"Tentu."
Shizuka tersenyum kecil.
"Walaupun waktu itu aku bahkan belum tahu kamu akan sampai sejauh ini."
Rin memandang ibunya beberapa saat.
"Maaf."
Shizuka mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Karena dulu aku berbohong."
Shizuka menarik napas.
"Rin."