[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #103

Perekrutan Manajer Baru

Sore di Harajuku memiliki suara yang berbeda dari distrik bisnis Tokyo.

Di luar jendela kafe, suara langkah kaki bercampur dengan percakapan anak muda, bunyi sepeda yang melintas, dan musik samar dari toko-toko di seberang jalan. Matahari sudah mulai condong, membuat kaca jendela memantulkan warna keemasan ke atas meja kayu panjang di sudut ruangan.

Kafe itu bukan tempat yang mewah.

Justru sebaliknya.

Rak buku di sepanjang dinding dipenuhi majalah desain, buku fotografi, dan beberapa album musik independen. Poster konser lokal menempel tidak beraturan di dinding bata. Kabel lampu menggantung di atas bar. Aroma kopi, kayu, dan kertas bercampur menjadi sesuatu yang hangat.

ECLIPSE memilih tempat itu karena tidak ada seorang pun yang membutuhkan mereka menjadi sesuatu yang lebih besar daripada lima orang yang sedang membicarakan pekerjaan.

Hari itu mereka datang berenam.

Lima anggota ECLIPSE.

Dan satu orang yang selama beberapa minggu terakhir sedang mencoba mencari pekerjaan baru.

Sato duduk di sisi seberang meja.

Usianya baru dua puluh tiga tahun, tetapi wajahnya tampak lebih tua daripada angka tersebut. Bukan karena kerutan. Melainkan karena ada kebiasaan menahan diri yang terbentuk setelah seseorang terlalu sering belajar bahwa perkataan orang lain bisa menghancurkan hidupnya.

Kedua tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah hampir tidak disentuh.

Di depannya terdapat sebuah amplop putih.

Sato belum membukanya.

Aoi meletakkan sebuah map hitam di atas meja.

"Ini drafnya."

Sato melihat map itu.

Kemudian melihat Aoi.

"Kontrak?"

"Kerja sama manajemen."

Aoi mendorongnya perlahan ke tengah meja.

"Kalau Anda menerima, Anda akan menjadi Kepala Manajer Operasional ECLIPSE Records."

Sato tidak langsung menyentuhnya.

Rin duduk di samping Aoi. Hari itu ia mengenakan sweater tipis warna krem dan rok panjang sederhana. Rambutnya jatuh alami di bahu. Tidak ada riasan panggung yang membuat wajahnya terlihat seperti Center ECLIPSE.

Namun Sato tetap menatapnya beberapa detik.

Bukan karena penampilannya.

Melainkan karena sulit mempercayai bahwa gadis yang dulu pernah ia lihat berdiri di sudut studio sambil menerima keputusan manajemen dengan wajah pucat kini duduk di depannya sebagai salah satu pendiri perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepadanya.

Rin tersenyum kecil.

"Anda boleh membacanya pelan-pelan."

Sato akhirnya menyentuh map itu.

Tangannya sedikit gemetar.

"Kenapa saya?"

Pertanyaan itu keluar hampir seperti bisikan.

Aoi menjawab lebih dulu.

"Karena kami sudah melihat cara Anda bekerja."

Sato menunduk.

"Itu sebelum semuanya terjadi."

"Justru setelah semuanya terjadi," kata Rin.

Sato mengangkat wajah.

Rin menatapnya dengan tenang.

"Kami melihat apa yang terjadi setelah Anda difitnah."

Kata itu membuat jari Sato berhenti di atas sampul kontrak.

Difitnah.

Bukan dipecat karena kesalahan.

Bukan mengundurkan diri.

Bukan gagal bekerja.

Difitnah.

Ia masih ingat tangga darurat di kantor lama.

Kotak kardus di tangannya.

Surat pemutusan hubungan kerja yang bahkan tidak memberinya kesempatan menjelaskan.

Dan kalimat yang paling menyakitkan.

Perusahaan tidak bisa mempertahankan orang yang sudah kehilangan kepercayaan.

Padahal ia tahu persis bahwa kepercayaan itu dihancurkan oleh orang lain.

Sato menelan ludah.

"Saya tidak yakin saya masih cocok bekerja di industri ini."

Mei, yang duduk di sebelahnya, meletakkan gelas tehnya.

"Kalau Anda tidak cocok, Anda pasti tidak akan datang."

Sato tersenyum pahit.

"Saya datang karena penasaran."

"Berarti masih ada sedikit bagian dari diri Anda yang ingin kembali."

Sato tidak menjawab.

Yuka menyandarkan dagunya pada tangan.

"Kami juga tidak sedang mencari orang yang mau bilang iya untuk semua hal."

Sato menatapnya.

"Kami sudah punya pengalaman dengan itu."

Yuka mengucapkannya ringan, tetapi tidak perlu menjelaskan siapa yang dimaksud.

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

Ryuuto.

Nama itu tidak perlu disebut.

Semua orang di meja tahu.

Chino memainkan sedotan minumannya pelan.

"Yang kami butuhkan justru orang yang berani bilang tidak."

Sato mengangkat alis.

"Pada siapa?"

Aoi menjawab tanpa ragu.

"Pada kami juga."

Sato membuka map tersebut.

Halaman pertama berisi struktur kerja sama.

Tidak ada bahasa yang berusaha menjadikan dirinya sebagai bawahan tanpa suara. Tugasnya dijelaskan dengan rinci. Koordinasi jadwal. Hubungan dengan penyelenggara acara. Administrasi pekerjaan. Pengawasan keselamatan anggota. Komunikasi dengan vendor. Dokumentasi keuangan operasional yang berkaitan dengan kegiatan lapangan.

Ia membalik halaman.

Kemudian halaman berikutnya.

Ada satu bagian yang membuat matanya berhenti.

Keputusan yang menyangkut keselamatan, kesehatan, atau kondisi kerja anggota wajib mempertimbangkan persetujuan anggota terkait.

Sato membaca ulang.

"Ini benar-benar berlaku?"

Aoi mengangguk.

"Ya."

"Kalau saya sebagai manajer menganggap sebuah pekerjaan aman, tapi salah satu member menolak?"

"Harus dibicarakan."

"Kalau akhirnya tidak sepakat?"

Rin menjawab.

"Member punya hak untuk menolak."

Sato menatap Rin.

"Walaupun secara bisnis merugikan?"

"Ya."

Jawabannya begitu tenang sehingga Sato tidak langsung menemukan celah untuk membantah.

"Kalau begitu Anda akan kehilangan banyak kesempatan."

"Mungkin."

Rin mengangkat cangkirnya.

"Tapi kami sudah pernah punya manajer yang menganggap kesempatan lebih penting daripada manusia."

Ia menyesap kopi.

"Kami tidak mau mengulanginya."

Sato menunduk lagi.

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia pernah berdiri di tempat yang sama.

Menyaksikan keputusan dibuat atas nama efisiensi.

Menyaksikan seseorang dikorbankan agar struktur tetap terlihat bersih.

Dan ketika ia mencoba mempertanyakan keputusan itu, justru namanya yang dijadikan masalah.

"Saya takut," katanya akhirnya.

Kali ini tidak ada yang bercanda.

Mei menunggu.

Sato menggosok ibu jarinya pada sisi cangkir.

"Kalau saya gagal lagi?"

Suaranya mulai bergetar.

"Kalau saya membuat kesalahan?"

Ia menarik napas.

Lihat selengkapnya