Perjalanan menuju Hakone memakan waktu hampir dua jam, cukup lama untuk membuat Yuka Kasumigaoka tertidur dengan kepala bersandar pada bahu Mei, kemudian terbangun hanya untuk mengeluh bahwa pemandangan di luar jendela terlalu indah untuk dilewatkan. Chino Hoshino sibuk mengambil foto pegunungan yang sesekali terlihat di sela pepohonan, sementara Aoi Nanami memeriksa ulang daftar barang bawaan mereka untuk ketiga kalinya, seolah-olah kemungkinan tertinggalnya satu pengisi daya akan menggagalkan seluruh perjalanan.
Rin Tachibana duduk di dekat jendela, memperhatikan deretan rumah tradisional dan pepohonan hijau yang semakin rapat ketika kendaraan mereka meninggalkan jalan utama. Udara musim panas di luar tampak berkilau di bawah matahari sore. Sesekali, ia menangkap bayangan wajahnya sendiri pada kaca jendela, bertumpang tindih dengan lanskap yang bergerak perlahan.
Beberapa bulan lalu, perjalanan seperti ini akan menjadi sumber kecemasan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ia akan menghitung kemungkinan bertemu orang yang mengenal Ren Tachibana, memikirkan dokumen identitas yang mungkin diperlukan, dan menimbang apakah sebuah tempat cukup aman baginya untuk sekadar menikmati liburan. Bahkan saat bersama orang-orang yang dipercayainya, sebagian dirinya selalu berjaga-jaga.
Sekarang, album pertama mereka sebagai grup independen telah selesai direkam. Mereka tidak sedang menuju sebuah pertunjukan, rapat dengan agensi, atau lokasi pengambilan gambar yang jadwalnya diatur sampai hitungan menit. Mereka hanya pergi berlibur.
Gagasan sesederhana itu masih terasa asing baginya.
“Rin, lihat!”
Yuka mendadak mencondongkan tubuh ke arahnya, membuat Rin sedikit terkejut. Di luar jendela, lereng hijau membentang di antara kabut tipis. Sebuah kereta gantung terlihat bergerak jauh di kejauhan.
“Cantik, kan?” Yuka menunjuk pemandangan itu dengan antusias. “Kalau kita punya waktu besok, kita harus naik itu.”
“Kita sudah punya jadwal besok,” jawab Aoi tanpa mengangkat wajah dari ponselnya.
“Jadwal liburan juga bisa diubah.”
“Kalau begitu, mengapa kamu bertanya kepadaku?”
“Karena kamu yang paling jago mengubah jadwal tanpa membuat semuanya berantakan.”
Aoi akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Yuka selama dua detik, lalu mengembuskan napas yang terdengar seperti kekalahan kecil.
“Kita lihat besok.”
Yuka mengangkat kedua tangannya sebagai tanda kemenangan.
Rin tertawa pelan. Mei yang duduk di sebelahnya melirik dengan senyum tipis.
“Kamu kelihatan lebih santai hari ini.”
Rin menoleh. “Memangnya biasanya aku terlihat seperti apa?”
“Seperti seseorang yang sedang memikirkan tujuh hal sekaligus, tetapi tidak mau memberi tahu enam di antaranya.”
“Itu tuduhan yang sangat spesifik.”
“Karena aku sudah mengenalmu cukup lama untuk membuat tuduhan yang spesifik.”
Rin hendak membalas, tetapi kata-katanya terhenti ketika Mei menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Rin. Gerakan itu begitu biasa, begitu tidak dibuat-buat, sampai Rin tidak merasa perlu mengatur posisi tubuhnya atau memikirkan bagaimana orang lain akan melihat mereka.
Ia hanya membiarkan Mei bersandar.
Di kursi depan, Sato memutar tubuh sedikit dari tempat duduknya. Sebagai orang yang mengurus operasional ECLIPSE Records, dialah yang memilih tempat penginapan mereka, mengatur perjalanan, dan memastikan bahwa untuk kali ini tidak ada seorang pun yang perlu memikirkan pekerjaan.
“Penginapan kita sudah dekat,” katanya. “Saya sudah memastikan bahwa pemandian privatnya hanya dapat digunakan oleh kelompok Anda selama waktu yang dipesan. Tidak ada tamu lain yang akan berbagi fasilitas tersebut.”
“Benarkah?” Chino langsung mencondongkan tubuh dari kursi belakang. “Jadi kita benar-benar bisa memakai seluruh pemandian itu sendiri?”
“Betul.”
“Kalau begitu, aku mau berendam sampai jari-jariku keriput!”
“Jangan terlalu lama,” kata Aoi.
“Baru juga membayangkan, Aoi!”
Sato tersenyum kecil sebelum kembali menghadap ke depan. “Silakan menikmati waktu istirahat Anda. Untuk urusan album, tidak ada yang perlu dibahas sampai kita kembali.”
Yuka menatapnya penuh rasa hormat. “Sato-san, Anda baru saja mengatakan kalimat paling indah yang pernah saya dengar.”
“Kalau begitu, saya harap Anda juga mengingatnya ketika sudah waktunya kembali bekerja.”
“Ah, kenapa kalimat indah selalu punya masa berlaku?”
Tawa memenuhi kendaraan.
Rin ikut tertawa, kali ini tanpa berusaha mengecilkan suaranya.
Ryokan itu berdiri di antara pepohonan di sebuah sudut Hakone yang tenang. Bangunannya mempertahankan bentuk tradisional Jepang dengan atap genting gelap, lorong kayu yang mengilap, dan pintu geser yang membuka ke taman kecil. Aroma cedar samar-samar memenuhi udara, bercampur dengan wangi tanah lembap dan dedaunan yang terkena embun sore.
Setelah meletakkan barang-barang mereka, kelima anggota ECLIPSE berkumpul di kamar tatami yang luas. Sinar matahari senja menembus kisi-kisi jendela, membentuk garis-garis keemasan di atas lantai. Di atas meja rendah telah tersedia teh dingin dan kudapan yang membuat Yuka segera melupakan rencana untuk mengelilingi penginapan.
“Sebentar lagi pemandian privatnya siap,” kata Mei sambil memeriksa waktu. “Kita bisa bergantian membersihkan diri dulu, lalu masuk bersama.”
Chino sudah duduk bersila dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut. “Aku sudah menunggu bagian ini sejak Sato-san bilang kita akan ke Hakone.”
“Padahal perjalanan tadi kamu tidur hampir satu jam,” ujar Aoi.
“Itu namanya menghemat energi.”
“Itu namanya tidur.”
“Dua hal itu tidak saling bertentangan.”
Mei terkekeh. Rin tersenyum sambil menuangkan teh ke cangkirnya sendiri, tetapi tangannya melambat ketika pandangannya jatuh pada pintu yang mengarah ke area pemandian.
Ia tahu fasilitas itu privat. Ia tahu hanya mereka berlima yang akan berada di sana. Ia juga tahu bahwa tidak seorang pun di antara mereka akan sengaja membuatnya merasa tidak nyaman.
Namun, pengetahuan tidak selalu berhasil menenangkan tubuh.
Ada bagian dalam dirinya yang masih mengingat ruang ganti, tatapan orang asing, pantulan cermin yang dahulu terasa seperti milik seseorang yang tidak dikenalnya. Ada ingatan tentang pakaian yang dipilih bukan karena ia menyukainya, melainkan karena pakaian itu menyembunyikan bagian dirinya yang belum sanggup ia hadapi. Bahkan setelah perubahan yang dibawanya melalui perawatan medis, bahkan setelah orang-orang di sekelilingnya mulai memanggilnya Rin tanpa keraguan, kewaspadaan itu belum sepenuhnya hilang.
Ia meletakkan cangkirnya.
“Aku akan menyusul kalian nanti,” katanya. “Aku ingin membereskan beberapa barang dulu.”
Mei tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan jemari Rin yang merapikan ujung lengan bajunya, gerakan kecil yang berulang meskipun kain itu sudah rapi.
“Barang apa?” tanya Mei lembut.
Rin membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Tidak ada barang yang benar-benar perlu dibereskan.
Aoi, yang sejak tadi duduk di dekat meja, meletakkan ponselnya. Tatapannya berpindah dari wajah Rin ke pintu pemandian, kemudian kembali lagi. Ia tidak mendesak Rin menjelaskan sesuatu yang mungkin bahkan belum sanggup dirumuskannya sendiri.
“Kita tidak sedang terburu-buru,” kata Aoi. “Kalau kamu butuh waktu, kita tunggu.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada nada iba, tidak ada pertanyaan tentang tubuh Rin, dan tidak ada usaha meyakinkannya bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
Justru kesederhanaan itulah yang membuat dada Rin terasa sesak.
“Aku ingin ikut,” akunya setelah beberapa saat. “Aku hanya belum terbiasa.”
Mei mengulurkan tangan di atas meja rendah, telapak tangannya terbuka.
“Kalau begitu, jangan biasakan dirimu sendirian.”
Rin memandang tangan itu.
Ia pernah menerima banyak bentuk dukungan selama perjalanan panjangnya. Ada orang yang mengatakan bahwa ia kuat, ada yang memuji keberaniannya, dan ada yang menganggap setiap langkahnya sebagai kemenangan besar. Namun, terkadang semua pujian itu membuat hidupnya terasa seperti ujian yang harus terus-menerus ia lewati dengan baik.
Mei tidak meminta Rin menjadi kuat. Ia hanya menawarkan tangannya.
Rin menyambutnya.
Aoi bangkit, lalu berdiri di sisi mereka. “Ayo. Kita masuk bersama. Tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.”
Yuka segera berdiri dengan semangat berlebihan. “Dan kalau ada yang mencoba membuat suasana jadi canggung, aku akan mengalihkan perhatian dengan cara yang sangat profesional.”
“Kamu akan membuat keributan,” kata Aoi.
“Keributan yang profesional.”
Chino tertawa sampai bahunya berguncang.
Rin ikut berdiri. Kali ini, ketika ia berjalan menuju pintu, tangannya tidak lagi meremas ujung bajunya.
Pemandian terbuka itu berada di balik bangunan utama, dikelilingi pagar kayu tinggi dan bebatuan yang disusun mengikuti kontur taman. Uap tipis mengambang di atas permukaan air panas. Lampu taman berwarna keemasan menerangi batang-batang bambu, sementara langit malam mulai mengambil alih warna jingga yang tersisa di ufuk.
Dari kejauhan terdengar suara serangga musim panas. Sesekali, dedaunan bergerak ketika angin melewati taman, membawa udara malam yang sejuk ke atas permukaan air.
Mereka mengikuti kebiasaan pemandian Jepang dengan membersihkan tubuh terlebih dahulu di area yang disediakan sebelum masuk ke kolam. Setelah semuanya selesai, kelima gadis itu mendekati air dengan langkah hati-hati, menikmati kontras antara udara malam yang sejuk dan hangatnya uap yang menyentuh kulit.
Rin berhenti di tepi kolam.
Airnya tampak tenang. Cahaya lampu bergoyang di permukaannya, terpecah oleh riak kecil yang muncul ketika Yuka mencelupkan ujung kakinya.
“Wah, hangat sekali!” seru Yuka.
“Masuklah perlahan,” kata Aoi. “Jangan langsung bergerak terlalu banyak.”