[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #107

Tawaran Kontrak Raksasa

Gedung pencakar langit di Roppongi itu memantulkan cahaya matahari siang melalui dinding kacanya yang menjulang puluhan lantai. Dari ruang rapat di lantai tiga puluh dua, Tokyo terbentang seperti jaringan sirkuit raksasa. Jalan-jalan tampak mengecil menjadi garis-garis kelabu, kereta bergerak di antara bangunan, dan papan reklame di kejauhan berkilau di bawah langit musim panas yang cerah.

Rin Tachibana berdiri di dekat jendela sebelum rapat dimulai. Blazer berwarna krem yang dikenakannya jatuh rapi di atas blus putih, dipadukan dengan rok gelap berpotongan sederhana. Rambutnya ditata dengan gaya yang tidak berlebihan, sementara sebuah map tipis berisi salinan dokumen hukum berada dalam genggamannya. Penampilannya profesional, tenang, dan jauh dari citra panggung yang selama ini dikenal penggemar ECLIPSE.

Namun, ketenangan itu bukan berarti ia datang tanpa persiapan.

Semalam, ia membaca draf perjanjian yang dikirimkan calon mitra mereka sampai lewat tengah malam. Pagi tadi, ia membacanya kembali, kali ini dengan catatan dari penasihat hukum yang membantu ECLIPSE Records. Beberapa klausul telah diberi tanda, beberapa definisi diminta untuk diperjelas, dan dua pasal mengenai kepemilikan rekaman sudah ia lingkari dengan tinta merah.

Di atas meja rapat, Aoi Nanami melakukan hal yang hampir sama. Di hadapannya terbentang dokumen cetak dengan penanda warna yang disusun berdasarkan tingkat kepentingan. Biru untuk hal yang perlu diklarifikasi, kuning untuk klausul yang berpotensi menimbulkan ambiguitas, dan merah untuk ketentuan yang tidak dapat mereka terima.

Aoi memutar pena di antara jemarinya, lalu menghentikannya tepat di atas sebuah paragraf.

“Definisi tentang materi promosi masih terlalu luas,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Mereka bisa menafsirkan hak penggunaan materi itu sebagai izin untuk membuat kampanye baru, termasuk mengubah konteks pernyataan kita.”

Rin berjalan mendekat dan menarik kursi di sebelahnya.

“Pasal empat ayat dua?”

“Dan lampirannya.” Aoi menggeser selembar kertas ke arahnya. “Di bagian utama, mereka hanya menyebut materi promosi yang telah disetujui bersama. Di lampiran, istilahnya berubah menjadi materi yang berkaitan dengan pemasaran album.”

Rin membaca kedua bagian itu secara bergantian. Ujung jarinya berhenti pada kalimat terakhir.

“Berarti mereka bisa berargumen bahwa wawancara baru, dokumenter tambahan, atau potongan video dari arsip lama termasuk dalam lingkup penggunaan yang sudah disepakati.”

“Benar. Kita tidak bisa menyerahkan penafsiran seluas itu kepada pihak lain.”

Rin mengambil pena, lalu menulis catatan pendek di tepi halaman.

Penggunaan materi di luar aset yang disetujui wajib memperoleh persetujuan tertulis ECLIPSE Records.

“Ini harus diperjelas sebelum penandatanganan,” katanya.

Aoi mengangguk. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada rasa puas karena berhasil menemukan celah. Bagi mereka, membaca kontrak bukan permainan untuk mengalahkan pihak yang lebih besar. Ini adalah cara memastikan bahwa kebebasan yang mereka bangun dengan susah payah tidak menghilang melalui kalimat-kalimat kecil yang baru terasa berbahaya beberapa tahun kemudian.

Pintu ruang rapat terbuka.

Sato masuk lebih dahulu, membawa tablet dan sebuah map tambahan. Ia mengenakan setelan gelap dengan dasi yang disimpulkan rapi. Di belakangnya, Eri Takagi, penasihat hukum yang mendampingi ECLIPSE Records dalam negosiasi penting ini, berjalan sambil memeriksa beberapa halaman dokumen.

“Selamat siang,” ujar Sato. “Perwakilan mereka sudah tiba. Saya persilakan Anda semua menempati tempat masing-masing.”

“Terima kasih, Sato-san,” jawab Aoi.

Eri meletakkan mapnya di atas meja. “Saya sudah menerima revisi awal dari pihak mereka. Ada beberapa perubahan yang cukup baik, tetapi kita tetap harus memastikan bahwa redaksinya konsisten di seluruh dokumen.”

Rin menutup map pribadinya.

“Kalau mereka bersedia mempertahankan hak atas master rekaman di tangan kita, saya ingin memastikan tidak ada pasal lain yang memberikan kendali serupa melalui jalur berbeda.”

Eri menatapnya sejenak, kemudian mengangguk.

“Itu pendekatan yang tepat. Hak kepemilikan dan hak penggunaan harus dibedakan dengan jelas. Sebuah kontrak bisa menyebut bahwa Anda tetap memiliki master, tetapi memberikan lisensi yang begitu luas sehingga secara praktis Anda kehilangan kendali atas pemanfaatannya.”

Aoi menyandarkan punggung ke kursi. “Itulah yang ingin kami hindari.”

Rin melirik ke arah jendela. Kota di bawah sana bergerak tanpa mengetahui bahwa lima orang di sebuah ruang rapat sedang menentukan bagaimana sebuah grup independen akan menghadapi industri musik nasional.

Dahulu, ia mengira pintu menuju panggung yang lebih besar hanya dapat dibuka oleh orang-orang yang sudah menguasai industri. Agensi, produser, perusahaan rekaman, jaringan promosi, dan pemilik modal tampak seperti lapisan-lapisan yang tidak mungkin ditembus oleh kelompok kecil tanpa dukungan yang memadai.

Sekarang, sebuah perusahaan besar datang kepada mereka.

Bukan untuk merekrut Rin seorang diri. Bukan untuk membeli nama ECLIPSE, mengubah citra grup, atau mengambil alih keputusan kreatif mereka.

Setidaknya, itulah yang tertulis dalam tawaran awal.

Dan Rin sudah cukup lama hidup di antara kata-kata yang terdengar menjanjikan untuk mengetahui bahwa sebuah tawaran harus diperiksa sebelum dipercaya.

Takahashi datang tepat waktu.

Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Rambutnya yang mulai memperlihatkan sedikit warna kelabu di pelipis dipotong rapi, dan setelan abu-abunya tidak mencolok. Ia membawa tas kerja kulit tipis, lalu membungkuk sopan ketika diperkenalkan kepada Rin, Aoi, Eri, dan Sato.

“Saya Takahashi dari departemen kemitraan internasional,” katanya. “Terima kasih telah menyediakan waktu untuk pertemuan ini.”

“Terima kasih juga sudah datang,” jawab Rin.

Mereka bertukar salam sebelum duduk. Takahashi menempatkan sebuah tablet di tengah meja, lalu membuka presentasi yang telah disiapkan timnya.

Logo perusahaan musik itu muncul di layar, disusul beberapa grafik distribusi dan peta yang menampilkan jaringan pasar di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan sejumlah wilayah lain. Nama perusahaan tersebut memiliki bobot yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Katalog artisnya meliputi penyanyi pop arus utama, grup rock, musisi elektronik, hingga sejumlah nama Jepang yang telah membangun basis penggemar internasional.

ECLIPSE, yang beberapa bulan lalu masih berjuang menjaga keberlangsungan grup setelah konflik dengan Vivid Prominence, kini sedang duduk di hadapan perwakilan perusahaan yang memiliki akses ke jaringan distribusi global.

Takahashi tidak memulai presentasinya dengan pujian berlebihan. Ia langsung menjelaskan alasan perusahaannya tertarik.

“Kami mengikuti perkembangan ECLIPSE sejak beberapa bulan terakhir. Pada awalnya, perhatian kami tertuju pada pertumbuhan audiens dan respons terhadap rilisan kalian. Namun, setelah mendengarkan materi yang lebih lengkap dan mempelajari bagaimana ECLIPSE Records dibentuk, kami melihat sesuatu yang lebih penting daripada angka penjualan.”

Ia mengganti slide.

Sampul album pertama mereka muncul di layar, disusul beberapa cuplikan visual dari proses rekaman. Tidak ada foto yang diambil tanpa izin. Tidak ada gambar lama yang sengaja ditampilkan untuk mengundang sensasi. Tim Takahashi tampaknya memahami bahwa pertemuan ini bukan tempat untuk memanfaatkan masa lalu Rin sebagai bahan presentasi.

“ECLIPSE memiliki narasi yang tumbuh dari pengalaman nyata,” lanjutnya. “Tetapi kami tidak ingin memperlakukannya sebagai kampanye yang dapat diproduksi ulang sesuai kebutuhan pemasaran. Nilai kelompok ini terletak pada musiknya, hubungan antaranggotanya, dan keputusan untuk membangun jalur independen setelah mengalami konflik dengan struktur industri yang lama.”

Rin memperhatikan cara Takahashi memilih kata. Ia tidak menyebut penderitaan sebagai komoditas. Ia juga tidak menjadikan identitas Rin sebagai satu-satunya alasan perusahaan mereka tertarik.

Meski demikian, ia belum membiarkan dirinya merasa lega.

“Jadi, bentuk kerja sama yang Anda tawarkan seperti apa?” tanya Aoi.

Takahashi mengangguk, seolah memang menunggu pertanyaan itu.

“Kami menawarkan kemitraan distribusi fisik dan digital dengan cakupan global. Perusahaan kami akan menangani distribusi album, pengiriman ke mitra ritel, pengelolaan ketersediaan katalog pada platform digital, pelaporan penjualan, serta dukungan pemasaran internasional berdasarkan rencana yang disepakati bersama.”

Ia menampilkan slide berikutnya. Sebuah diagram menunjukkan pembagian tanggung jawab antara ECLIPSE Records dan perusahaan mereka.

“ECLIPSE Records tetap menjadi pihak yang memegang kendali atas produksi musik, pemilihan lagu, aransemen, proses rekaman, desain artistik, dan keputusan mengenai citra publik grup. Kami tidak meminta hak untuk mengganti produser, menentukan repertoar, atau mengubah arah kreatif ECLIPSE.”

Aoi tidak langsung menanggapi. Ia membaca diagram itu sekali lagi, kemudian membuka halaman yang sesuai pada dokumen cetaknya.

“Dalam praktiknya, apakah perusahaan Anda dapat menolak sebuah lagu untuk dirilis karena dianggap tidak sesuai dengan strategi pemasaran?”

“Tidak, selama materi tersebut memenuhi kewajiban teknis dan hukum yang berlaku serta tidak melanggar ketentuan yang secara jelas tercantum dalam kontrak,” jawab Takahashi. “Kami dapat menyampaikan rekomendasi komersial, tetapi keputusan kreatif tetap berada pada ECLIPSE Records.”

“Bagaimana dengan citra publik?” Rin menyela. “Apakah ada ketentuan mengenai wawancara, penampilan, pakaian panggung, atau pernyataan anggota?”

“Tidak ada hak persetujuan sepihak bagi kami untuk hal-hal tersebut. Kami dapat menawarkan peluang promosi dan mengajukan jadwal, tetapi partisipasi serta materi yang melibatkan identitas dan pernyataan anggota tetap harus disetujui oleh pihak kalian.”

“Termasuk apabila tim pemasaran merasa sebuah narasi pribadi akan meningkatkan penjualan?” tanya Rin.

Takahashi berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Termasuk itu. Kami dapat mengusulkan kampanye yang menurut kami relevan, tetapi kami tidak dapat memaksa anggota ECLIPSE membuka kehidupan pribadi mereka demi kepentingan pemasaran.”

Jawaban itu tidak membuat Rin sepenuhnya percaya. Namun, untuk pertama kalinya dalam beberapa pertemuan bisnis, ia merasa pertanyaannya dijawab sebagai persoalan yang memang layak dipertimbangkan, bukan sebagai gangguan terhadap negosiasi.

Ia menutup halaman presentasi di tabletnya.

“Baik. Kalau begitu, kita perlu memeriksa bagaimana seluruh prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam pasal-pasal kontrak.”

Takahashi mengangguk. “Tentu. Saya berharap pertemuan ini menjadi awal kemitraan yang bertahan lama, bukan sekadar transaksi untuk satu album.”

Sato, yang sejak tadi mencatat beberapa poin, mengangkat pandangannya.

“Kalau begitu, saya rasa kita bisa mulai dari lingkup hak distribusi dan pembagian tanggung jawab operasional.”

Pertemuan beralih dari presentasi ke pembahasan kontrak.

Dan suasana ruang rapat pun berubah.

Aoi menjadi orang pertama yang membuka pasal mengenai kepemilikan rekaman.

Ia mendorong dokumen itu sedikit ke tengah meja, kemudian menunjuk sebuah paragraf yang telah diberi garis merah.

“ECLIPSE Records tidak akan menjual hak cipta master rekaman kepada pihak ketiga. Kami dapat memberikan lisensi distribusi sesuai wilayah dan jangka waktu yang disepakati, tetapi kepemilikan master harus tetap berada pada perusahaan kami.”

Tidak ada nada tinggi dalam suaranya. Aoi tidak berusaha membuat pernyataannya terdengar seperti ultimatum. Ia hanya menyampaikannya dengan ketegasan seseorang yang sudah memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan.

Takahashi menunduk untuk membaca bagian yang ditunjuknya.

“Apakah kalian bersedia memberikan lisensi eksklusif selama masa kontrak?”

“Kami bersedia membahas eksklusivitas untuk layanan distribusi yang secara khusus tercantum dalam perjanjian,” jawab Aoi. “Namun, eksklusivitas itu tidak boleh diartikan sebagai pengalihan kepemilikan. Setelah kontrak berakhir, kami harus dapat mengambil kembali kendali operasional atas katalog tanpa hambatan yang tidak masuk akal.”

Rin melanjutkan, “Kami juga membutuhkan ketentuan yang jelas mengenai penggunaan master di luar distribusi. Misalnya, lisensi untuk iklan, film, serial televisi, gim, atau produk komersial lainnya harus membutuhkan persetujuan tertulis dari ECLIPSE Records. Hak distribusi album tidak boleh otomatis menjadi hak untuk mengeksploitasi rekaman kami di semua jenis media.”

Takahashi membaca ulang pasal tersebut. Ia kemudian meminta waktu sebentar untuk memeriksa catatan dari tim legalnya.

Ruang rapat menjadi sunyi.

Di balik dinding kaca, awan tipis bergerak perlahan melewati gedung-gedung di kejauhan. Suara pendingin ruangan terdengar samar. Rin memperhatikan Takahashi membalik halaman, berhenti pada satu paragraf, lalu membuat catatan di tabletnya.

Ia mengenali pola itu. Seorang negosiator sedang mempertimbangkan batas antara sesuatu yang masih bisa dinegosiasikan dan sesuatu yang harus dibawa kembali kepada tim internal.

Rin tidak mencoba mengisi keheningan.

Ia telah belajar bahwa diam tidak selalu berarti kelemahan. Kadang-kadang, diam memberi pihak lain ruang untuk memperlihatkan apakah mereka benar-benar memahami posisi yang sedang dihadapi.

Takahashi akhirnya mengangkat wajah.

“Saya memahami alasan kalian. Kami tidak perlu memiliki master untuk menjalankan distribusi. Dari sisi operasional, hak distribusi yang dirumuskan dengan tepat sudah memadai.”

Aoi tidak langsung mengendurkan bahunya.

“Apakah itu berarti perusahaan Anda bersedia mencantumkan secara eksplisit bahwa kepemilikan master tetap berada pada ECLIPSE Records?”

“Ya.”

Lihat selengkapnya