[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #108

Perpisahan Kampus Kedokteran

Siang itu, langit Bunkyo bersih setelah hujan singkat yang turun menjelang tengah hari. Air masih menempel pada pagar besi dan dedaunan di sepanjang jalan menuju kampus, memantulkan cahaya matahari yang sesekali terhalang awan. Mahasiswa berlalu-lalang melewati gerbang universitas dengan jas putih tersampir di lengan, buku tebal dalam tas, dan percakapan tentang jadwal praktikum yang terdengar sampai ke trotoar.

Di antara mereka, Rin Tachibana berjalan seorang diri.

Ia mengenakan blus berwarna gading dengan kerah sederhana, celana panjang berpotongan lurus, dan kardigan tipis berwarna abu-abu muda. Sepatu kulitnya beradu pelan dengan jalan setapak. Rambutnya dibiarkan jatuh melewati bahu, ditata sederhana tanpa aksesori mencolok. Sebuah tas tangan menggantung di lengan kirinya, berisi dokumen yang sudah ia periksa beberapa kali sejak pagi.

Tidak ada pakaian panggung, tidak ada riasan yang sengaja dibuat dramatis, dan tidak ada usaha untuk menarik perhatian. Penampilannya justru terasa begitu biasa sehingga siapa pun yang berpapasan dengannya mungkin akan mengira ia seorang pengunjung yang hendak menemui dosen.

Namun, bagi Rin, berjalan melewati gerbang itu bukanlah kunjungan biasa.

Ia pernah melewati jalan yang sama dengan langkah cepat, kepala dipenuhi jadwal kuliah, tugas, dan tuntutan yang seolah tidak pernah memberi ruang bagi pertanyaan tentang dirinya sendiri. Ia pernah berdiri di depan gedung fakultas dengan jas putih di tangan, berusaha meyakinkan diri bahwa selama ia cukup disiplin, cukup pintar, dan cukup patuh, ia akan sanggup menjalani kehidupan yang telah disiapkan untuknya.

Ia juga pernah duduk di ruang kuliah sambil mendengarkan penjelasan tentang tubuh manusia, mencatat setiap istilah dengan ketelitian seorang mahasiswa yang tidak ingin tertinggal, lalu pulang membawa kegelisahan yang tidak bisa ia masukkan ke dalam satu pun jawaban ujian.

Di sini, ia pernah menjadi Ren Tachibana, mahasiswa kedokteran tahun pertama dari keluarga yang namanya dikenal di lingkungan medis. Seorang anak yang dianggap memiliki masa depan cemerlang. Seseorang yang seolah sudah memiliki jalan hidup sebelum sempat memutuskan apakah jalan itu benar-benar miliknya.

Rin memperlambat langkah ketika bangunan fakultas mulai terlihat di balik deretan pohon.

Cat pada papan nama gedung masih sama. Pintu kaca di lobi masih memantulkan orang-orang yang keluar masuk. Bahkan aroma khas koridor itu, campuran disinfektan, kertas, dan udara pendingin ruangan, masih terasa seperti sesuatu yang tersimpan dalam ingatan tubuhnya.

Ia berhenti sejenak di depan pintu masuk.

Jemarinya merapikan tali tas di bahu. Tarikan napasnya sedikit lebih dalam daripada biasanya, tetapi ia tidak memalingkan wajah atau mencari alasan untuk menunda kedatangannya.

Ia tidak datang untuk bersembunyi.

Ia juga tidak datang untuk menuntut siapa pun mengerti seluruh perjalanan hidupnya.

Hari ini, ia datang untuk menyelesaikan sesuatu.

Rin mendorong pintu kaca dan melangkah masuk.

Koridor lantai pertama dipenuhi mahasiswa yang baru selesai mengikuti perkuliahan. Sebagian berjalan berkelompok sambil membicarakan ujian, sementara yang lain duduk di bangku dekat jendela, membaca materi atau menghabiskan minuman dari mesin otomatis. Dari salah satu ruang kelas, terdengar suara dosen yang masih menjelaskan sesuatu melalui mikrofon.

Rin berjalan menyusuri koridor itu dengan langkah tenang. Ia tidak lagi mengenakan identitas yang dulu menyertainya setiap kali datang ke kampus, tetapi ia tidak merasa perlu memperlakukan masa lalunya seolah-olah sesuatu yang harus disangkal.

Ia pernah belajar di sini. Ia pernah mengerjakan tugas, mengikuti praktikum, dan menghabiskan malam untuk memahami materi yang sulit. Ada hal-hal yang sungguh ia sukai dari kedokteran, terutama ketelitian dalam mengamati manusia dan usaha memahami bagaimana tubuh bekerja. Ia tidak perlu menghapus semua pengalaman itu hanya karena kini memilih jalan lain.

Di dekat papan pengumuman, dua mahasiswa sedang berdebat tentang jadwal praktikum. Salah seorang memegang lembar catatan penuh tulisan tangan, sementara temannya menggeleng dengan ekspresi frustrasi.

“Kalau jadwalnya dipindah ke Jumat, kita tidak akan sempat menyelesaikan laporan sebelum akhir pekan,” keluh mahasiswa itu.

“Kalau begitu, kita selesaikan bagian analisis malam ini.”

“Kamu bilang begitu setiap kali.”

Rin nyaris tersenyum.

Percakapan semacam itu pernah menjadi bagian dari hari-harinya. Ia mengenali nada kelelahan, kecemasan kecil menjelang tenggat, dan cara mahasiswa kedokteran meyakinkan diri bahwa semua pekerjaan akan selesai selama mereka terus bergerak.

Ia tidak membenci mereka. Tidak pula merasa lebih tinggi karena kini memiliki kehidupan yang berbeda.

Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak lagi ingin menjalani rutinitas tersebut.

Di ujung koridor, pintu menuju kantor dekanat terlihat di balik meja resepsionis. Rin berhenti untuk memastikan kembali dokumen di dalam tasnya. Formulir pengunduran diri, surat pernyataan pribadi, serta dokumen pendukung yang diminta bagian administrasi tersusun rapi dalam map biru tua.

Ia sudah membaca semua ketentuannya. Ia memahami bahwa pengunduran diri berarti menghentikan status akademisnya, menyelesaikan kewajiban administrasi yang masih berlaku, dan menerima bahwa kelanjutan pendidikan kedokteran tidak lagi menjadi bagian dari rencana hidupnya dalam bentuk yang sekarang.

Keputusan itu bukan sesuatu yang muncul setelah satu malam penuh emosi.

Ia telah memikirkannya melalui banyak percakapan, malam-malam ketika ia tidak bisa tidur, dan hari-hari ketika ia mulai menyadari bahwa bertahan demi memenuhi harapan orang lain bukanlah bentuk keteguhan yang selalu patut dipuji.

Ada sesuatu yang masih terasa menyakitkan ketika ia membayangkan masa depan yang tidak akan pernah dijalaninya. Ia tidak akan mengenakan jas putih sebagai dokter, tidak akan mengikuti perjalanan panjang menuju pendidikan klinis, dan tidak akan berdiri di hadapan pasien dengan tanggung jawab yang selama ini telah dipersiapkannya.

Namun, kesedihan atas kemungkinan yang hilang tidak otomatis berarti keputusan untuk meninggalkannya salah.

Rin merapatkan map ke tubuhnya, kemudian melangkah menuju meja resepsionis.

“Selamat siang,” sapanya sopan. “Nama saya Tachibana. Saya sudah membuat janji dengan kantor dekan untuk menyelesaikan proses pengunduran diri.”

Petugas administrasi memeriksa jadwal pada layar komputer. Ia sempat mengangkat pandangan untuk memastikan identitas Rin, kemudian kembali membaca data yang muncul.

“Baik. Silakan menunggu sebentar. Saya akan memberi tahu sekretariat dekan.”

“Terima kasih.”

Rin duduk di kursi tunggu dekat jendela.

Di seberang lorong, sebuah poster besar memuat foto mahasiswa yang baru menyelesaikan program penelitian. Di bawahnya terdapat kalimat mengenai dedikasi, tanggung jawab, dan pengabdian kepada masyarakat. Kata-kata itu masih memiliki makna baginya. Ia tidak pernah menganggap kedokteran sebagai profesi yang tidak berharga, dan ia tidak ingin mengubah keputusan pribadinya menjadi penilaian terhadap orang-orang yang memilih jalur tersebut.

Ia hanya tidak ingin menjadikan profesi itu sebagai harga yang harus dibayarnya untuk mendapatkan penerimaan dari keluarganya sendiri.

Pintu sekretariat terbuka beberapa menit kemudian. Seorang staf keluar dan memanggil namanya.

“Tachibana-san? Dekan sudah bersedia menerima Anda.”

Rin berdiri, merapikan bagian depan kardigannya, lalu mengikuti staf itu melewati pintu.

Kantor dekanat berada di ujung koridor yang lebih tenang. Rak buku memenuhi salah satu dinding, sementara lemari arsip kayu berdiri di belakang meja kerja yang luas. Sebuah jendela besar menghadap halaman dalam kampus. Di luar, beberapa mahasiswa berjalan melintasi jalur batu dengan jas putih yang bergerak tertiup angin.

Dekan Fakultas Kedokteran, seorang pria berusia enam puluhan dengan rambut kelabu dan kacamata berbingkai tipis, berdiri ketika Rin masuk.

“Tachibana-san. Silakan duduk.”

“Terima kasih, Profesor.”

Rin membungkuk sopan sebelum mengambil tempat di hadapan meja. Dekan kembali duduk, lalu meletakkan kedua tangannya di atas map yang telah disiapkan sekretariat.

Ia tidak langsung membicarakan dokumen.

“Saya senang Anda datang sendiri untuk menyelesaikan proses ini,” katanya. “Saya telah membaca surat yang Anda kirimkan sebelumnya. Namun, saya ingin mendengar keputusan Anda secara langsung, jika Anda bersedia menjelaskannya.”

Rin mengangguk.

“Saya sudah mempertimbangkannya dengan serius, Profesor. Saya ingin mengundurkan diri secara resmi dari program kedokteran.”

Dekan memandangnya beberapa saat. Tidak ada keterkejutan besar di wajahnya, tetapi garis halus di sekitar matanya mengencang.

“Apakah keputusan ini sudah final?”

“Ya.”

“Bukan keputusan yang dibuat karena tekanan sesaat atau kesulitan yang masih dapat diselesaikan melalui penyesuaian akademis?”

Rin tidak segera menjawab. Ia memahami alasan pertanyaan itu. Mahasiswa dapat mengalami masa sulit, kehilangan motivasi, atau merasa tidak sanggup memenuhi tuntutan pendidikan. Fakultas memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa keputusan sebesar ini tidak diambil tanpa pertimbangan.

“Saya menghargai perhatian Profesor,” katanya akhirnya. “Tetapi persoalan saya bukan hanya tentang beban akademis. Saya sudah mencoba memahami apakah saya masih ingin melanjutkan pendidikan ini karena memang memilihnya, atau karena selama ini saya merasa tidak memiliki pilihan lain.”

Ia meletakkan map birunya di atas meja, tetapi belum membukanya.

“Saya masih menghormati kedokteran. Saya menghargai apa yang telah saya pelajari di sini. Namun, saya tidak bisa terus menjalani pendidikan ini hanya karena saya sudah berada di jalurnya sejak awal. Saya harus menentukan sendiri bagaimana saya ingin hidup.”

Dekan melepas kacamatanya, membersihkan salah satu lensanya dengan kain kecil, lalu mengenakannya kembali.

“Ketika pertama kali menerima laporan akademis Anda, saya menganggap Anda sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan analitis sangat baik,” katanya. “Anda teliti, cepat memahami materi, dan jarang puas dengan jawaban yang tidak memiliki dasar yang jelas. Saya tidak mengatakan ini untuk membuat Anda berubah pikiran. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa keputusan ini bukan sesuatu yang kami anggap ringan.”

“Saya mengerti, Profesor.”

“Fakultas kehilangan seorang mahasiswa yang berpotensi menjadi dokter yang baik.”

Kalimat itu disampaikan tanpa tekanan. Tidak ada upaya untuk membuat Rin merasa bersalah, tetapi justru karena ketulusannya, kata-kata tersebut menyentuh bagian dirinya yang masih menyimpan kesedihan.

Ia menunduk sebentar, memandang tangannya sendiri di atas map.

“Saya juga merasa kehilangan sesuatu,” akunya. “Mungkin bukan hanya kemungkinan menjadi dokter, tetapi juga masa depan yang pernah saya bayangkan akan saya jalani.”

Dekan mengangguk pelan.

“Itu hal yang wajar. Keputusan yang benar bagi seseorang tidak selalu datang tanpa kehilangan.”

Rin mengangkat wajah.

“Saya tidak ingin berpura-pura bahwa pilihan ini mudah. Ada bagian dari pendidikan ini yang sungguh saya sukai. Saya senang memahami bagaimana manusia bekerja, bagaimana sebuah gejala dapat mengungkap sesuatu yang tidak terlihat, dan bagaimana pengetahuan dapat membantu seseorang mendapatkan kembali kendali atas hidupnya.”

Ia berhenti sebentar, memilih kata-kata berikutnya dengan hati-hati.

“Tetapi saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan mempertahankan sebuah masa depan hanya karena orang lain sudah menetapkannya untuk saya.”

Keheningan turun di antara mereka.

Dari luar jendela, terdengar suara burung yang hinggap di pagar balkon. Dekan memandang Rin dengan ekspresi yang lebih lembut daripada sebelumnya.

Lihat selengkapnya