[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #110

Chapter tanpa judul #110

Pagi di Tokyo datang dengan langit pucat dan udara musim panas yang belum sepenuhnya panas. Dari jendela tinggi gedung Pengadilan Keluarga Tokyo, cahaya matahari jatuh membentuk persegi panjang di atas lantai yang dipoles mengilap. Langkah-langkah sepatu terdengar teratur di lorong, bercampur dengan suara halaman dokumen yang dibalik, bisikan para pengunjung, dan panggilan petugas yang mengarahkan orang-orang ke ruang sidang masing-masing.

Rin Tachibana duduk di bangku kayu dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuan. Ia mengenakan blus putih berkerah lembut di bawah blazer berwarna krem, dipadukan dengan rok gelap yang jatuh rapi hingga bawah lutut. Rambutnya disisir sederhana, sebagian dijepit di belakang telinga. Tidak ada riasan panggung yang membuat wajahnya tampak lebih tajam di bawah lampu sorot. Pagi ini, ia tidak datang sebagai Center ECLIPSE, tidak membawa mikrofon, dan tidak perlu memikirkan sudut kamera. Ia datang sebagai seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya menunggu sebuah nama diakui oleh dunia di luar dirinya.

Di dalam tasnya, tersimpan map tipis berisi salinan dokumen permohonan, surat-surat pendukung, dan catatan yang disiapkan bersama pendamping hukumnya. Sudut map itu mulai sedikit melengkung karena terlalu sering dibuka. Rin telah memeriksa isinya berkali-kali selama perjalanan, meskipun ia tahu tidak ada halaman yang berubah sejak pemeriksaan terakhir.

Kebiasaan itu membuatnya kesal kepada dirinya sendiri.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut. Ujung jarinya masih dingin.

Di sebelahnya, Shizuka Tachibana duduk dengan punggung tegak. Usianya empat puluh delapan tahun, tetapi pagi itu ia tampak lebih lelah daripada biasanya. Ada bayangan tipis di bawah matanya, dan jari-jarinya beberapa kali merapikan ujung lengan blus meskipun kainnya sudah rapi. Ia mengenakan pakaian formal berwarna biru kelabu, tanpa perhiasan mencolok. Cincin sederhana di jari manisnya sesekali memantulkan cahaya ketika ia menggerakkan tangan.

Shizuka melirik putrinya.

"Rin."

Rin menoleh. "Ya, Ibu?"

Shizuka membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu yang telah disiapkan sejak tadi, tetapi kalimat itu tidak kunjung keluar. Akhirnya, ia hanya menyentuh punggung tangan Rin dengan ujung jarinya.

"Kamu sudah sarapan?"

Pertanyaan itu begitu biasa hingga Rin hampir tertawa. Di tengah hari yang mungkin akan mengubah seluruh dokumen hidupnya, ibunya masih memikirkan apakah ia sudah makan.

"Sudah. Sedikit."

"Sedikit bukan sarapan."

"Aku makan roti dan telur."

Shizuka mengangguk, seolah baru saja menerima informasi penting yang dapat mengurangi satu kekhawatirannya. Namun, tangannya tidak segera kembali ke pangkuan. Ia membiarkan jemarinya berada di dekat tangan Rin, cukup dekat untuk disentuh tanpa harus memintanya.

Rin memandang tangan itu.

Ada banyak hal yang belum mereka selesaikan. Percakapan-percakapan yang masih menyisakan jeda, ingatan yang belum sanggup dibicarakan, dan luka yang tidak serta-merta menghilang hanya karena mereka kini dapat duduk berdampingan tanpa saling menyakiti. Ibunya telah mengambil langkah untuk mendampinginya, tetapi Rin tidak menganggap satu keputusan sebagai pengganti semua tahun yang telah berlalu.

Pagi ini, ia tidak membutuhkan ibunya menjadi sempurna.

Ia hanya membutuhkan ibunya tetap berada di sana.

"Terima kasih sudah datang," ujar Rin.

Shizuka menoleh dengan cepat. "Tentu saja Ibu datang."

Jawabannya terdengar tegas, tetapi suaranya bergetar pada kata terakhir. Ia menunduk, merapikan tali tas di pangkuan, lalu menambahkan dengan lebih pelan, "Ibu ingin berada di sini ketika namamu dibacakan."

Rin tidak langsung menjawab. Ia menelan sesuatu yang terasa menyangkut di tenggorokan, kemudian mengangguk.

Di ujung bangku, Eri Takagi sedang memeriksa beberapa lembar dokumen bersama seorang staf hukum. Pada usia tiga puluh dua tahun, Eri memiliki ketenangan yang terbentuk dari pengalaman menangani persoalan kontrak, reputasi, dan kepentingan orang-orang yang sering kali lebih peduli pada citra daripada manusia di baliknya. Pagi itu ia mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih dan sepatu formal berhak rendah. Sebuah map hitam terbuka di pangkuannya, sementara pena terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah.

Ia menutup map tersebut setelah memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal.

"Semua berkas pendukung sudah lengkap," katanya kepada Rin. "Kalau majelis tidak meminta klarifikasi tambahan, kita tinggal mendengarkan penetapan."

"Kalau mereka meminta klarifikasi?"

"Kita menjawab sesuai fakta yang sudah disampaikan dalam permohonan. Tidak perlu mengantisipasi pertanyaan yang belum diajukan."

Rin menatapnya sekilas. "Itu terdengar seperti nasihat yang biasa kuberikan kepada orang lain."

"Kalau begitu, sesekali cobalah mengikuti nasihatmu sendiri."

Rin mengembuskan tawa pendek melalui hidung. Ketegangan di antara kedua alisnya mengendur sedikit.

Eri menutup map dan memandangnya dengan ekspresi yang lebih lembut.

"Apa pun yang kamu rasakan sekarang, kamu tidak perlu terlihat tenang demi membuat orang lain nyaman."

Rin terdiam.

Selama bertahun-tahun, ketenangan telah menjadi alat bertahan hidup. Ia belajar menahan reaksi sebelum orang lain dapat menggunakannya untuk menilai dirinya. Ia belajar mengatur suara, mengendalikan ekspresi, dan menyusun jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan. Kemampuan itu membantunya melewati banyak situasi, tetapi terkadang membuatnya lupa bahwa ia juga berhak mengalami sesuatu tanpa terlebih dahulu menyunting reaksinya.

"Aku akan mengingatnya," katanya.

Eri mengangguk. "Bagus."

Pintu ruang sidang terbuka. Seorang petugas muncul dan memeriksa nama pada daftar di tangannya.

"Pemohon atas nama Tachibana Ren, silakan bersiap memasuki ruang sidang."

Jari Rin yang berada di atas lutut menegang.

Nama itu meluncur dari mulut petugas dengan nada administratif, tanpa maksud menyakiti. Nama yang selama ini tercetak pada dokumen resmi, tercantum pada daftar akademik, dan melekat pada berbagai catatan yang tidak pernah ia minta untuk menjadi gambaran utuh dirinya.

Ia berdiri.

Roknya bergeser mengikuti gerakan, dan ia merapikan ujung blazernya secara refleks. Kemudian ia berhenti. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Pakaiannya sudah rapi, berkasnya lengkap, dan orang-orang yang ia percaya berdiri di sisinya.

Rin mengangkat kepala.

"Baik," jawabnya kepada petugas.

Suaranya tidak keras, tetapi jelas.

Pagi itu, ia akan masuk ke ruang sidang dengan nama lama yang dipanggil oleh sistem.

Ia berharap dapat keluar dengan nama yang sama sekali tidak terasa asing bagi dunia.

Ruang sidang tidak sebesar yang pernah Rin bayangkan ketika ia pertama kali memikirkan kemungkinan ini. Tidak ada tangga marmer monumental atau barisan kamera yang memenuhi ruangan. Hanya meja hakim di bagian depan, tempat duduk para pihak, beberapa kursi untuk pendamping, dan lambang negara yang terpasang di dinding. Cahaya putih dari langit-langit membuat setiap permukaan terlihat bersih dan dingin.

Kesederhanaan ruangan itu justru membuat suasananya terasa lebih berat. Di tempat seperti ini, kehidupan seseorang dapat dibicarakan melalui berkas, pernyataan, dan ketentuan hukum. Kata-kata yang diucapkan akan dicatat. Keputusan yang ditetapkan akan memengaruhi dokumen yang dibawa seseorang ke bank, rumah sakit, kantor pemerintahan, atau loket keberangkatan bandara.

Rin duduk di tempat yang telah ditentukan. Shizuka berada tidak jauh darinya, sedangkan Eri duduk dengan map di atas meja kecil. Seorang petugas memeriksa kelengkapan berkas terakhir, lalu memberi isyarat agar semua orang menunggu.

Rin memandang bagian depan ruang sidang.

Ia telah membayangkan hari ini dalam banyak versi. Dalam beberapa bayangan, ia berdiri dengan tangan gemetar. Dalam versi lain, ia mendengar keputusan dengan wajah tenang, kemudian keluar dari gedung seolah hanya menyelesaikan urusan administratif. Ada pula malam-malam ketika ia terbangun dan bertanya-tanya apakah semua usaha ini akan berakhir dengan satu kalimat penolakan.

Tidak satu pun bayangan itu memberitahunya bagaimana rasanya duduk di kursi yang sesungguhnya.

Di sini, tidak ada musik yang dapat menutupi jeda. Tidak ada lampu panggung yang bisa mengarahkan perhatian penonton. Tidak ada lirik yang dapat ia gunakan untuk menyampaikan sesuatu yang terlalu sulit diucapkan secara langsung.

Ia hanya dapat menunggu.

Ketika hakim memasuki ruang sidang, seluruh orang berdiri. Rin mengikuti gerakan itu, lalu duduk kembali setelah dipersilakan. Ia menempatkan kedua tangan di atas pangkuan, tetapi kali ini ia tidak berusaha menekan jemarinya agar berhenti bergerak. Ibu jarinya bergesekan dengan sisi telunjuk. Ia membiarkannya.

Hakim membuka berkas di hadapannya. Kertas-kertas dibalik dengan suara tipis. Beberapa pertanyaan administratif disampaikan untuk memastikan identitas pemohon dan kelengkapan permohonan. Rin menjawab dengan singkat, tepat, dan sopan. Ketika diminta mengonfirmasi bahwa permohonan tersebut diajukan atas kehendaknya sendiri, ia menegakkan punggung.

"Benar," jawabnya. "Saya mengajukan permohonan ini atas kehendak saya sendiri."

Hakim mengangkat pandangan.

"Anda memahami bahwa perubahan nama dan pencatatan identitas dalam register keluarga merupakan proses hukum yang memiliki konsekuensi administratif?"

"Saya memahami."

"Dan permohonan ini bukan diajukan karena paksaan pihak lain?"

"Tidak. Ini keputusan saya."

Jawaban itu keluar tanpa jeda.

Di sisi ruangan, Shizuka merapatkan kedua tangannya. Ia tidak menyela, tidak mencoba menjawab untuk putrinya. Ia hanya mendengarkan, dan kali ini ia membiarkan suara Rin memenuhi ruangan tanpa berusaha melindunginya dari pertanyaan yang memang berhak dijawabnya sendiri.

Hakim kembali membaca dokumen. Sesaat kemudian, suasana berubah menjadi hening yang lebih dalam. Bahkan suara pendingin ruangan terasa jelas. Rin dapat mendengar detak jantungnya sendiri, bukan sebagai bunyi yang benar-benar terdengar, melainkan sebagai tekanan berulang di dada yang sulit diabaikan.

Hakim mengangkat lembar keputusan.

"Setelah memeriksa permohonan, dokumen pendukung, serta keterangan yang disampaikan, pengadilan mempertimbangkan bahwa permohonan perubahan nama dan penyesuaian pencatatan identitas pemohon memiliki dasar yang dapat diterima menurut ketentuan hukum yang berlaku."

Rin tidak bergerak.

Jari-jarinya berhenti saling menggesek.

Hakim melanjutkan pembacaan dengan nada formal yang sama, menjelaskan bagian-bagian keputusan dan konsekuensi pencatatan. Rin menangkap setiap kalimat, tetapi kesadarannya seperti menyempit pada beberapa kata yang muncul di tengah penjelasan itu. Ia mendengar istilah register keluarga. Ia mendengar nama yang selama ini melekat pada dokumennya. Ia mendengar alasan yang menjadi dasar permohonan.

Lalu, hakim sampai pada bagian akhir.

"Mengabulkan permohonan pemohon untuk perubahan nama dari Ren Tachibana menjadi Rin Tachibana, dengan pencatatan sesuai ketentuan yang berlaku pada register keluarga."

Ruangan itu tidak berubah.

Cahaya tetap jatuh dari langit-langit. Kertas-kertas masih berada di atas meja. Hakim masih duduk dengan punggung tegak, dan petugas di sisi ruangan tetap memegang dokumen.

Namun, Rin merasakan sesuatu di dalam dadanya seperti terlepas dari simpul yang telah menahannya selama bertahun-tahun.

Ia menunduk.

Untuk beberapa detik, ia tidak sanggup mengangkat wajah.

Nama itu baru saja diucapkan oleh seseorang yang memiliki kewenangan untuk menetapkannya dalam keputusan resmi. Bukan sebagai nama panggung. Bukan sebagai nama yang hanya digunakan orang-orang terdekat. Bukan sebagai nama yang harus dijelaskan, dibela, atau disembunyikan ketika berhadapan dengan dokumen.

Rin Tachibana.

Ia menekan bibirnya rapat-rapat. Napasnya tersangkut, lalu keluar dalam embusan pendek yang bergetar. Pandangannya menjadi kabur. Ia mencoba mengedipkan mata, tetapi air mata yang terkumpul di sudutnya segera meluncur melewati pipi.

Rin buru-buru menyentuh wajahnya dengan ujung jari.

Gerakan itu tidak menghentikan apa pun.

Air mata berikutnya jatuh. Lalu satu lagi.

Ia tidak menangis keras. Bahunya hanya bergerak kecil setiap kali ia menarik napas, seolah tubuhnya masih mencoba mempertahankan kebiasaan lama untuk tidak memperlihatkan terlalu banyak. Namun, semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin jelas ia merasakan betapa lelahnya ia menunggu.

Hakim memberi jeda sebelum menyampaikan keterangan administratif berikutnya. Nada suaranya tetap profesional, tetapi tidak tergesa-gesa. Rin mengangkat wajah, mengusap pipinya, lalu mencoba kembali memusatkan perhatian.

"Terima kasih," katanya pelan.

Suaranya pecah pada suku kata terakhir.

Ia menunduk sekali lagi, kali ini bukan untuk menyembunyikan air mata, melainkan untuk menghormati proses yang telah membawanya sampai ke sana.

Di sebelahnya, Shizuka menutup mulut dengan satu tangan. Matanya memerah. Ia menatap putrinya, lalu mengalihkan pandangan ke meja hakim, seolah berusaha memberi ruang bagi Rin untuk menerima keputusan itu tanpa menjadikannya pusat perhatian.

Eri menurunkan pandangan ke map di hadapannya. Ia mengembuskan napas perlahan, kemudian menutup pena yang sejak tadi berada di tangannya. Wajahnya tetap terkendali, tetapi sudut matanya melembut.

Permohonan itu telah dikabulkan.

Bukan karena seseorang akhirnya merasa kasihan kepada Rin. Bukan pula karena popularitas ECLIPSE membuat kisahnya layak diberitakan. Keputusan itu datang melalui proses hukum, melalui dokumen dan keterangan yang diperiksa, melalui permohonan yang diajukan atas kehendak seseorang yang memahami apa yang sedang ia perjuangkan.

Untuk pertama kalinya, berkas resmi yang mengatur hidupnya akan bergerak mengikuti nama yang ia pilih.

Setelah proses di ruang sidang selesai, petugas memberikan penjelasan mengenai salinan keputusan dan tahapan administratif berikutnya. Ada pencatatan yang harus diselesaikan, data yang perlu diselaraskan, serta dokumen lain yang tidak otomatis berubah hanya karena satu keputusan telah ditetapkan. Paspor, catatan administrasi, dan berbagai identitas resmi harus diperbarui melalui prosedur masing-masing.

Lihat selengkapnya