[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #111

Surat dari Barisan Belakang

Siang itu, gedung pameran di Akihabara dipenuhi suara yang tidak pernah benar-benar berhenti. Percakapan para penggemar bercampur dengan pengumuman panitia, bunyi langkah sepatu di lantai, dan gesekan tas-tas belanja yang dibawa pengunjung dari lorong-lorong pusat perbelanjaan di luar gedung. Spanduk besar bertuliskan ECLIPSE — RESONANSI: FIRST INDEPENDENT ALBUM SIGNING EVENT terbentang di atas panggung kecil di ujung aula. Di bawahnya, sampul album menampilkan kelima anggota ECLIPSE berdiri di hadapan cakrawala yang perlahan berubah menjadi cahaya, tanpa mahkota, tanpa kostum seragam, dan tanpa latar yang berusaha menjanjikan kehidupan sempurna.

Album itu telah melewati perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan para penggemar. Resonansi merupakan rilisan pertama yang diproduksi di bawah kendali ECLIPSE Records, setelah mereka melepaskan diri dari Vivid Prominence dan segala bentuk pengawasan yang pernah membatasi keputusan artistik mereka. Setiap lagu membawa jejak proses yang tidak selalu terlihat dalam rekaman akhir. Ada malam-malam ketika aransemen dirombak berkali-kali, ada perdebatan mengenai pilihan lirik, dan ada saat-saat ketika kelima anggota harus belajar membedakan antara kompromi kreatif yang sehat dan kepatuhan yang lahir dari ketakutan.

Kini, album tersebut berada di tangan ribuan orang.

Antrean memanjang melewati pembatas yang dipasang panitia, membentuk jalur berkelok di antara stan promosi dan rak-rak yang memajang album. Beberapa penggemar membawa poster buatan sendiri. Ada yang mengenakan kaus ECLIPSE, ada yang memegang bunga kecil, dan ada pula yang hanya membawa salinan album dengan kedua tangan seolah benda itu terlalu berharga untuk diselipkan ke dalam tas.

Petugas acara mengarahkan antrean dengan suara ramah. Staf membagikan nomor urut dan memastikan setiap pengunjung memahami batas waktu interaksi di meja penandatanganan. Meski jumlah pengunjung jauh lebih besar daripada perkiraan awal, suasananya tetap tertib. Orang-orang mengobrol, memeriksa ponsel, atau sesekali menjulurkan leher untuk melihat panggung.

Di belakang meja panjang yang dilapisi kain hitam, Rin duduk di antara Aoi, Mei, Yuka, dan Chino.

Ia mengenakan blus biru pucat dengan lengan yang digulung sedikit di pergelangan, dipadukan dengan rok gelap dan sepatu sederhana. Rambutnya jatuh lembut melewati bahu. Penampilannya jauh lebih tenang dibandingkan ketika berada di panggung festival musik, tetapi ada kehangatan yang sama pada cara ia menyambut setiap orang yang datang.

Di hadapannya tergeletak beberapa spidol permanen, setumpuk album, dan kartu kecil yang disiapkan panitia sebagai pembatas agar tanda tangan tidak mengenai sampul yang salah. Rin telah menandatangani puluhan album sejak acara dimulai. Setiap kali seseorang menyodorkan sampul, ia akan bertanya nama mereka, menuliskannya dengan hati-hati jika diminta, lalu mengangkat wajah untuk mengucapkan terima kasih.

Ia tidak memperlakukan antrean sebagai serangkaian wajah yang harus dilewati secepat mungkin.

"Terima kasih sudah datang," katanya kepada seorang penggemar perempuan yang mengenakan jaket denim penuh pin.

Perempuan itu memegang album yang baru ditandatangani dengan kedua tangan. "Aku sudah mendengarkan Where the Light Remains hampir setiap malam."

Rin tersenyum. "Semoga lagu itu selalu menemukanmu ketika kamu membutuhkannya."

Penggemar itu tampak hendak menjawab, tetapi hanya berhasil mengangguk beberapa kali sebelum mundur dengan pipi memerah. Di sebelah Rin, Mei menahan tawa kecil.

"Kamu tahu," bisik Mei ketika pengunjung berikutnya sedang mencari halaman tanda tangan, "kalau terus menjawab seperti itu, orang-orang akan pulang sambil memikirkan percakapan mereka sepanjang minggu."

Rin menoleh sedikit. "Bukankah itu tujuan acara ini?"

"Tujuan acara ini adalah menandatangani album."

"Kalau begitu, aku akan menandatangani album sambil tetap menjadi manusia."

Mei mengangkat kedua alis. "Sulit sekali membantahmu ketika kamu menggunakan logika."

Aoi yang duduk di sebelah Mei tidak mengalihkan pandangan dari penggemar di depannya, tetapi sudut bibirnya terangkat. Yuka sedang menuliskan pesan pendek di sampul album milik seorang penggemar yang membawa hadiah berupa gambar kelima anggota. Chino, yang beberapa kali menerima surat tulisan tangan, membaca nama pengirimnya dengan saksama sebelum mengucapkan terima kasih.

Mereka semua mulai terbiasa dengan bentuk kedekatan semacam ini. Tidak ada panggung yang memisahkan mereka dari penonton, hanya meja dan aturan acara yang dirancang agar setiap orang mendapat kesempatan yang adil. Mereka tidak bisa memberikan waktu tanpa batas kepada semua pengunjung, tetapi mereka dapat membuat beberapa detik yang tersedia terasa sungguh-sungguh.

Bagi Rin, hal itu lebih penting daripada membuat setiap interaksi terlihat sempurna.

Di ujung aula, antrean terus bergerak.

Dan di salah satu bagiannya, seorang remaja laki-laki berdiri sambil menggenggam sepucuk surat yang telah berkali-kali dilipat dan dibuka kembali.


Nama remaja itu Sora. Usianya lima belas tahun.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana di bawah jaket tipis berwarna abu-abu, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang ujungnya mulai kusam. Rambutnya dipotong pendek, meski beberapa helai jatuh ke dahi setiap kali ia menunduk. Sebuah tas selempang kecil menggantung di tubuhnya. Di dalam tas itu tersimpan dompet, tiket acara, dan album Resonansi yang ia beli menggunakan uang tabungannya selama beberapa bulan.

Surat di tangannya tidak panjang, tetapi lipatannya sudah tidak lagi rapi. Kertas putih itu memiliki bekas tekanan di beberapa bagian, seolah ia telah menuliskan sesuatu, meragukannya, lalu meratakan kembali permukaannya sebelum mencoba membaca dari awal.

Sora telah mengantre sejak sebelum pintu acara dibuka.

Sepanjang waktu itu, ia berulang kali melihat Rin dari kejauhan. Setiap kali Rin mengangkat wajah untuk menyambut seorang penggemar, Sora merasakan perutnya menegang. Ia telah mempersiapkan kalimat yang ingin disampaikan. Ia bahkan berlatih mengucapkannya di depan cermin kamar pada malam sebelumnya, mencoba membuat suaranya terdengar stabil.

Namun, setiap kali membayangkan harus berdiri tepat di hadapan Rin, semua kalimat itu buyar.

Ia takut menangis.

Lebih dari itu, ia takut jika dirinya menangis, orang-orang di belakangnya akan merasa terganggu. Ia takut tidak mampu menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan. Ia takut cerita yang selama ini disimpan rapat-rapat akan terdengar berlebihan ketika diucapkan dengan suara keras.

Sora menunduk, menatap tulisan pada suratnya.

Ia menulisnya sendiri. Tidak ada kalimat yang diambil dari internet, tidak ada kutipan yang sengaja dipilih agar terdengar indah. Beberapa bagian bahkan terasa terlalu sederhana ketika dibaca kembali. Ia telah menghapus satu paragraf karena khawatir terdengar seperti meminta Rin bertanggung jawab atas kehidupannya. Ia tidak ingin menjadikan seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya sebagai satu-satunya alasan untuk bertahan.

Rin tidak mengenalnya.

Rin tidak tahu apa yang terjadi di sekolahnya, bagaimana ia menghabiskan waktu istirahat di tempat yang sepi, atau berapa kali ia pulang dengan kepala tertunduk setelah mendengar namanya sendiri digunakan sebagai bahan ejekan. Rin tidak tahu betapa melelahkannya berpura-pura tidak mendengar ketika teman sekelas menertawakan cara ia berbicara, pilihan pakaiannya, atau keinginannya agar orang lain memanggilnya dengan nama yang terasa benar.

Rin tidak tahu apa pun tentang dirinya.

Namun, pada suatu malam ketika Sora merasa tidak sanggup lagi menghadapi hari berikutnya, ia menemukan rekaman penampilan ECLIPSE di layar ponselnya.

Video itu bukan rekaman profesional. Gambar sedikit berguncang, suara penonton sesekali menutupi vokal, dan cahaya panggung terlalu terang hingga wajah para anggota terlihat samar. Akan tetapi, ketika Rin menyanyikan bagian akhir Where the Light Remains, Sora berhenti menggulir layar.

Ia menonton sampai selesai.

Kemudian ia memutarnya sekali lagi.

Tidak ada yang berubah secara ajaib setelah itu. Pagi berikutnya, ia tetap harus berangkat ke sekolah. Orang-orang yang menyakitinya belum mendadak berubah menjadi baik. Ia masih takut menghadapi lorong kelas, masih sulit memercayai pujian, dan masih harus menyusun alasan setiap kali seseorang bertanya mengapa ia ingin dipanggil dengan nama yang berbeda.

Namun, malam itu ia melakukan satu hal yang sebelumnya terasa mustahil.

Ia memberi dirinya kesempatan untuk melihat hari berikutnya.

Setelahnya, ia mencari bantuan dari seorang guru yang cukup ia percaya dan mulai menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Langkah itu tidak langsung menyelesaikan perundungan yang dialaminya. Ada percakapan yang terasa canggung, ada hari ketika ia kembali ingin menarik semua pengakuannya, dan ada saat-saat ketika ia masih merasa sendirian. Tetapi ia tidak lagi menyimpan semuanya tanpa seorang pun yang mengetahui.

Musik ECLIPSE tidak menyelesaikan hidupnya.

Musik itu membantunya bertahan cukup lama untuk mulai mencari pertolongan.

Bagi Sora, perbedaan tersebut sangat besar.

Antrean bergerak satu langkah.

Ia mengangkat kepala. Meja penandatanganan kini tampak lebih dekat. Ia dapat melihat Rin menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinga sebelum menulis tanda tangan di album berikutnya. Gerakan itu sederhana, nyaris tidak disadari, tetapi entah mengapa membuat Sora merasa bahwa orang yang ia lihat di atas panggung dan orang yang duduk di hadapannya sekarang adalah orang yang sama.

Ia meremas suratnya terlalu kuat hingga kertas itu berkerut.

Sora segera melonggarkan genggamannya.

"Jangan sampai robek," bisiknya kepada diri sendiri.

Ia meratakan kertas itu dengan ibu jari, lalu mengambil napas panjang.

Satu orang lagi maju ke meja.

Kemudian satu orang lagi.

Dan akhirnya, petugas mengarahkan Sora ke depan.


Dari jarak dekat, meja penandatanganan tampak lebih sederhana daripada yang terlihat dari antrean. Ada botol air di dekat setiap anggota, tumpukan album yang menunggu tanda tangan, dan beberapa kartu kecil berisi nama yang dituliskan oleh para penggemar. Cahaya dari lampu aula memantul pada permukaan sampul album, sementara suara percakapan di belakang Sora terdengar seperti ombak yang tidak pernah berhenti.

Sora melangkah maju.

Ia meletakkan album di atas meja, tetapi tangannya masih menggenggam surat itu. Jari-jarinya kaku. Ia telah membayangkan akan mengatakan, Terima kasih sudah membuat musik yang bagus, atau mungkin, Aku menyukai suaramu. Kalimat-kalimat itu terasa aman. Kalimat-kalimat yang dapat disampaikan tanpa membuka bagian dirinya yang paling rapuh.

Rin mengangkat wajah.

"Halo. Terima kasih sudah datang."

Sora menatapnya.

Senyum Rin tidak berbeda jauh dari yang ia lihat dalam rekaman. Ada ketenangan pada matanya, tetapi tidak ada jarak yang membuat orang merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak mungkin disentuh oleh kehidupan sehari-hari.

"Namamu siapa?" tanya Rin.

Sora membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Ia mencoba lagi. "So... Sora."

Rin tidak mengulang namanya dengan nada bertanya. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil spidol.

"Sora. Mau kutulis nama itu di album?"

Sora mengangguk cepat.

"Ya."

Rin membuka sampul album pada halaman yang disediakan untuk tanda tangan. "Ada pesan khusus yang kamu inginkan?"

Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab. Sora telah memikirkan berbagai kemungkinan. Ia bisa meminta Rin menuliskan kalimat penyemangat, judul lagu favoritnya, atau sekadar namanya dengan tanda tangan.

Namun, ketika ia melihat Rin mulai menulis, sesuatu di dalam dadanya runtuh.

Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya.

Sora buru-buru menunduk. Tangan yang memegang surat bergerak ke wajah, tetapi gerakan itu hanya membuat kertasnya tertekuk kembali. Ia berusaha menghirup udara melalui hidung. Napasnya tersendat, dan bahunya mulai bergetar.

"Maaf," katanya terbata-bata. "Maaf, aku... aku tidak bermaksud..."

Rin meletakkan spidolnya.

Ia tidak segera menyentuh Sora. Ia terlebih dahulu menatap wajah remaja itu, memberi waktu agar ia dapat mengangkat kepala jika mampu.

"Tidak apa-apa," ujar Rin dengan suara lembut. "Kamu tidak perlu meminta maaf karena menangis."

Sora menggeleng, tetapi air matanya semakin deras. Ia mencoba menghapusnya dengan lengan jaket. Wajahnya memerah karena malu, dan ia mulai melihat ke arah antrean di belakangnya, khawatir orang-orang akan merasa terganggu.

Rin mengikuti arah pandangannya sekilas, lalu kembali menatap Sora.

"Kita punya waktu sebentar di sini," katanya. "Kamu boleh menggunakannya untuk bernapas dulu."

Sora menelan ludah.

"Aku membawa surat."

Rin melihat kertas yang tergenggam di tangannya. "Untukku?"

Sora mengangguk.

"Kalau kamu nyaman memberikannya, aku akan membacanya."

Kalimat itu membuat genggaman Sora melemah. Ia membuka lipatan surat dengan tangan gemetar, berusaha meratakannya di atas meja. Kertas itu tidak lagi sepenuhnya rata, tetapi tulisan tangannya masih dapat dibaca.

Ia mendorongnya ke arah Rin.

Rin menerima surat tersebut dengan kedua tangan. Sebelum membacanya, ia menatap Sora sekali lagi.

"Terima kasih sudah menulisnya."

Sora mengangguk, kemudian menunduk. Ia tidak lagi mencoba menyembunyikan air matanya, meskipun sesekali masih mengusap pipi dengan ujung lengan.

Rin membuka lipatan pertama.

Di atas kertas, tulisan tangan Sora tampak sedikit miring. Beberapa huruf ditulis lebih tebal daripada yang lain, dan ada satu bagian yang dicoret sebelum kalimat berikutnya dimulai.

Surat itu berbunyi:

Rin-san,

Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan ini tanpa menangis, jadi maaf kalau suratku berantakan.

Aku berusia lima belas tahun. Aku seorang trans laki-laki, tetapi di sekolah aku masih sering dipanggil dengan nama yang tidak ingin kugunakan. Beberapa teman menjadikan cara bicaraku dan tubuhku sebagai bahan ejekan. Awalnya aku berusaha mengabaikannya. Aku pikir kalau aku cukup diam, mereka akan bosan sendiri.

Ternyata tidak semudah itu.

Ada hari-hari ketika aku tidak ingin masuk kelas. Ada hari ketika aku duduk di rumah dan merasa tidak sanggup membayangkan harus menghadapi besok. Aku pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku karena aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan semua itu.

Pada malam ketika aku merasa paling dekat dengan keputusan itu, aku menemukan video Rin-san bernyanyi. Aku tidak mengenal Rin-san secara pribadi, dan aku tahu sebuah lagu tidak bisa menyelesaikan semua masalahku. Tetapi ketika mendengar Rin-san menyanyikan tentang cahaya yang masih mengenali nama seseorang, aku merasa mungkin aku belum harus menyerah malam itu.

Aku akhirnya mencoba meminta bantuan. Aku bercerita kepada seorang guru yang kupercaya. Masalahku belum selesai, dan aku masih takut pergi ke sekolah. Kadang-kadang aku masih merasa lelah. Tetapi sekarang ada orang yang tahu apa yang terjadi padaku, dan aku sedang mencoba bertahan dengan bantuan mereka.

Terima kasih karena sudah hidup sebagai dirimu sendiri di hadapan banyak orang. Aku tahu aku tidak berhak meminta Rin-san terus kuat demi orang lain. Aku hanya ingin mengatakan bahwa keberanian Rin-san membuatku berani mencoba bertahan untuk diriku sendiri.

Aku ingin suatu hari nanti bisa berdiri di depan orang lain tanpa merasa harus meminta maaf karena menjadi diriku.

Terima kasih sudah menyanyikan lagu itu.

Sora.

Rin membaca surat tersebut sampai selesai.

Ketika mencapai kalimat terakhir, ia tidak langsung melipat kertasnya kembali. Ia memandang tulisan nama di bagian bawah, memperhatikan bagaimana huruf-huruf itu dibuat dengan tekanan yang tidak merata. Ada bagian tinta yang sedikit melebar, mungkin karena pena berhenti terlalu lama di atas kertas. Ia membayangkan seorang remaja yang menulis surat itu sendirian, berkali-kali menghapus kalimat, lalu memutuskan untuk tetap datang meskipun takut menangis.

Jari Rin menahan tepi surat.

Ia tidak ingin memberikan respons yang terlalu cepat hanya karena antrean masih panjang. Kata-kata Sora bukan sekadar pujian terhadap musik. Di dalamnya ada pengalaman yang menyakitkan, keputusan yang berbahaya, dan usaha kecil untuk tetap berada di dunia meskipun dunia belum memperlakukannya dengan baik.

Lihat selengkapnya