[FAKE] IDOL

Diva Amane
Chapter #112

Masa Depan Lima Bintang

Malam telah turun sepenuhnya di Shimokitazawa ketika pintu besi menuju atap studio ECLIPSE dibuka dengan bunyi berderit pendek. Udara musim panas menyambut kelima gadis itu dengan kehangatan yang tersisa dari siang hari, membawa aroma aspal, debu, dan samar-samar bau makanan dari kedai di jalan bawah. Di antara gedung-gedung bertingkat rendah, papan reklame menyala dengan warna merah dan biru, sementara kereta yang melintas di kejauhan meninggalkan gemuruh yang perlahan larut di balik bangunan.

Yuka menjadi orang pertama yang menerobos keluar.

“Udara bebas!” serunya sambil merentangkan kedua tangan. “Akhirnya aku bisa bernapas tanpa mendengar Aoi bilang, ‘Sekali lagi dari awal!’”

“Aku menyuruh kalian mengulang karena bagian akhirnya berantakan,” sahut Aoi dari belakang. Ia menutup pintu atap dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang botol air mineral. “Kalau kau bisa menjaga tempo selama satu lagu penuh, aku tidak perlu menyuruhmu mengulang.”

“Tempo itu relatif.”

“Tidak dalam musik.”

“Kalau begitu, musik terlalu kaku.”

“Yuka.”

“Baik, baik. Aku diam.”

Yuka mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, tetapi senyum nakalnya tidak menghilang. Mei tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Di belakangnya, Chino membawa kantong kertas besar berisi makanan ringan yang baru mereka beli dari minimarket. Rin menyusul paling akhir, mengunci pintu dengan hati-hati sebelum memeriksa sekali lagi bahwa kuncinya telah berputar sempurna.

Kebiasaan kecil itu masih tertinggal dari kehidupan lamanya. Ren Tachibana dahulu terbiasa memastikan segala sesuatu berada pada tempat yang semestinya, seolah ketertiban di sekelilingnya dapat mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Rin tidak lagi berusaha menghapus kebiasaan itu. Ia hanya belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup harus dikunci rapat-rapat.

“Rin, sini!” panggil Chino.

Gadis termuda itu sudah membentangkan tikar tipis di dekat pagar pengaman. Di atasnya, ia menata onigiri, keripik kentang, biskuit cokelat, dan beberapa kaleng minuman dingin. Ada pula dua bungkus permen yang rupanya dibeli Yuka tanpa persetujuan siapa pun.

“Kenapa permennya ada dua bungkus?” tanya Mei sambil duduk bersila.

“Karena satu bungkus tidak cukup untuk lima orang.”

“Secara matematis, itu tidak masuk akal,” kata Aoi.

“Secara emosional, masuk akal.”

Rin tertawa kecil. Ia meletakkan tasnya di samping tikar, kemudian duduk di antara Mei dan Chino. Rok panjang berwarna gelap yang dikenakannya bergerak mengikuti lipatan kakinya, sementara kardigan tipis yang menutupi bahunya berkibar ketika angin melewati atap. Rambutnya masih sedikit lembap di dekat tengkuk setelah latihan panjang. Ia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga sebelum menerima sekaleng teh dari Chino.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Untuk beberapa menit, mereka membiarkan percakapan berjalan tanpa tujuan. Yuka mengeluhkan betapa sulitnya bagian koreografi baru, Mei bercerita tentang seorang pelanggan di kafe yang mengenalinya dari dokumenter mereka, dan Chino sibuk membagi biskuit dengan ketelitian seseorang yang sedang membagikan persediaan makanan dalam keadaan darurat.

Aoi, yang duduk bersandar pada pagar pengaman dengan lutut tertekuk, sesekali menyela untuk membetulkan detail musik yang menurutnya keliru. Bahkan saat sedang beristirahat, pikirannya tampak masih bekerja. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kaleng minuman, membentuk pola ritme yang hanya ia pahami sendiri.

Rin mendengarkan mereka dengan tenang.

Dari tempat duduknya, ia bisa melihat jendela-jendela studio di lantai bawah. Cahaya putih dari ruang latihan menembus kaca buram, menerangi sebagian tangga darurat. Di balik pintu itu tersimpan mikrofon, kabel, instrumen, lembar aransemen, dan segala sesuatu yang pernah mereka gunakan untuk membangun kehidupan baru setelah meninggalkan Vivid Prominence.

Namun, yang membuat tempat itu terasa seperti rumah bukanlah peralatan di dalamnya.

Melainkan suara-suara yang kini memenuhi atap.

“Ngomong-ngomong,” kata Mei setelah menghabiskan setengah onigiri, “aku ingin membicarakan sesuatu.”

Yuka langsung menoleh. “Kau mau mengumumkan pernikahan rahasia?”

Mei menatapnya datar.

“Dengan siapa? Mesin kopi di kafe?”

“Jangan meremehkan cinta yang tumbuh dari kebersamaan.”

“Kalau begitu, kau saja yang menikahi mesin kopi itu.”

Chino tersedak minumannya. Rin segera menepuk pelan punggungnya, sementara Mei menunggu sampai tawa mereka mereda. Ketika suasana kembali tenang, ia meletakkan sisa onigiri di atas bungkusnya.

“Aku serius,” katanya. “Belakangan ini, aku terus memikirkan apa yang ingin kulakukan beberapa tahun ke depan.”

Aoi menghentikan ketukan jarinya.

Mei memandang ke arah jalan di bawah, tempat beberapa orang berjalan melewati deretan toko yang mulai tutup. Wajahnya tampak lebih matang di bawah cahaya lampu atap, tetapi ada keraguan kecil pada cara ia meremas ujung bungkus makanan.

“Aku ingin mencoba berakting di teater.”

Yuka berkedip. “Teater?”

“Ya. Panggung sungguhan. Naskah, karakter, latihan berbulan-bulan, lalu pertunjukan yang mungkin hanya berlangsung beberapa minggu.” Mei tersenyum samar. “Aku sudah menyukai teater sejak sekolah. Aku sempat mengikuti klub drama, tapi kemudian memilih jalur musik. Waktu itu aku pikir aku harus menentukan satu hal dan meninggalkan yang lain.”

“Kenapa baru sekarang kau bilang?” tanya Chino.

“Karena selama ini aku sendiri belum berani mengatakannya dengan jelas.”

Mei mengusap telapak tangannya pada celana sebelum melanjutkan. Ia tidak terlihat sedang mencari pembenaran. Justru itulah yang membuat pengakuannya terasa penting. Ia hanya sedang membuka sebuah pintu yang selama bertahun-tahun dibiarkannya tertutup.

“Aku tidak ingin meninggalkan ECLIPSE,” katanya. “Aku masih ingin menyanyi bersama kalian. Tapi aku juga ingin tahu apakah aku bisa menjadi orang lain di atas panggung, seseorang yang tidak menyampaikan cerita lewat lagu saja.”

Rin memiringkan kepala sedikit.

“Karakter yang kau perankan mungkin akan mengatakan hal-hal yang tidak pernah bisa kau ucapkan sebagai dirimu sendiri.”

Mei menatapnya, lalu tersenyum.

“Ya. Persis seperti itu.”

“Aku rasa kau akan cocok,” ujar Rin. “Kau selalu bisa membuat satu kalimat sederhana terdengar seolah ada tiga hal lain yang tidak diucapkan.”

“Apakah itu pujian?”

“Pujian yang sangat spesifik.”

“Kalau begitu, kuterima.”

Aoi mengangguk kecil. Ia tidak langsung memberikan komentar tentang jadwal latihan atau kemungkinan benturan pertunjukan. Untuk sekali ini, ia membiarkan Mei menyelesaikan pikirannya tanpa mengubahnya menjadi daftar persoalan yang harus dipecahkan.

Yuka, sebaliknya, tampak seperti baru mendapat inspirasi yang terlalu besar untuk ditampung tubuhnya sendiri.

“Kalau Mei boleh mengejar teater, aku juga harus mulai memikirkan masa depanku.”

“Kau baru saja memikirkan pernikahan dengan mesin kopi,” kata Chino.

“Itu tadi candaan. Ini urusan serius.”

“Perbedaan antara keduanya masih belum jelas.”

Yuka mengabaikannya. Ia menarik kedua kakinya ke dada, lalu memeluk lutut sambil menatap lampu-lampu kota.

“Aku ingin kuliah.”

Kali ini, tidak ada yang menertawakannya.

Yuka menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. Energinya yang biasanya meluap-luap mendadak menyusut menjadi gerakan kecil pada jemari.

“Aku belum tahu jurusan apa yang paling cocok. Aku suka musik, tapi aku juga tertarik pada produksi pertunjukan, pemasaran, dan cara orang merespons sesuatu yang mereka lihat di panggung. Aku ingin memahami semua itu dengan lebih serius, bukan hanya mengandalkan insting.”

Ia mengembuskan napas, lalu tertawa canggung.

“Masalahnya, membayangkan ujian masuk saja sudah membuatku ingin bersembunyi di bawah meja.”

“Meja mana?” tanya Mei.

“Meja mana pun. Aku tidak pilih-pilih.”

Rin tersenyum, tetapi ia menangkap kesungguhan di balik lelucon itu. Yuka bukan seseorang yang takut bekerja keras. Ia hanya takut menemukan bahwa ada bagian dirinya yang belum cukup siap untuk menghadapi dunia di luar panggung.

“Belajar tidak akan membuatmu kurang menjadi seorang idol,” kata Rin.

“Aku tahu. Secara teori.”

“Kalau begitu, kita bantu bagian praktiknya.”

Yuka memandangnya. “Kau akan membantuku belajar?”

“Kalau kau membutuhkannya. Aku tidak berjanji akan menyukai metode belajarmu.”

“Aku bisa menerima itu.”

“Dan aku akan memastikan kau benar-benar mengerjakan tugasmu,” tambah Aoi.

Senyum Yuka langsung pudar.

“Kenapa semua hal baik selalu disertai ancaman?”

“Karena kau membutuhkan struktur.”

“Aku membutuhkan kebebasan.”

“Kau membutuhkan keduanya,” sela Mei.

Chino, yang sejak tadi diam sambil melipat bungkus biskuit menjadi bentuk kecil, akhirnya mengangkat tangan setinggi bahu.

“Aku juga ingin kuliah.”

Yuka menoleh begitu cepat hingga rambutnya hampir mengenai wajah Mei.

“Kau juga?”

Chino mengangguk. “Aku ingin belajar komposisi dan teori musik. Mungkin juga aransemen. Aku ingin tahu kenapa sebuah lagu bisa terasa seperti seseorang sedang memanggil kita dari tempat yang jauh, bahkan sebelum kita memahami liriknya.”

Ia berhenti sebentar, seolah baru menyadari bahwa semua orang sedang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

“Aku suka bernyanyi. Aku tahu itu. Tapi kadang-kadang, saat melihat lembar musik yang kalian kerjakan, aku merasa masih banyak sekali yang belum kupahami. Aku ingin bisa menulis sesuatu yang benar-benar berasal dari kepalaku sendiri.”

Jari-jarinya merapikan lipatan bungkus biskuit yang sebenarnya sudah cukup rapi.

“Aku ingin tetap menjadi bagian dari ECLIPSE. Hanya saja, aku tidak ingin suatu hari nanti menyadari bahwa aku terus menyanyi tanpa pernah benar-benar mengerti musik yang kunyanyikan.”

Ada ketegangan tipis pada suaranya. Chino masih berusia tujuh belas tahun. Dunia di hadapannya terbentang luas, tetapi justru karena begitu luas, ia belum tahu bagian mana yang harus diinjak lebih dahulu. Popularitas yang datang bersama ECLIPSE memberinya kesempatan yang tak pernah dibayangkannya ketika masih menjadi gadis yang berlatih sendirian. Namun, kesempatan itu juga membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar lagu berikutnya atau panggung berikutnya.

Mei meraih tangan Chino dan menggenggamnya sebentar.

“Kau tidak harus memahami semuanya sekarang.”

“Aku tahu.”

“Tidak, maksudku benar-benar tidak harus. Bahkan kalau kau sudah kuliah nanti, mungkin masih akan ada banyak hal yang belum kau pahami.”

Chino mengangkat wajah.

“Itu seharusnya membuatku tenang?”

“Sedikit. Sisanya akan kau pelajari sambil berjalan.”

Rin memandang mereka dengan kehangatan yang sulit ia ungkapkan. Ada sesuatu yang menggetarkan dalam menyaksikan orang-orang yang dicintainya mulai menyebutkan masa depan mereka dengan suara lantang. Bukan masa depan yang ditentukan oleh kontrak, agensi, atau kebutuhan untuk mempertahankan sebuah nama di papan peringkat. Masa depan yang mereka pilih sendiri.

Ia pernah mengira bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang layak, seseorang harus terlebih dahulu membuktikan bahwa dirinya pantas memilikinya. Ia pernah menukar ketenangan dengan kepatuhan, menyusun alasan demi alasan agar pilihannya sendiri terlihat dapat diterima oleh orang-orang yang memiliki kuasa atas hidupnya.

Sekarang, di atap kecil sebuah studio di Shimokitazawa, teman-temannya sedang membicarakan impian yang bahkan belum mereka kuasai sepenuhnya.

Dan tidak seorang pun meminta mereka untuk meminta izin.

“Bagaimana denganmu, Rin?” tanya Mei.

Lihat selengkapnya