Pesawat yang membawa ECLIPSE mulai menurunkan ketinggiannya ketika garis pantai Singapura muncul di balik jendela. Cahaya matahari pagi memantul pada permukaan laut, membentuk hamparan perak yang sesekali terputus oleh bayangan kapal-kapal kargo. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit tumbuh dari kabut tipis, begitu rapi hingga tampak seperti susunan miniatur yang diletakkan di atas meja kaca.
Yuka menempelkan dahi ke jendela.
“Lihat itu! Kita benar-benar di luar Jepang!”
“Kita masih di dalam pesawat,” kata Aoi tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
“Itu bukan inti persoalannya.”
“Kalau begitu, apa inti persoalannya?”
Yuka menunjuk keluar dengan kedua tangan. “Kita akan tampil di negara lain. Orang-orang yang tidak tinggal di Jepang membeli tiket untuk mendengarkan kita menyanyi. Mereka bahkan mungkin tidak memahami semua liriknya!”
Chino, yang duduk di sebelahnya, mengangguk cepat. “Aku melihat beberapa komentar penggemar dari Singapura. Ada yang menerjemahkan lirik Resonansi ke bahasa Inggris, Mandarin, dan Korea.”
“Benarkah?” Mei mencondongkan tubuh untuk melihat layar ponsel Chino. “Kapan mereka membuatnya?”
“Beberapa hari setelah album dirilis.”
Rin tidak ikut menyela. Ia duduk di dekat jendela lain, dengan kedua tangan terlipat di atas tas kecil yang diletakkan di pangkuannya. Di layar ponselnya, halaman komunitas penggemar internasional menampilkan foto-foto album Resonansi, potongan video pertunjukan mereka, dan pesan-pesan dari orang-orang yang namanya belum pernah ia dengar.
Ada penggemar dari Singapura yang menulis bahwa ia mendengarkan lagu mereka ketika mempersiapkan ujian. Ada seseorang dari Korea Selatan yang mengatakan bahwa musik ECLIPSE membantunya melewati masa ketika ia merasa tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya. Beberapa pesan ditulis dalam bahasa yang tidak dapat dibacanya, tetapi disertai terjemahan singkat dan gambar-gambar kecil yang membuat maksudnya mudah dipahami.
Rin berhenti pada satu komentar berbahasa Inggris.
Your music makes me feel like I don't have to apologize for being myself.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Tidak ada kisah panjang di sana. Tidak ada uraian tentang apa yang telah dialami orang tersebut. Hanya satu kalimat yang ditulis seseorang di belahan dunia lain, yang mungkin tidak akan pernah ia temui.
Namun, kalimat itu terasa akrab.
“Rin?”
Ia mengangkat wajah. Mei sedang memperhatikannya dari seberang lorong kursi.
“Kau baik-baik saja?”
Rin mengangguk, lalu menunjukkan layar ponselnya.
“Kadang-kadang aku masih sulit membayangkan bagaimana lagu yang kita buat di studio kecil bisa sampai kepada orang yang bahkan belum pernah kita temui.”
Mei membaca komentar itu. Senyumnya melunak.
“Musik memang bisa berjalan lebih jauh daripada orang yang membuatnya.”
Rin mematikan layar ponselnya. Ia menoleh kembali ke jendela, mengikuti garis pantai yang semakin jelas ketika pesawat mendekati landasan.
Dahulu, ketika ia mulai menyanyikan lagu-lagu di depan orang lain, ia hanya ingin menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus meminta izin. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suara yang ia lepaskan dari sebuah panggung kecil akan menyeberangi laut, melewati perbedaan bahasa, dan tiba di kehidupan orang-orang yang tidak mengenalnya.
Pesawat menyentuh landasan dengan guncangan ringan.
Yuka spontan mencengkeram sandaran kursi.
“Baiklah. Aku siap.”
Aoi meliriknya. “Kau mengatakan itu sebelum pesawat mendarat.”
“Aku sedang mempersiapkan mental.”
“Persiapkan juga koper. Kita harus turun.”
“Aoi, biarkan aku menikmati momen bersejarah ini.”
“Silakan. Sambil berjalan.”
Mei tertawa. Chino buru-buru memeriksa kembali paspor dan barang bawaannya, sedangkan Rin menarik napas panjang sebelum memasukkan ponsel ke tas. Di balik jendela, roda pesawat berputar semakin lambat. Suara mesin berubah menjadi dengung rendah yang mengiringi pesawat menuju tempat parkirnya.
Tur Asia pertama ECLIPSE akhirnya dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, kelima anggota itu melangkah ke sebuah negara bukan sebagai pelancong, bukan pula sebagai peserta acara promosi singkat, melainkan sebagai musisi yang datang untuk memainkan karya mereka sendiri.
Bandara Changi terasa lebih luas daripada yang Yuka bayangkan.
Langit-langit tinggi memantulkan cahaya putih yang bersih. Deretan papan petunjuk dalam berbagai bahasa mengarahkan penumpang menuju imigrasi dan pengambilan bagasi, sementara aroma kopi dari sebuah kedai bercampur dengan wangi bunga yang diletakkan di sudut area kedatangan. Suara roda koper bergesekan dengan lantai mengalun di antara pengumuman penerbangan yang terdengar dari pengeras suara.
Mereka baru saja melewati pintu kedatangan ketika Sato, yang berjalan beberapa langkah di depan, mengangkat tangan memberi isyarat agar semuanya tetap berdekatan.
“Jangan berpencar. Kita menuju kendaraan melalui pintu sebelah kanan.”
“Dipahami,” jawab Aoi.
Yuka mengangguk, meski matanya terus bergerak ke segala arah. Chino berjalan sambil memeluk tas kecilnya, berusaha mengamati bandara tanpa terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali datang ke tempat sebesar itu. Mei sesekali mengingatkan mereka untuk tidak berjalan terlalu cepat.
Rin berada di bagian tengah rombongan, mengenakan celana panjang gelap, atasan putih, dan jaket ringan dengan logo kecil ECLIPSE di dada. Penampilannya sengaja dibuat sederhana untuk perjalanan. Rambutnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah. Ia baru saja hendak mengikuti Sato melewati pintu keluar ketika suara seseorang memanggil dari balik pembatas.
“ECLIPSE!”
Mereka semua menoleh.
Di sisi lain area kedatangan, sekelompok penggemar berdiri di belakang garis pembatas yang dijaga petugas keamanan. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan. Ratusan orang memenuhi area yang telah ditentukan, sebagian membawa papan bertuliskan nama anggota, sebagian lain mengangkat slogan dengan logo ECLIPSE. Ada yang mengenakan kaus hitam dengan desain album Resonansi. Ada pula yang memegang boneka kecil dan kipas bergambar kelima anggota.
Ketika mereka melihat para gadis menoleh, sorak-sorai langsung membesar.
“Rin!”
“Aoi! Mei! Yuka! Chino!”
“Welcome to Singapore!”
Yuka berhenti berjalan.
Mulutnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ia memandang kerumunan itu, lalu menoleh kepada Mei seolah berharap seseorang dapat memastikan bahwa pemandangan tersebut bukan kesalahpahaman.
“Mei,” bisiknya, “mereka benar-benar menunggu kita.”
Mei tidak segera menjawab. Kedua tangannya menggenggam tali tas di bahunya. Senyumnya muncul perlahan, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Ya,” katanya. “Mereka menunggu kita.”
Chino menutup mulut dengan satu tangan. Di balik pembatas, seorang penggemar muda mengangkat papan bertuliskan Thank you for making music that lets us breathe. Di sampingnya, seorang perempuan dewasa memegang album Resonansi yang sampulnya telah dipenuhi tanda tangan dari acara daring sebelumnya.
Rin merasa langkahnya melambat.
Sato berbicara singkat dengan petugas keamanan, lalu memberi isyarat bahwa mereka boleh mendekat sebentar selama tetap berada di sisi pembatas. Kelima anggota bergerak ke depan. Sorak-sorai kembali meningkat, disertai bunyi kamera ponsel dan panggilan nama yang saling bertumpuk.
“Terima kasih sudah datang!” seru Rin dalam bahasa Jepang sebelum mengoreksi dirinya sendiri. “Thank you for coming to welcome us!”
Suaranya terdengar jelas, meski mikrofon tidak ada di tangannya. Seorang penggemar di barisan depan tertawa gembira, kemudian membalas dengan bahasa Inggris yang sedikit terburu-buru.
“We're happy you're here!”
Rin membungkuk kecil. Aoi, Mei, Yuka, dan Chino mengikuti gerakan itu. Mereka melambaikan tangan, menerima beberapa surat yang diserahkan melalui petugas, dan berhenti ketika seseorang meminta mereka membuat tanda hati dengan tangan.
Yuka membalas permintaan itu dengan dua tangan sekaligus. Chino tertawa melihatnya, lalu meniru gerakan yang sama. Mei menerima sebuah bendera kecil Singapura dengan kedua tangan, sedangkan Aoi mengucapkan terima kasih dengan sopan kepada setiap orang yang berhasil mereka ajak bicara.
Rin bertemu pandang dengan seorang penggemar yang mengenakan kacamata bundar. Gadis itu memegang papan kecil dengan tulisan nama Rin, tetapi tangannya bergetar begitu hebat hingga papan tersebut hampir terlepas.
Rin membungkuk sedikit agar wajah mereka berada pada ketinggian yang lebih dekat.
“Thank you for being here,” katanya lembut.
Penggemar itu menjawab dengan kalimat bahasa Inggris yang terputus-putus. Ia mengatakan bahwa ia telah mengikuti ECLIPSE sejak video pertunjukan mereka diunggah ke internet, dan bahwa ia tidak pernah menyangka akan melihat mereka secara langsung.
Rin mendengarkan sampai selesai, meskipun beberapa kata harus ia tangkap dari konteks. Ketika penggemar itu akhirnya tersenyum, Rin membalas dengan senyum yang sama tulusnya.
Sato memberi tanda bahwa mereka harus segera berangkat. Mereka melambaikan tangan sekali lagi sebelum bergerak menuju kendaraan. Sorak-sorai tetap terdengar di belakang mereka sampai pintu kendaraan tertutup.
Begitu mobil mulai berjalan, Yuka langsung memutar tubuh menghadap yang lain.
“Aku tidak siap untuk itu.”
“Kau tadi melambaikan tangan seperti seorang ratu,” kata Aoi.
“Aku sedang berusaha agar mereka tidak melihatku menangis.”
“Berhasil?” tanya Mei.
“Tidak tahu. Aku tidak melihat wajahku sendiri.”
Chino tertawa, lalu menyeka sudut matanya dengan tisu. “Aku juga hampir menangis.”
“Tidak apa-apa,” kata Mei. “Aku rasa kita semua hampir menangis.”
Aoi menatap keluar jendela. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Kemudian ia mengangkat ponselnya, membuka catatan jadwal, dan memastikan kembali waktu pemeriksaan panggung.
Rin memperhatikan gerakan itu.
“Kau sedang bekerja lagi?”
“Pemeriksaan suara dimulai sore ini. Kita perlu tahu kapan harus meninggalkan hotel.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau tahu, bantu aku mengingatkan Yuka agar tidak menghabiskan seluruh waktu istirahat untuk melihat-lihat toko.”
“Aku mendengarnya!” seru Yuka.
“Bagus. Berarti aku tidak perlu mengulang.”
Rin tertawa kecil. Percakapan mereka kembali seperti biasa, tetapi pemandangan di bandara tadi masih menetap di benaknya. Di luar jendela, Singapura bergerak dalam potongan-potongan gambar: jalan raya yang lebar, pepohonan tropis di sepanjang trotoar, bangunan kaca yang menangkap cahaya matahari, dan papan-papan petunjuk yang menampilkan nama tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Negara itu berbeda dari Jepang. Bahasa di jalan terdengar berbeda. Udara terasa lebih lembap. Bahkan cara cahaya jatuh pada bangunan-bangunan terasa asing.
Namun, ketika para penggemar tadi memanggil nama mereka, tidak ada jarak yang terasa terlalu besar.
Malam konser pertama tiba dengan cepat.
Di belakang panggung sebuah concert hall di Singapura, lampu-lampu kerja menyinari deretan kotak peralatan dan kabel yang membentang di lantai. Bau logam dari rangka panggung bercampur dengan aroma kayu, kain kostum yang baru disetrika, dan sedikit wangi hairspray dari ruang rias. Dari balik dinding, suara penonton terdengar seperti ombak yang terus membesar.
Konser itu terjual habis.
Angka tersebut telah tercetak di lembar laporan promotor sejak siang, tetapi baru ketika mereka mengintip melalui celah tirai, kenyataan itu benar-benar terasa. Ribuan orang memenuhi kursi dan area berdiri. Cahaya dari gelang elektronik dan lightstick bergerak dalam pola-pola kecil di tengah ruangan yang mulai gelap.
Chino berdiri kaku di dekat monitor panggung, menatap lautan manusia itu dengan kedua mata membesar.
“Banyak sekali.”
“Jangan menghitung semuanya sekarang,” kata Mei sambil merapikan kerah kostumnya. “Nanti kau lupa lirik.”
“Aku tidak akan lupa lirik.”
“Bagus.”
“Aku hanya mungkin lupa cara berjalan.”
Yuka menepuk bahunya. “Kalau begitu, ikuti aku. Aku juga tidak tahu apa yang kulakukan.”
“Kau justru membuatku semakin khawatir.”
Aoi memeriksa posisi mikrofon mereka satu per satu. Gerakannya efisien, tetapi ia menghabiskan beberapa detik lebih lama untuk memastikan kabel mikrofon Rin terpasang dengan benar. Setelah selesai, ia menatap Rin.
“Monitor vokalmu sudah disesuaikan. Kalau ada masalah, beri tanda kepada teknisi. Jangan memaksakan diri hanya karena penontonnya banyak.”
Rin mengangguk. “Aku akan memberi tanda.”
“Janji?”
“Janji.”
Aoi tampak puas, meskipun sorot matanya masih menyimpan kecemasan yang tidak ingin ia tunjukkan terlalu jelas. Mereka semua tahu bahwa konser di luar negeri membawa tekanan yang berbeda. Penonton mungkin tidak memahami setiap kalimat yang mereka ucapkan. Respons mereka belum tentu sama dengan penonton Jepang. Tidak ada jaminan bahwa gerakan kecil atau lelucon yang biasanya berhasil akan diterima dengan cara yang sama.
Namun, musik mereka tidak dibangun dari keseragaman respons.
Mereka hanya perlu tampil dengan jujur.
Lampu belakang panggung meredup. Seorang kru mengangkat lima jari, lalu menghitung mundur dengan gerakan tangan.
Lima.
Empat.
Tiga.