Pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, Tokyo belum sepenuhnya tidur.
Dari jendela kamar hotel di sekitar Kudanshita, Rin dapat melihat lampu kendaraan bergerak di sepanjang jalan yang membelah kawasan perkantoran. Sesekali, taksi berhenti di depan lobi, menurunkan penumpang yang berjalan masuk dengan langkah lelah. Di kejauhan, gedung-gedung berdiri dalam kesunyian yang hanya sesekali dipecahkan suara mesin kendaraan dan dengung pendingin udara dari bangunan-bangunan di seberang jalan.
Besok malam, mereka akan tampil di Nippon Budokan.
Rin telah membaca nama itu berulang kali pada jadwal resmi, lembar produksi, dan dokumen teknis yang dikirimkan tim penyelenggara. Ia sudah melihat foto arena tersebut dari berbagai sudut, mempelajari denah panggung, bahkan membaca ulang susunan acara sampai hafal urutan setiap lagu. Secara rasional, tidak ada lagi yang perlu ia lakukan malam ini selain beristirahat agar tubuhnya siap menghadapi pertunjukan.
Namun, ketika ia mencoba memejamkan mata, pikirannya justru terus kembali kepada satu hal sederhana.
Besok, ia akan berdiri di atas panggung itu sebagai Rin Tachibana.
Bukan sebagai Ren yang mengenakan pakaian perempuan secara diam-diam di kamar terkunci. Bukan sebagai mahasiswa kedokteran yang menyembunyikan obat-obatannya di antara buku kuliah. Bukan sebagai seseorang yang harus menghitung setiap risiko sebelum berani memperlihatkan sedikit saja bagian dirinya kepada dunia.
Rin.
Nama itu kini tercetak pada dokumen resmi yang ia simpan di dalam tas, terdaftar secara sah dalam keluarga dan kehidupan sipilnya. Ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan seseorang menemukan nama lamanya pada daftar peserta, menghubungkan foto-foto yang berbeda, atau menggunakan rahasia pribadinya sebagai alat untuk mengendalikan hidupnya.
Namun, ketenangan yang ia miliki sekarang tidak menghapus ingatan tentang malam-malam ketika semuanya terasa begitu jauh.
Rin membuka mata, lalu menoleh ke arah jam digital di meja samping tempat tidur. Angka merahnya berganti menjadi 02.14.
Ia menghela napas pelan, menyibakkan selimut, dan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh karpet hotel yang lembut. Di atas kursi dekat jendela, pakaian untuk pemeriksaan panggung besok telah disiapkan dengan rapi. Tidak ada kostum yang perlu disembunyikan, tidak ada barang yang harus disamarkan di bawah tumpukan pakaian lain, tidak ada alasan untuk takut seseorang tiba-tiba membuka pintu.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Yuka muncul di layar.
Yuka: Kau masih bangun?
Rin membalas.
Rin: Ya. Kau juga?
Jawabannya datang hampir seketika.
Yuka: Aku tidak bisa tidur. Chino juga. Mei bilang dia cuma mau minum teh, tapi aku curiga dia juga belum tidur.
Rin tersenyum kecil.
Rin: Bagaimana dengan Aoi?
Yuka: Dia mengirim pesan di grup tentang perubahan kecil pada transisi lagu kelima. Pukul dua pagi. Menurutmu dia manusia?
Rin menutup mulut untuk menahan tawa agar tidak terdengar dari kamar sebelah.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Yuka: Kami di kamarku. Bawa dirimu ke sini. Jangan bawa dokumen teknis.
Rin bangkit, mengenakan kardigan di atas pakaian tidurnya, lalu mengambil ponsel dan kunci kamar. Sebelum keluar, ia memeriksa tas yang terletak di dekat meja. Map berisi dokumen penting masih berada di dalamnya, bersama buku catatan musik yang telah menemaninya sepanjang tur Asia.
Ia menyentuh bagian luar tas itu sebentar, kemudian mematikan lampu.
Malam belum selesai.
Dan rupanya, ia tidak harus melewatinya sendirian.
Kamar Yuka terletak dua pintu dari kamar Rin. Ketika pintu dibuka, aroma teh hangat dan biskuit mentega menyambutnya. Lampu utama telah dimatikan, menyisakan pencahayaan kuning dari lampu meja yang membuat ruangan terasa lebih menyerupai ruang keluarga kecil daripada kamar hotel.
Yuka duduk bersila di atas karpet dengan rambut berantakan dan kaus longgar. Di sebelahnya, Chino sedang memegang tablet yang menampilkan foto lama. Mei duduk di sofa dekat jendela, sementara Aoi berdiri di depan meja kecil, menuangkan air panas dari teko listrik ke dalam cangkir.
Aoi menoleh ketika Rin masuk.
“Kau juga tidak bisa tidur?”
“Sepertinya begitu.”
“Kalau begitu, duduk. Tehnya hampir siap.”
Rin menutup pintu, lalu melepas sandal hotel sebelum duduk di antara Mei dan Chino. Di meja, terdapat lima cangkir, sebungkus biskuit, dan sebuah tablet yang disandarkan pada kotak tisu. Foto yang terpampang di layar memperlihatkan lima gadis muda di ruang latihan sempit dengan dinding kusam dan lampu neon yang salah satunya mati.
Rin langsung mengenali tempat itu.
Basement Vivid Prominence.
Ia tidak melihat ruangan tersebut selama bertahun-tahun, tetapi tubuhnya seolah masih mengingat baunya. Udara pengap, lantai yang dingin, karpet latihan yang bagian tepinya mengelupas, serta kabel-kabel yang ditambal dengan selotip hitam. Di salah satu sudut foto, ada kipas angin kecil yang mereka nyalakan setiap kali ruangan menjadi terlalu panas. Di sudut lain, sebuah cermin besar memperlihatkan pantulan mereka yang belum terbiasa berdiri bersama.
Yuka menunjuk layar dengan sepotong biskuit.
“Lihat rambutku. Kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa poni itu bencana?”
“Karena waktu itu kita semua punya masalah yang lebih mendesak,” jawab Mei.
“Masalah apa yang lebih mendesak daripada poni?”
“Misalnya, kau selalu terlambat masuk pada hitungan kedelapan.”
“Itu fitnah.”
Aoi duduk di kursi dekat meja. “Ada rekaman latihan yang membuktikan sebaliknya.”
Yuka menatapnya tidak percaya. “Kau menyimpan rekaman itu?”
“Aku menyimpan semua rekaman latihan.”
“Bahkan yang memalukan?”
“Terutama yang memalukan. Kita perlu tahu apa yang harus diperbaiki.”
Chino tertawa sampai bahunya berguncang. Ia menggeser tablet ke arah Rin, memperbesar foto tersebut dengan dua jari.
“Lihat, Rin. Di sini kau berdiri di belakang kami.”
Rin menatap layar.
Dalam foto itu, ia mengenakan kaus putih longgar dan celana latihan hitam. Rambutnya masih sedikit lebih pendek daripada sekarang, wajahnya tampak pucat di bawah cahaya neon, dan kedua tangannya menggenggam botol air di depan tubuh. Ia berdiri setengah langkah di belakang anggota lain, bukan karena arahan koreografi, melainkan karena saat itu ia belum tahu seberapa dekat ia boleh berdiri dengan orang-orang yang kelak menjadi keluarganya sendiri.
Senyumnya tipis. Hampir tidak terlihat.
Ia mengingat hari itu. Mereka sedang berlatih untuk sebuah pertunjukan kecil, dan Ryuuto telah menghabiskan hampir satu jam mengkritik cara mereka bergerak. Setiap kesalahan diperlakukan seolah membuktikan bahwa mereka tidak layak mendapat kesempatan. Setiap kali latihan diulang, Rin menghitung napasnya sendiri, menjaga wajah agar tetap tenang, dan menyimpan kecemasan di tempat yang tidak terlihat.
Di balik tasnya, ada obat yang ia bawa dengan hati-hati.
Di balik pakaian yang ia kenakan, ada identitas yang ia lindungi dengan segala cara yang ia pahami saat itu.
Dan di tengah semua itu, ia masih belum tahu apakah suatu hari ia akan dapat menyebut dirinya sendiri tanpa takut.
“Kau terlihat sangat serius,” kata Chino.
Rin mengalihkan pandangan dari layar. “Aku memang sedang berusaha menghafal koreografi.”
“Tidak. Bahkan Aoi tidak seserius itu.”
Aoi mengangkat alis. “Aku selalu serius.”
“Benar. Tapi kau punya wajah yang bisa memperingatkan orang sebelum kau bicara. Rin waktu itu seperti sedang menunggu ujian anatomi.”
Rin tertawa pelan. “Mungkin karena aku memang masih memikirkan kuliah.”
“Di tengah latihan?”
“Aku belum pandai memisahkan semua bagian hidupku.”
Kalimat itu membuat percakapan berhenti sejenak.
Mei menatap foto tersebut, lalu menggeser cangkir tehnya sedikit menjauh agar tidak menyenggol tablet.
“Aku masih ingat latihan pertama kita,” katanya. “Waktu itu aku mengira grup ini tidak akan bertahan lebih dari beberapa bulan.”
Yuka langsung menoleh. “Apa? Kenapa?”
“Karena kita hampir tidak punya apa-apa. Ruang latihan yang sempit, peralatan seadanya, jadwal yang terus berubah, dan tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana mengurus semuanya.”
“Aku tahu cara mengurus banyak hal,” protes Aoi.
“Kau tahu cara membuat daftar tentang banyak hal.”
“Itu bagian penting dari mengurus sesuatu.”
Mei tersenyum. “Aku tidak bilang sebaliknya. Tapi saat itu kita semua masih mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang kita bangun.”
Ia mengangkat cangkir dan meniup permukaan teh sebelum melanjutkan.
“Aku ingat pulang setelah latihan pertama dengan kaki sakit dan kepala penuh pertanyaan. Aku tidak yakin apakah aku cukup bagus untuk melakukan ini. Aku juga tidak yakin apakah grup kecil seperti kita punya masa depan. Tapi aku ingat Rin tetap tinggal setelah yang lain pulang untuk membantu membereskan kabel.”
Rin mengerutkan kening, mencoba mengingat.
“Kabelnya hampir membuat seseorang tersandung.”
“Aku tahu. Kau membungkusnya dengan selotip.”
“Karena itu perlu dilakukan.”
“Ya,” kata Mei lembut. “Kau selalu punya alasan praktis untuk melakukan sesuatu. Kau jarang mengatakan bahwa kau peduli, tetapi kau menunjukkan kepedulianmu lewat hal-hal kecil.”
Rin menunduk, mengusap permukaan cangkir dengan ibu jarinya.
Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya tanpa membuat percakapan menjadi terlalu sentimental. Dahulu, ia memang lebih mudah berbicara tentang tindakan daripada perasaan. Jika seseorang mengalami kesulitan, ia akan mencari penyebabnya. Jika ada masalah, ia akan menyusun langkah penyelesaian. Perhatian adalah sesuatu yang dapat dilakukan tanpa harus membuka bagian dirinya yang paling rapuh.
Namun, Mei tidak sedang menyindir kebiasaan itu. Ia sedang mengingatkan Rin bahwa bahkan ketika ia masih takut memperlihatkan siapa dirinya, ia telah menemukan cara untuk hadir bagi orang lain.
“Kalau begitu, aku berutang banyak pada selotip,” kata Rin akhirnya.
Yuka langsung tertawa.
“Lihat? Itu sebabnya aku suka kalian. Bahkan saat sedang membicarakan masa lalu yang menyedihkan, kalian masih bisa membuatnya terdengar seperti masalah peralatan.”
“Selotip memang penting,” kata Aoi datar.
Chino tertawa lagi, dan ketegangan kecil itu menghilang.
Aoi mengulurkan tangan meminta tablet. Setelah menerima perangkat tersebut, ia menggulir beberapa foto lain. Ada gambar mereka sedang duduk di lantai setelah latihan, dengan kotak makanan murah terbuka di tengah. Ada foto Yuka tertidur di atas tasnya. Ada pula gambar Mei yang sedang membantu Chino mengikat rambut sebelum pertunjukan pertama mereka.
Lalu muncul sebuah foto yang membuat Rin berhenti tersenyum.
Foto itu diambil di ruang ganti kecil, beberapa bulan setelah mereka mulai tampil secara teratur. Ia duduk di depan cermin, mengenakan kostum panggung, sementara Aoi berdiri di belakangnya untuk membetulkan bagian belakang kerah. Wajah Rin dalam pantulan cermin terlihat kaku. Kedua tangannya terlipat erat di atas paha, dan matanya tidak menatap kamera, melainkan sesuatu di luar bingkai.
Ia ingat apa yang terjadi pada hari itu.
Beberapa jam sebelumnya, ia menerima pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu berisi foto yang diambil dari kejauhan, disertai kalimat yang menyebut nama Ren Tachibana. Pengirimnya mengancam akan mengungkap identitasnya jika ia tidak memenuhi permintaan tertentu.
Kazuma.
Nama itu tidak tertulis dalam foto lama tersebut, tetapi Rin merasakan ingatan itu kembali dengan ketajaman yang mengganggu. Ia mengingat layar ponsel yang terasa dingin di telapak tangan, napas yang mendadak sulit ditarik, dan pikiran yang bergerak begitu cepat hingga ia tidak mampu membedakan kemungkinan nyata dari bencana yang baru dibayangkannya.
Ia telah berusaha menyelesaikan semuanya sendiri. Ia menghitung risiko, mempertimbangkan siapa yang mungkin terlibat, dan mencoba menyiapkan jawaban untuk setiap kemungkinan. Bahkan saat duduk di depan cermin, ia masih menyusun strategi dalam kepalanya.
Aoi akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kau gemetar,” kata Aoi saat itu.
Rin mengingat bagaimana ia langsung menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja.
“Aku hanya kedinginan.”
“Ruang ini panas.”
“Aku baik-baik saja.”
Aoi tidak mempercayainya, tetapi ia tidak memaksa Rin untuk menjelaskan. Ia hanya berdiri di sampingnya sampai napas Rin kembali teratur, lalu menyelesaikan bagian kostum yang sedang dibetulkannya.
Foto itu menangkap momen beberapa menit setelahnya. Rin masih berusaha terlihat tenang, sementara Aoi berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di pinggang, seolah sedang memikirkan cara agar kerah kostum itu tidak kembali miring.
“Rin?” Suara Mei membawanya kembali ke kamar hotel.
Rin menyadari bahwa ia telah menatap layar terlalu lama. Ia meluruskan punggung dan meletakkan kedua tangan di sekitar cangkir teh.
“Aku ingat hari itu.”
Aoi tidak bertanya apa yang diingatnya. Ia mengikuti arah pandangan Rin, lalu mengangguk kecil.
“Ya. Hari itu.”
Yuka dan Chino saling bertukar pandang. Mereka tahu ada bagian dari masa lalu Rin yang tidak perlu dijelaskan ulang agar dapat dipahami. Tidak semua kenangan harus dibuka sepenuhnya hanya karena foto lama telah muncul.
Mei menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
“Kau tidak harus menceritakan apa pun malam ini.”
“Aku tahu.”
Rin menatap foto itu sekali lagi. “Aku hanya baru menyadari betapa banyak hal yang bisa berubah dalam beberapa bulan.”
“Beberapa bulan?” Yuka menggeleng. “Menurutku kita telah hidup selama sepuluh tahun sejak foto itu diambil.”
“Secara kalender, belum,” kata Aoi.
“Secara emosional, sepuluh tahun.”
Chino mengangguk setuju. “Mungkin lima belas.”
“Jangan menaikkan angkanya,” kata Mei. “Nanti kita merasa terlalu tua untuk tampil di panggung.”
Rin tersenyum, tetapi matanya masih tertuju pada foto.
Ada masa ketika ia mengira hidupnya hanya terdiri atas dua kemungkinan. Menjaga rahasia dengan sempurna atau kehilangan segala sesuatu yang telah ia bangun. Ia tidak melihat jalan tengah. Ia tidak tahu bahwa seseorang bisa mengetahui kebenaran tentang dirinya dan tetap memilih untuk tinggal. Ia tidak tahu bahwa persahabatan dapat bertahan bahkan setelah ketakutan yang paling pribadi akhirnya diucapkan dengan suara keras.
Ia juga tidak tahu bahwa suatu hari, ia akan melihat kembali foto-foto ini tanpa merasa perlu menghapus orang yang ada di dalamnya.
Gadis dalam foto itu tampak ketakutan. Ia tidak perlu menyangkalnya.
Namun, gadis itu juga telah bertahan.