FALLACY: The Poppy's Case

fingerluv
Chapter #5

Chapter 4

"Good luck deh." Sabian menghela napas lelah. Kacamata yang sejak berjam-jam lalu bertengger di batang hidungnya kini sudah tergeletak di sisi keyboard, menampilkan mata bulatnya yang memerah dan kuyu.

Selaras dengan wajahnya yang kusut, bahu dan punggungnya pun sudah meluruh, bersandar penuh pada sandaran kursi hidrolik. Disusul kepalanya yang turut bersandar, membuat pandangannya tertuju pada langit-langit kamar kos yang putih kusam. Pemandangan menjemukan yang dia liat hampir setiap saat itu memicu beberapa ingatan, ingatan tentang malam-malamnya yang penuh perenungan juga pertimbangan.

Tanpa sadar, tangannya bergerak mengeluarkan bandul kalung yang tersembunyi di balik kaus. Dirematnya dua benda yang menggantung di lehernya itu dengan perasaan sesak.

"Ayah, aku bukannya nggak mau ngelakuin amanat ayah. Tapi, mau sampai kapan aku begini? Apa ini semua bakal ada ujungnya?" gumaman Sabian terdengar lirih. Suaranya yang agak tercekat membuat suasana dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu dilingkupi sendu.

"Aku ... aku bingung Ayah, sebenernya buat apa aku ngelakuin ini. Ayah nggak ngasih aku penjelasan apapun, apa yang kulakuin sekarang udah bener? Ayah....." Sabian tersendat, setetes air bening bergulir dari sudut mata. Dengan tangan kanan masih setia menggenggam kalungnya, lengan kirinya bergerak menghapus jejak basah di pipi.

Huuuh

Sabian menghembuskan napas perlahan, mengontrol emosinya yang mendadak bergejolak. Agak konyol. Sebab sekarang ini tengah hari siang bolong dan dia tiba-tiba galau bahkan sampai menangis. Jika di waktu malam mungkin suasananya masih mendukung, lah ini? Ah sudahlah.

Mengenyahkan pikiran kacaunya, Sabian menegakkan punggung dan jemarinya langsung berada di atas keyboard. Entah apa yang dilakukan, tapi yang jelas kegiatan itu pasti sudah sangat sering dia lakukan karena jarinya sangat lihai menari di sana. Dia bertahan dengan pekerjaannya tidak sampai lima menit, kemudian tubuhnya merunduk untuk membuka laci meja.

Tok tok

Belum sempat Sabian mengeluarkan benda dari sana, ketukan yang terkesan tidak santai menyambangi pintu kamarnya. Dia tidak langsung beranjak, memilih menutup kembali laci dan mematikan komputernya terlebih dahulu.

TOK TOK TOK

Kali ini lebih keras membuat Sabian berdecak.

"YAAA." Sabian menyahut tidak kalah lantang. Siapa sih yang bertamu dengan cara brutal begitu, pasti bukan tetangganya. Namun, asumsi Sabian terpatahkan dengan cepat kala pintu terbuka dan dia langsung didorong masuk oleh Vale— lelaki yang tinggal persis di sebelah kanan kamarnya.

"Bang—"

"Lo ada utang pinjol apa gimana?!"

Sabian mengernyit bingung melihat pertanyaan dan tingkah lelaki jangkung di hadapannya. Wajah lelaki yang dia kenal selengean itu pucat, caranya berbicara dengan berbisik tapi ngegas itu juga aneh sekali. Lelaki yang lebih tua enam tahun darinya itu bersandar pada pintu, ah lebih tepatnya mungkin menekan pintu, seolah dia takut tiba-tiba ada yang mendorong dari luar dan menerobos masuk.

"Kena—"

"Ada dua orang nyariin lo! Perawakannya kayak preman, asli! Lo ada utang ya?!" Lagi-lagi Vale memotong ucapan Sabian dengan kalimat tergesa. Dan seperti sebelumnya, bukannya menghilang, kernyitan di dahi Sabian malah makin dalam. Dia tidak merasa pernah berhutang dimanapun atau pada siapapun. Kalaupun pernah, paling hutang di angkringan bang Nanda, itu pun seingatnya tidak sampai ratusan ribu.

Tok tok tok

Ketukan di pintu kembali terdengar. Sabian mendekat, tapi Vale justru enggan menyingkir. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran, ini karena hubungan pertemanannya dengan Sabian bisa dibilang akrab. Jadi, dia tidak mau Sabian kenapa-napa, tapi sayangnya, dia juga tidak punya cukup nyali. Walau tengil, dia itu pengecut.

"Minggir Bang. Gue coba liat dulu." Sabian mendorong tubuh Vale ke samping.

"Kalo mereka berbuat jahat gimana?" Tangan Sabian yang sudah berada di gagang pintu ditahan Vale. Sabian memutar bola matanya, kesal menghadapi sikap berlebihan kawannya satu ini.

"Masih ada banyak orang di sini, kalo mereka macem-macem pasti nggak bakal bisa kabur gitu aja," Sabian berkata santai.

"Jadi, ada apa?" Sabian langsung bertanya begitu dia dan dua tamu tidak diundangnya sudah berada di kamar kos sempitnya. Tentu setelah memaksa Vale pergi atas permintaan mereka dan Sabian tidak keberatan tentang itu. Raut wajah Sabian terlihat sangat tenang, tidak ada ketakutan sedikitpun di sana, yang mana cukup menarik bagi kedua orang asing tersebut.

"Sebelumnya, kenalin gue Joel dan ini Deon." Lelaki yang lebih tinggi itu memperkenalkan diri, sekaligus lelaki di sampingnya yang tampak tidak terlalu ramah.

Sabian bergumam. "Dan kalian pasti udah tau siapa gue."

Joel mengangguk membenarkan. "Ya, dan mungkin lo juga udah bisa nebak siapa dan kenapa kami dateng ke sini?"

Namun anggapan Joel kali ini meleset sebab wajah Sabian justru menyiratkan kebingungan untuk beberapa saat.

"Kami lagi nyari sesuatu tentang orang bernama Surya Agung." Satu kalimat singkat yang dilontarkan Deon berhasil memancing reaksi Sabian.

Seketika ruangan dilingkupi atmosfer tidak mengenakkan. Sabian mengalihkan pandangan, manik matanya agak bergetar karena hal tidak terduga. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, menyalurkan kecamuk di kepala dan sesak di dada yang kembali menyeruak.

"Gue nggak tau itu siapa. Mungkin kalian salah orang, jadi silakan pergi." Tanpa merasa sungkan dan tanpa basa-basi, Sabian berbalik badan, membukakan pintu kamarnya sebagai gestur "mengusir".

Tindakan Sabian justru memberi sinyal positif bagi Joel dan Deon, keduanya saling pandang untuk beberapa saat seolah menyelaraskan rencana. Joel menjadi yang pertama bergerak, lelaki kekar itu mendekati Sabian yang kini menatap was-was.

Sabian tergemap, dalam hitungan detik posisinya sudah bergeser, bahkan kedua tangannya kini terbelenggu di belakang tubuh. Suara "klik" menyadarkannya dari kelinglungan, dia tidak merasakan besi melingkari pergelangan tangannya, berarti suara tadi adalah kunci pintu kamar.

Kepala Sabian tertoleh, berusaha semaksimal mungkin menatap lelaki di belakangnya. "AP—"

"Ssstt maaf kami harus sedikit kasar. Kami butuh beberapa hal segera dan menunggumu jinak bukan pilihan saat ini," Joel berkata santai. Satu telapak tangannya sudah membekap mulut Sabian.

Tidak butuh waktu lama untuk menaklukkan Sabian. Dia sudah sepenuhnya terbelenggu, terduduk di kursinya lengkap dengan borgol yang terpasang di kedua tangan dan kaki terikat. Lelaki muda itu suka tidak suka hanya bisa pasrah, dia selalu lemah dalam hal ketangkasan. Lagipula, dia sedikit penasaran dengan maksud kedatangan dua orang ini.

Joel duduk di tepi ranjang, menyeret kursi beroda yang diduduki Sabian ke hadapannya. "Oke—"

"Awalnya gue nggak mau berprasangka, tapi ngeliat cara kalian, kayaknya gue tau kalian dari mana." Sabian lebih dulu memotong dengan nada meremehkan. Joel menaikkan satu alisnya penasaran. Deon yang sedang membuka laci pun sejenak menghentikan gerakannya, menoleh pada Sabian yang tampak tidak gentar sedikitpun.

Sabian masih sempat tertawa sinis sebelum melanjutkan, "Abdi negara konon, tapi kelakuan kalian malah sering bikin masyarakat resah ya."

Lihat selengkapnya