FALLEN ANGEL
"Cerita sedikit mengenai kejadian tadi pagi. Kebetulan di kantor memiliki satu OB baru yang berasal dari Subang, umurnya kira-kira 20 tahunan, namanya bisa di panggil Iman. Iman ini kulihat tadi pagi tengah memfotokopi beberapa berkas pantri bersama salah satu staf pegawai editing. Saya masuk keruangan pantry, Iman dan staf editing itu sedikit melemparkan senyum kepada saya, bahkan Iman sempat menawarkan diri untuk membuatkan saya kopi, namun saya tolk dengan alasan saya ingin membuatnya sendiri.
Di tengah saya mengaduk kopi, saya mendengar Iman bercerita mengenai sosok yang dipangginya NONA dengan semangat. Yang saya tangkap Nona ini begitu mulia, adil dan sangat disegani. Saya yang mendengar hal itu sedikit tertarik hingga akhirnya saya betanya kepada Iman apakah nona-nona yang Iman maksud ini orang beneran atau hanya sekedar mitologi di kampungnya? Namun dengan candaan Iman menjawab terserah bapak mau mengangap ia manusia atau bukan tapi yang jelas dia itu agung bahkan satu wilayah Jawa Barat tidak akan membiarkan nona--nona ini keluar dari Jawa Barat.
Seketika saya yakin bahwa cerita Iman ini hanya mitos belaka. Mana ada orang yang tidak di perbolehkan untuk keluar dari satu wilayah dan dapat titel agung lagi, saya kira itu berlebihan.
Rosa Manurung (Reporter Radar Post) "
***
Pak Otto kembali membuka catatan bersampul kulit untuk mencatat beberapa agenda kedepan. Setelah membaca salah satu Thread mengenai OB dari Subang yang membicarakan tentang Nona langsung masuk list orang yang harus dibawa kembali ke Subang. Pak Otto embali mlihat kesampingnya Nona yang tengah menatap sepanjang jalan di jendela mobil yang kini tengah membawa mereka ke salah satu wilayah di Jawa Barat untuk menyidak salah satu barak tentara yang kini sudah mengumpulkan kurang lebih 10 anak laki-laki remaja yang kedapatan membeli dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.
"Tebih keneh nya, Pak ?" ( Masih jauh ya, Pak ?) Tanya Nona.
"Sakedap deui, Neng. Kumaha kitu ? " ( Sebentar lagi, Neng. Ada apa ?) Balas Pak Otto sembari menutup kembali buku catatan kulitnya dan mengecek kembali bawaan alam tas selempang has orang Baduy itu.
" Rarasaeun hoyong ongkek." (Rasa-rasanya mau muntah) Balas Nona wajahnya terlihat lesu.
"Tara biasana momobilan nganggo ongkek sagala, Neng." ( Gak biasanya naik mobil pake mau muntah segala, Neng) Pak Otto mengernyit merasa ada yang aneh dengan Nona.
"Neng nuju teu damang ?" (Neng lagi sakit ?) Tanya Pak Otto khawatir.