Sementara waktu terasa melambat, aku masih berharap ada keajaiban, tentang kondisi yang tidak kumengerti. Infonya masih simpang siur. Aku tidak sempat menggali data yang lebih valid. Karena sedikit saja terlambat, mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk sekedar berterima kasih pada Ayah.
Sekarang ini dia ada di sana, di ruangan dengan pendingin ekstra. Badannya mungkin saja sedang menggigil sekarang. Tidak bisa dibayangkan. Ayah tidak suka ruangan ber-AC sejak dulu.
Aku menutup bayangan tentang Ayah saat kurasakan getar dari tas selempangku. Kuambil ponselku tapi getarnya belum berhenti. Rupanya berasal dari ponsel lain. Milik Ayah.
Di layarnya muncul nama kontak ‘WULAN’. Teman Ayah? Mungkin rekan kerja atau nomor tetangga yang pernah ditolong Ayah.
Aku tercenung menatap layar berkedip. Segan untuk terima panggilan tak dikenal. Apa yang harus kubilang? Ayah masuk rumah sakit? Ah rasanya belum begitu perlu. Nama ini tidak tercatat dalam nama keluarga dekat kami. Aku saja baru tahu nama ini. Aku tidak perlu berbasa-basi untuk itu, bahkan hanya Ibu yang aku kasih tahu soal keadaan Ayah saat ini.
Aku membiarkannya hingga panggilan itu berhenti sendiri. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika layar HP ayah berhenti berkedip dan mode kunci muncul dalam beberapa detik, 12 kali panggilan tidak terjawab dari nama yang sama. WULAN.
Ada penyesalan kenapa telepon tadi tidak kuangkat. Siapa orang ini? Nama perempuan yang tidak pernah kukenal menelpon Ayah sebanyak itu? Kalau hanya kenalan biasa mana mungkin sampai seberani itu. Bukannya ini sangat tidak etis. Menelpon orang jika tidak diangkat sebanyak dua kali artinya orang yang ditelepon benar-benar sedang sibuk atau memang tidak berkenan angkat telepon. Seakrab apa hubungan Ayah dengan perempuan itu?
Mengikuti rasa penasaranku, aku mau coba membuka HP Ayah. Mungkin dia benar-benar orang penting buat Ayah. Akan kutelepon balik saja.
Tapi sebelum semua maksudku terlaksana, seseorang berseragam perawat muncul dari balik pintu IGD. “Keluarga Bapak Danu?” Katanya.
“Saya, Sus.” Aku mendongak, merespon sembari meletakkan HP Ayah ke tempat semula.
###
Sebulan sebelumnya.
Aku baru sampai ke rumah sekitar pukul sepuluh malam. Ada jadwal bimbingan skripsi dadakan. Itu alasan yang kusiapkan jika ibu bertanya. Hanya itu, dan Ibu biasanya tidak tanya lebih jauh. Selagi alasannya jelas karena urusan kampus dan pendidikanku, Ibu percaya padaku.
Berbeda kalau Ayah yang tanya. Aku akan ceritakan semua detailnya. Aku akan bilang ke Ayah dari mulai jam kuliah yang mendadak kosong sebab dosennya harus ikut pelatihan ke luar kota. Lalu aku ceritakan pula padanya bahwa aku baru bertemu dengan Rian di café langganan, nongkrong sekali lagi ke toko kaset jadul untuk property penelitian skripsi. Nah, setelahnya baru aku memang mengikuti jadwal tambahan untuk bimbingan skripsi.
Malam itu aku pulang dengan ojek online. Ada yang membuatku terheran. Aku melihat Ayah duduk sendirian di gazebo teras rumah kami. Motor bebeknya diparkir dekat situ.
“Ayah juga baru pulang?” Ayah kelihatan terkejut. “Kenapa nggak langsung masuk?” sambungku.
Aku lihat tadi Ayah seperti sedang menahan diri agar tidak kelihatan sedih lalu dipungkas dengan menghela napas panjang. Tapi saat melihatku, ia buru-buru bersikap biasa. Ia tersenyum, menatapku dalam dan teduh.
“Loh, Kirana baru pulang? Kuliah apa jam segini baru sampai rumah? Dosen mana yang ngajar jam segini?”
“Ih Ayah. Sarkas. Serem tau.”
“Udah tahu serem malah cengengesan.” Katanya lalu mengacak rambutku.