Family Man

Lina Budiarti
Chapter #2

Bagian 2

Aku menghempaskan badan sejenak di atas tempat tidur. Tanganku bergeriliya mencari sesuatu di dalam tas, sementara mataku menatap langit-langit kamar.

Setelah kutemukan segera pandanganku tertuju pada layar HP, dan dengan satu usapan membuat kuncinya terbuka. Nama Rian mengambang di pop-up. Ia mengirimiku pesan tiga puluh menit lalu.

Izinin gue buat ketemu ayah lo. Biar gue tau persis apa yang lo mau.

Aku hanya membaca. Membiarkan layar tetap menyala tanpa bermaksud membalasnya.

Kuakui, Rian salah satu yang paling gigih mendekatiku. Terutama setelah aku dianggap cukup pantas menjalin hubungan serius. Di masa menjalani bimbingan skripsi, bisalah ditebak kisaran usiaku berapa sekarang.

Mari kudeskripsikan sosok Rian. Dia ini pemuda dengan tubuh tinggi dan ramping, bahu cukup bidang, serta pembawaan yang santai. Rambut hitamnya sedikit berantakan secara natural, memberikan kesan anak muda yang tidak terlalu memikirkan penampilan. Wajahnya tegas dengan rahang cukup kuat dan tatapan mata yang cenderung tenang. Rian tidak perlu banyak bergerak untuk terlihat percaya diri. Ia lebih sering menggunakan kaus polos, kemeja terbuka, jeans, dan sneakers. Ada kesan sedikit cuek dari penampilannya, tetapi ketika bersamaku, sikapnya berubah menjadi lebih perhatian. Senyumnya tidak terlalu sering muncul, tetapi ketika muncul terasa tulus. Ia bukan laki-laki yang pemaksa. Perasaannya lebih banyak terlihat dari hal-hal kecil seperti mengantar, menunggu, memperhatikan ketika aku sedang tidak baik-baik saja.

Dari semester ke semester berikutnya, Rian kerap datang dengan niat yang sama, membicarakan masa depan bersamaku.

“Lo kepikiran soal jodoh nggak sih, Ki?” Tanya Rian beberapa waktu lalu, tanpa basa-basi. Saat kami janjian nongkrong di café langganan. Saat itu pertemuan ke sekian kalinya. Biasanya ramai-ramai bersama beberapa teman satu jurusan. Namun hanya saat itu kami janjian berdua.

“Kepikiran juga lah. Masa mau lajang terus.” Aku menjawab seadanya. Aku tahu dia sedang mencari celah untuk mengutarakan hatinya lagi. “Emangnya kenapa?” Aku berlagak cuek.

“Gue serius nanya lho ini.”

“Y ague juga jawab serius.”

“Ok. Terus kenapa sampai sekarang lo nggak mau pacaran? Cari-cari calon gitu.”

“Ya belum mau aja. Belum nemu yang seius.”

“Gue serius lo, Ki.”

“Serius apa?”

“Serius mau usaha jadi jodoh lo.”

Aku tertawa. “To the point amat, mas.”

“Ini bukan to the point, Kiranaaa. Gue udah berkali-kali bilang, kalau gue serius mau kita punya hubungan serius. Lo nya aja nolak terus.” Mata Rian membesar. Kalimatnya penuh penekanan.

Lihat selengkapnya