Family Man

Lina Budiarti
Chapter #3

Bagian 3

Pagi itu meja makan sudah penuh makanan. Meski hanya dua macam menu favorit, yang paling penting adalah penghuni rumah sudah berkumpul.

Cahaya matahari yang lembut baru saja menerobos gorden dapur. Belum begitu menyengat. Ibu baru saja meletakkan piring terakhir. Telur dadar dan tempe goreng, menu andalan yang tak pernah terlewat. Beberapa menit berselang, pintu depan berderit dan Kak Bara muncul. Kakak laki-laki tertuaku ini sering seenaknya masuk rumah Ayah. Di sudah menikah. Tentu saja dia sudah tinggal terpisah bersama istrinya. Mereka menikah belum genap setahun dan belum memiliki momongan. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja dia datang tanpa diundang, masih memakai kaos rumahan, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur.

“Eh, Kak Bara?” Aku menyapanya lebih dulu. “Nggak kerja?”

“Kerja, tapi agak siangan.” Dia langsung menarik kursi kosong di sebelah Kak Alya. Oh iya, Kak Alya ini anak tengah Ayah dan Ibu alias kakak terdekatku. Yups, kami tiga bersaudara. Kak Alya ini wanita karier tulen. Tapi dia kerja lapangan, jarang ada di kantor, katanya. Orangnya fleksibel, praktis dan efisien. Target apapun tidak pernah ngoyo alias “Ya udah jalani aja. Nanti juga kalau rezekinya bakal ketemu.”

Balik lagi soal makan pagi bersama. Kak Bara duduk di sebelah Kak Alya lalu mengambil piring tanpa basa-basi. “Nadia belum masak, dapur berantakan, jadi gue mutusin ngungsi sarapan ke sini aja.” Katanya.

“Kasiaan.” Kak Alya mencibir. Kak Bara tidak peduli.

“Istri kamu itu,” Ibu menggeleng sambil tertawa sebentar, menyodorkan wadah nasi ke arahnya. “Untung Ibu masaknya banyakan.”

Ayah yang sedari tadi asyik dengan kopinya, ikut tertawa. “Namanya juga masih pengantin baru, belum hafal ritme dapur.”

“Ritme dapur apaan, Yah. Nadia emang nggak suka masak dari dulu. Seringnya jajan ke warung,” sahut Kak Bara. Mulutnya penuh nasi.

“Kakak dong yang masak,”Aku tertawa meledeknya.

“Elo tuh, Ki. Ngeselin tau. Ngasih saran yang relevan dong. Itu namanya menjerumuskan.” Bara merengut.

Ibu pernah cerita kalau Kak Bara sempat dibully di sekolah gara-gara kelompoknya di tempat supercamp kalah di lomba masak. Semua teman di kelompoknya menyesal memilih Kak Bara jadi salah satu kandidat. Bedain garam sama gula putih saja tidak mengerti. Kesalnya masih terbawa hingga dewasa.

Sarapan berjalan seperti biasa. Obrolan santai, penuh candaan sederhana, sementara suara sendok beradu piring. Hingga tiba-tiba ponsel Ayah bergetar di atas meja. Ia melirik layarnya, lalu mengangkat telepon dengan nada yang langsung berubah formal.

“Assalamualaikum. Pak RT.. Oh iya, Pak. Ada apa?” Mendadak hening. Semua mata tertuju pada Ayah. Seperti tatapan protes. Kami sedang quality time pagi ini tapi kenapa harus ada yang ganggu? Begitu kira-kira nada protesnya. Kenapa pula Ayah mengangkat telepon saat kita sedang makan bersama. Bukannya dulu kita bersepakat bahwa saat kita bersama, abaikan apapun yang berasal dari luar. Ah aku juga lupa. Entah kapan kesepakatan itu dibuat.

Lihat selengkapnya