Family Man

Lina Budiarti
Chapter #3

Bagian 3

Pagi itu meja makan sudah penuh makanan. Meski hanya dua macam menu favorit, yang paling penting adalah penghuni rumah sudah berkumpul.

Cahaya matahari yang lembut baru saja menerobos gorden dapur. Belum begitu menyengat. Ibu baru saja meletakkan piring terakhir. Telur dadar dan tempe goreng, menu andalan yang tak pernah terlewat.

Ibuku adalah seorang perempuan pertengahan empat puluhan dengan wajah keibuan yang kuat. Tubuhnya proporsional dan pembawaannya tenang. Wajahnya memiliki garis-garis usia yang natural, terutama di sekitar mata, tetapi justru memberikan kesan matang dan berwibawa. Tatapannya lembut ketika berbicara dengan anak-anak, tetapi bisa menjadi sangat tajam ketika melihat sesuatu yang tidak beres. Ibuku bukan perempuan yang suka berdandan berlebihan. Ia lebih sering mengenakan pakaian rumah yang rapi. Favoritnya mungkin sekedar blouse, tunik, atau pakaian sederhana dengan warna-warna lembut.

Beberapa menit berselang, pintu depan berderit dan Kak Bara muncul. Kakak laki-laki tertuaku ini sering seenaknya masuk rumah Ayah. Pria akhir dua puluhan dengan tubuh tinggi, ramping, dan sedikit atletis. Wajahnya tegas dengan rahang yang cukup kuat, alis yang ekspresif, dan tatapan mata yang terkadang membuatnya terlihat seperti sedang menilai seseorang. Rambut hitam pendek dengan gaya sederhana. Kak Bara memiliki aura lebih serius dibandingkan adik-adiknya. Cara berpakaiannya praktis. Dia lebih suka kaus, kemeja, jaket, celana jeans atau chino. Ia tidak banyak menggunakan aksesori. Ekspresi wajahnya cenderung datar ketika menghadapi masalah, tetapi justru itu yang membuat kemarahannya terasa kuat ketika akhirnya meledak. Secara fisik ia terlihat seperti anak sulung yang sejak lama merasa harus memahami keadaan keluarga lebih dulu daripada dirinya sendiri.

Dia sudah menikah. Tentu saja dia sudah tinggal terpisah bersama istrinya. Mereka menikah belum genap setahun dan belum memiliki momongan. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja dia datang tanpa diundang, masih memakai kaos rumahan, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur.

“Eh, Kak Bara?” Aku menyapanya lebih dulu. “Nggak kerja?”

“Kerja, tapi agak siangan.” Dia langsung menarik kursi kosong di sebelah Kak Alya.

Oh iya, Kak Alya ini anak tengah Ayah dan Ibu alias kakak terdekatku. Yups, kami tiga bersaudara.

Dia ini adalah perempuan pertengahan dua puluhan dengan wajah oval, mata teduh, senyum lembut, dan pembawaan yang menenangkan. Rambut hitamnya lumayan panjang, biasanya ditata sederhana. Tubuhnya ramping dan gerak-geriknya tidak banyak. Kak Alya memiliki kecantikan yang tidak norak ya. Ia lebih menonjolkan kesan hangat dan approachable. Pakaiannya sederhana tetapi selalu terlihat rapi namun feminim. Dibandingkan Kak Bara yang cenderung frontal dan aku yang lebih emosional, Kak Alya terlihat paling stabil. Ketika anggota keluarga mulai bertengkar, biasanya wajah Kak Alya yang pertama kali menunjukkan kekhawatiran. Ia memiliki ekspresi khas seseorang yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Kak Alya ini wanita karier tulen. Tapi dia kerja lapangan, jarang ada di kantor, katanya. Orangnya fleksibel, praktis dan efisien. Target apapun tidak pernah ngoyo alias “Ya udah jalani aja. Nanti juga kalau rezekinya bakal ketemu.”

Balik lagi soal makan pagi bersama. Kak Bara duduk di sebelah Kak Alya lalu mengambil piring tanpa basa-basi. “Nadia belum masak, dapur berantakan, jadi gue mutusin ngungsi sarapan ke sini aja.” Katanya.

“Kasiaan.” Kak Alya mencibir. Kak Bara tidak peduli.

“Istri kamu itu,” Ibu menggeleng sambil tertawa sebentar, menyodorkan wadah nasi ke arahnya. “Untung Ibu masaknya banyakan.”

Ayah yang sedari tadi asyik dengan kopinya, ikut tertawa. “Namanya juga masih pengantin baru, belum hafal ritme dapur.”

“Ritme dapur apaan, Yah. Nadia emang nggak suka masak dari dulu. Seringnya jajan ke warung,” sahut Kak Bara. Mulutnya penuh nasi.

“Kakak dong yang masak,”Aku tertawa meledeknya.

Lihat selengkapnya