Oji menunjuk ke kiri, matanya menyipit karena sinar matahari. "Tuh," Katanya, sambil mengangguk ke arah kereta yang mulai terlihat di rel.
El mendesah dramatis, sambil menyeka dahinya. "Alhamdulillah... " Ia mengamati pantulan dirinya di jendela, wajahnya sedikit memerah, rambutnya menempel di dahinya. "Panas banget di sini!"
Koi terkekeh. "Elu mah baru di sini aja udah kepanasan, gimana di akhirat nanti."
El lantas menoleh, "Lu ngedoain gue masuk neraka?" Tuduhnya.
"Gue gak bilang gitu loh." Koi mengangkat kedua bahunya.
Ketika kereta berhenti mendadak di peron, rombongan itu masuk dengan susah payah, berdesakkan dengan penumpang lainnya.
Mereka berhasil mendapatkan dua kursi yang saling berhadapan, masing-masing cukup untuk tiga orang.
Maul dan Iki duduk di satu sisi, sementara Oji, Koi, dan El duduk di sisi yang lain, meluruskan kaki dan menyelipkan tas mereka di bawah kursi.
Irama kereta segera mengiringi kegembiraan mereka, melaju dengan mantap ke depan saat pemandangan kota kabur di balik jendela.
Koi segera mengeluarkan ponselnya, mengabadikan beberapa momen selama perjalanan.
Mulai dari Maul yang mencoba tertidur, tetapi diganggu oleh El yang membuat wajah-wajah lucu padanya; Iki yang bertingkau seperti pemandu wisata profesional dadakan.
Koi, yang selalu cepat memegang ponselnya, sudah mulai mengambil gambar. "Sip, mari kita dokumentasikan perjalanan epik ini," Katanya, mengarahkan kameranya ke arah Maul, yang kepalanya bersandar ke belakang, matanya setengah tertutup.
"Gak usah dong, ngantuk nih," Gerutu Maul, mencoba melawan rasa kantuk.
Terlambat. Koi telah mengabadikan momen itu, lengkap dengan El, yang duduk di sampingnya, membuat wajah-wajah lucu yang berlebihan terhadap Maul.
"Cakep!" Seru Koi, tertawa saat ia menunjukkan foto itu kepada Oji, yang terkekeh dan menggelengkan kepalanya.