"Sini, sini." Maul langsung menuju loket tiket, melambaikan tangan agar yang lain mengikutinya sambil mengeluarkan dompet.
Ia lantas mengangguk kepada staf, yang menyerahkan tiket yang sudah dibayar lalu masuk sambil tersenyum nakal, membuat mereka semua bertanya-tanya apa yang akan terjadi.
Begitu mereka berjalan melalui lorong remang-remang menuju pintu masuk, mereka mencium bau aneh—campuran dupa dan sesuatu yang, sejujurnya, tidak ingin mereka lihat di sana.
Dindingnya dilapisi kertas dinding gelap yang mengelupas, dan lampu redup berkedip-kedip di atas kepala, menghasilkan bayangan menakutkan yang seolah menari-nari di sekeliling mereka.
'Deg!' Kejutan pertama datang ketika mereka hampir menemukan peti mati berdarah yang diletakkan di samping jalan setapak, begitu realistis sehingga mereka masing-masing menoleh dua kali.
Jejak darah palsu menetes dari tutupnya, menggenang di lantai dengan kilau basah yang meresahkan.
El memperlambat langkahnya, mengamati peti mati itu dengan hati-hati seolah-olah peti itu bisa terbuka kapan saja. Ia mencondongkan tubuh ke dekat Koi dan berbisik, "Itu peti beneran gak sih...?"
"Kalem elah." Koi mendengus, menepuk punggungnya. "Itu semua tuh cuma gimik. Masa iya beneran darah? Tuh, liat ke sana."
Dia menunjuk ke tanda neon di ujung lorong, mengiklankan akun media sosial rumah hantu itu dengan kartun hantu yang ramah terpampang di atasnya.
Perasaannya tenang sejenak, tetapi El terus melihat sekeliling, matanya melirik ke setiap benda aneh yang mereka lewati.
Di sana ada altar yang diterangi lilin yang ditumpuk dengan buah, dupa, dan boneka dengan mata cekung yang tampaknya mengawasi setiap gerakan mereka.
Saat mereka berbelok di sudut, tanda yang remang-remang di dinding bertuliskan: SELAMAT DATANG.
El pun lantas menelan ludah, "Bismillah..."