Fat, Hope, Love

Lily Zhang
Chapter #4

Chapter 4 : Chilhood Memories

‘Meskipun tidak bisa membencinya, aku juga tidak bisa membiarkannya semena-mena’-Allen

 

“Kenapa Viena masuk ke dalam gedung itu?” gumamku tidak jelas, melupakan roti yang sedari tadi kupegang.

“Hei!” teguran itu membuyarkan lamunanku. Tanpa perlu menoleh, aku tahu itu suara Kelly yang paling hobi menguntit kemana pun aku pergi. Heran! Tidak bosan kah? Aku memandangnya sebal. Ia duduk tanpa menghiraukan tatapan tidak senangku. Gadis ini memang sudah terbiasa kucuekin.

“Kamu lagi lihat apa sih?” tanyanya sembari mengikuti arah pandangku. Malas menjawab, aku hanya menggeleng – berharap ia pergi secepatnya mendapat tanggapan negatif dariku.

Tiba-tiba ia menghentikan kunyahannya dan menegur kesal, “apa sih bagusnya cewek gendut itu?” kini, ia menggoyang-goyang tanganku manja.

Aku masih diam, tidak berselera untuk menjawab setumpuk pertanyaan yang terkesan cemburu setiap kali aku memerhatikan seorang gadis.

“Udah jelek gitu jangan dilihatin terus, entar dia ke-Geer-an!” protes Kelly sambil menyambung omelannya, “syukur-syukur sudah keterima di kelompok kita... kalau disuruh milih sih ogah deh!”

“Kelly!” bentakku melepaskan pegangan tangannya. “Jangan lanjutkan hinaanmu!”

Kelly memandangku kesal bercampur sakit hati, tatapan tajamnya menghujamku. “Kenapa sih kamu belain dia terus?”

“Hakku!”

“Oh, begitu! Baiklah...,” nada Kelly terdengar mengancam. Ia beranjak pergi dengan kisi-kisi omelan yang tak terputus. Kutatap punggung Kelly dengan bayang kesedihan. Sepedas apapun kata yang keluar dari mulut Kelly namun dia lah yang selalu berada di sampingku. Satu-satunya gadis yang rela kehilangan teman-temannya demi membelaku, demi menyelamatkanku dari segala gencetan dari teman sekelas sewaktu kecil.

Namun nuraniku pun tidak mungkin melepaskan kepedulianku terhadap Viena. Yah, aku sadar kalau mataku selalu memerhatikannya. Melihatnya seperti melihat diriku bertahun-tahun yang lalu.

⋆⋆⋆

10 tahun yang lalu...

“Lihat Al... Mama baru beliin aku disc doraemon terbaru...,” kata seorang temanku memamerkan koleksinya. “Kamu tidak ada kan?” lagi-lagi ia tersenyum bangga. Tidak ada satu kata pun yang bisa meluncur keluar begitu saja.

“Ayah nggak...,” belum sempat kukatakan pembelaan, mereka langsung saja menvonisku, “miskin kali tapi nggak mau ngaku!” tutur temanku yang lain juga memamerkan disc koleksinya.

Lagi, mereka memang selalu senang mencaci-maki diriku. tidak pernah kusangka bahwa perlu pengetahuan yang cukup untuk masuk ke dunia orang lain. Sama halnya juga dalam pergaulan anak sekolah dasar. Untuk berteman dengan teman sekelasku, minimal aku harus memiliki mainan yang sama dengan mereka. Bila tidak, mereka akan memandang rendah diriku atau yang paling buruk adalah hinaan. Aku memang tidak pernah bisa berbincang bersama mereka karena aku tidak memiliki sesuatu yang dapat kubanggakan atau sekadar kuketahui.

Ayah memang keras. Ia tidak mengijinkanku untuk mengoleksi mainan maupun disc yang dirasanya tidak berguna untuk meningkatkan kecerdasanku. Ayah selalu hanya menuntut prestasi belajarku yang harus gemilang. Ah! Masa kecil yang terlalu menyedihkan. Setiap pulang dari sekolah, aku selalu menangis di pangkuan Nenek Lisa yang membesarkanku, pengganti Ibu.

Lihat selengkapnya