Fat, Hope, Love

Lily Zhang
Chapter #5

Chapter 5 : We are Friend

“Siapa bilang cita-cita itu memilih pemilik? Dia itu milik semua orang.”-Viena

 

Kuturunkan tangan dari mulut, berganti ke dada yang berdegup dengan laju. Aku benar-benar tidak memercayai mata ketika melihat sosok di depan itu. Gadis kasar yang selalu menggencetku. Karena dia tahu aku anak orang yang cukup berada, dia sangat suka memintaku untuk membeli makanan untuknya atau mengerjakan tugas untuknya dan Shiina. Yah, dia teman baik Shiina. Gina.

“Kamu melawan?” hardik Gina ketika suatu kali aku menolak perintahnya untuk membeli makanan ketika pelajaran olahraga berlangsung.

“Bukan... sekarang kan lagi pelajaran, Gin...,” tolakku berusaha tidak menyinggungnya.

“Pergi atau...,” ancam Gina sambil meremas tangannya, siap mencubitku seperti biasanya ketika aku melawan.

Aku menggeleng ketika ingatan tentang kekasarannya menyergapku. Sekarang ini aku tak ingin mengingat hal yang membuatku menarik napas panjang atau menambah keresahan di dada.

Dia masih tidak menyadari bahwa ada yang sedang memerhatikannya yang asik mengalunkan lagu Ave Maria dengan begitu lembut. Kemudian kupejamkan mata dan ikut menikmati lagu yang didendangkannya.

Menyadari lagu ini masih cukup panjang, aku berjalan tanpa berniat mengusiknya untuk mencari kursi yang nyaman. Wajah Gina terlihat sangat cantik dan feminin ketika irama membuat kepalanya menari ke kiri dan kanan. Senyumnya merekah lembut, selembut lagu yang sedang dimainkannya.

Dan ketika ia memencet tuts terakhir, spontan aku berdiri sambil bertepuk tangan. Saat Gina menoleh ke arahku, wajahnya berbalut merah. Entah bersemu, entah marah. Aku sudah tidak tahu dan tidak berani mengadu pandang dengannya.

“Viena!” suaranya membahana, bergema di ruang besar itu. Ia berjalan mendekatiku dengan cepat. Hatiku bergetar hebat, takut dia akan mengerjaiku lagi. Aku tak ingin lagi menjadi bulan-bulanan teman-temanku lagi. Akhirnya kuberanikan diri untuk memandangnya.

Gina mendelik ke arahku dengan nanar, namun aku tidak boleh menyusut. Aku tetap memandangnya dengan mata bulat kebanggaanku seraya berkata, “permainanmu bagus.”

Jelas kulihat perubahan raut muka Gina yang terkesan girang yang tersembunyi sembari menjawabku dengan ketus, “Aku... tidak butuh komentarmu!”

Aku hanya menyunggingkan seulas senyum tipis, duduk kembali di kursi sambil menerawang dan membayangkan ketika aku masih bermain piano. Dengan sadar kuceritakan kesenangan memencet tuts.

“Aku juga sangat menyukai piano. Teman baikku hanya piano, ia membantuku untuk bercerita. Ia selalu mendengarkan curhatku, bahkan ia menyembuhkan luka hatiku. Bagiku piano adalah segalanya sebelum tenosynovitis[1] membuatku melupakan semuanya.”

“Tenos...?” kernyit Gina sambil memandangku penuh tanya. Kemarahan akan rasa malunya telah berganti penasaran – sangat cepat terasa perubahan nada bicaranya. Ia mengambil tempat duduk di sebelahku sambil tidak lepas dari tanya dan mendengarkanku bercerita. Hatiku tenang sesaat. Setidaknya Gina tidak akan lagi mengerjaiku seperti dulu. Setidaknya ia terhipnotis dengan cerita-ceritaku, cerita dari dalam hati yang tidak pernah kuceritakan kepada siapapun.

“Iyah, tenosynovitis itu penyakit pembengkakan antara ibu jari dan jari telunjuk. Itu terjadi karena sewaktu kecil dulu aku melampiaskan semua kemarahan dan keresahan dalam hati yang tak dapat kuceritakan kepada piano... yah, hanya piano pendengar setiaku.” Kuhapus air mata yang sudah mengalir di pipi tembemku. Sekeras apapun kutahan, aku tidak dapat lagi membendung air mata. Aku juga tidak mengerti dengan diriku yang mampu menceritakan kisah paling sensitif dalam hidup. Mungkin karena memiliki minat yang sama dengan Gina. Atau bisa saja tersanjung mendengar nada keingintahuan dari mulut Gina. Entahlah.

“Vi...,” panggil Gina pelan sambil mengelus pundakku. Kupandang Gina sesaat, pertama kalinya ia menyunggingkan senyumnya untukku. Sesaat, hatiku membuncah bahagia. Rasanya bahkan air mata tak akan surut mengalir. Aku sangat senang dengan sebutir perhatian Gina.

“Bahaya?” sambungnya.

“Iyah, tidak bisa bermain piano.”

“Oh, dan kamu...?”

“Dokter menyuruhku berhenti,” ucapku dengan suara bergetar. Tepatnya, Papa memaksaku berhenti bermain piano.

Lihat selengkapnya