‘Euforia ketika mainan itu kudapatkan, kegelisahan tengah malam sebelum mendapatkan mainan, ataupun sensasi kegugupan ketika berusaha mendapatkannya.’
-Allen
Aku berjalan lesu menuju kelas yang sudah bubar, jam mata pelajaran terakhir tidak sempat kuikuti, begitu pula dengan Kelly. Tidak perlu susah payah untuk menyusulku yang sudah berjalan duluan. Kemudian mata kami sama-sama tertumpu pada Viena dan Gina yang berjalan beriringan, sedikit merasa heran dengan ‘fenomena’ itu.
“Itu beneran Gina?” tanya Kelly ragu. Wajar saja dia ragu karena selama ini Kelly belum pernah melihat Gina tidak pernah sewot dengan Viena yang sering dikucilkan.
“Apa urusannya denganmu?” tanyaku cuek masih sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana panjangku.
“Ya ila, kamu nggak merasa aneh?”
“Aneh buat apa? Teman sekelas kan?”
Kelly memukul kepalaku pelan sembari berkata, “ih, cuek banget sih!” geramnya lagi, seakan menyadarkanku bahwa itu peristiwa yang sangat langka.
“Yah, bukan urusan kita ngapain diurusin!” mendengar ucapanku, Kelly terdiam tampak bingung bagaimana harus menyambung ucapan yang acuh tak acuh.
“Ah, males deh!” tuturnya sebal seraya berlari kecil menuju kelas.
⋆⋆⋆
Siang yang tidak biasanya, matahari pun masih terjaga. Namun Ayah sudah di rumah ketika aku baru saja tiba. Dia duduk di ruang tamu bersama kepulan asap tebal. Bahkan saat aku masuk dengan gaduh pun sepertinya Ayah tidak akan menyadarinya. Sampai ketika aku berdiri di hadapannya.
“Ayah, pulang awal?” tanyaku heran.
Ayah seperti tersentak dari lamunannya dan mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyum mahalnya.
“Lagi sepi kasus yah, Yah?” tanyaku sembari mengambil posisi duduk di sebelahnya. Ayah enggan menjawab, ia terus mengisap dan mengembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi. Kulihat puntung rokok yang sudah penuh di asbak. Menyeruak sedikit kecemasan dengan keadaan saat ini. Ada firasat yang tidak dapat kujelaskan sedang membekap hati. Seperti akan terjadi sesuatu yang gawat. Apalagi menyadari kebiasaan Ayah yang merokok over jika sedang ada masalah. Dan sepertinya sekarang itu semua terjawab, Ayah pasti sedang dalam masalah besar.
“Ayah, jangan merokok lagi,” tegurku cemas ketika Ayah menyalakan lagi rokok yang entah keberapa puluh. Ayah masih tidak ingin menjawab. Sepertinya ia lebih memilih membekap erat mulutnya, ia memang tertutup.
“Ayah,” sapaanku yang kemudian dijawab bentakan, “DIAM!”
Detik itu pun mulutku terbungkam amarah Ayah yang tergambar jelas dari wajahnya. Yah, bijaksananya aku hanya perlu diam dan membiarkan Ayah sendiri untuk berkelana dalam masalahnya yang menumbuhkan firasat yang semakin buruk. Jelas terlihat, bentakan Ayah tidak hanya terlihat marah namun juga sedih.
“Den Allen,” nenek Lisa menegurku sambil melambai, menyuruhku untuk menjauhi Ayah.
⋆⋆⋆
“Ayah kenapa sih Nek?”
“Sepertinya Ayahmu lagi pusing, jangan diganggu dulu, den.”
“Tapi Nek....”
“Kamu mengerti kan sifat Ayahmu? Dia tidak akan pernah bercerita apapun tentang masalahnya,” jelas nenek Lisa menenangkanku. Aku tahu nenek Lisa pasti sudah melihat dengan jelas keresahan yang tampak dari raut mukaku.