Embun masih menggantung di ujung daun ketika Rania membuka jendela rumahnya. Udara pagi menyusup perlahan, membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan semalam. Dari kejauhan terdengar azan Subuh yang baru saja usai, sementara beberapa burung gereja mulai bertengger di kabel listrik di depan rumah.
Rania menghirup udara dalam-dalam.
"Alhamdulillah..."
Kalimat itu hampir selalu menjadi kata pertama yang keluar dari bibirnya setiap pagi.
Rumah sederhana yang ditempatinya terasa begitu sunyi. Tak ada lagi suara langkah kaki di kamar sebelah. Tak ada lagi seseorang yang bertanya, "Kopi atau teh pagi ini?" atau mengingatkannya agar tidak bekerja terlalu lama di depan laptop.
Sudah hampir lima tahun ia hidup sendiri.
Suaminya, Arif, meninggal karena serangan jantung mendadak pada suatu malam yang hingga kini masih sulit ia lupakan. Kepergian itu mengubah hampir seluruh hidupnya. Bukan hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan teman berdiskusi, tempat bercerita, dan orang yang selalu menjadi alasan untuk pulang.
Hari-hari setelahnya terasa panjang.
Namun waktu mengajarinya satu hal: kesedihan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kerinduan yang lebih tenang.
Rania kini berusia empat puluh lima tahun. Rambut hitamnya mulai diselingi beberapa helai putih yang sengaja tidak ia warnai. Baginya, setiap garis usia adalah bagian dari perjalanan yang patut disyukuri.
Ia bekerja sebagai editor naskah lepas. Hampir setiap hari ia duduk di ruang kerja kecil di sudut rumah, membaca puluhan halaman tulisan dari berbagai penulis. Ada yang menulis novel, buku motivasi, biografi, hingga karya ilmiah. Pekerjaannya tidak membuatnya kaya, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Lebih dari itu, pekerjaan tersebut memberinya ketenangan.
Ia menyukai kata-kata.
Ia percaya bahwa tulisan mampu menyembuhkan luka yang bahkan tak sanggup dijelaskan oleh percakapan.
Setelah merapikan tempat tidur dan menyeduh kopi, Rania duduk di meja makan. Di depannya tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah beberapa hari ia simpan.
Ia menatapnya cukup lama.
Perlahan ia membuka amplop itu.
Isinya adalah buku tabungan.
Tangannya bergerak membuka halaman terakhir.
Matanya berhenti pada angka saldo yang tercetak rapi.
Ia tersenyum kecil.
Air matanya justru lebih dahulu jatuh.
"Alhamdulillah..."
Kali ini suaranya bergetar.
Selama hampir tujuh tahun, setiap kali menerima bayaran dari hasil menyunting naskah, ia selalu menyisihkan sebagian kecil uangnya. Tidak banyak. Kadang hanya lima puluh ribu rupiah. Kadang seratus ribu. Jika pekerjaan sedang ramai, ia menabung lebih banyak. Jika sedang sepi, ia tetap menyisihkan meski sedikit.
Ia menyebut rekening itu sebagai Tabungan Baitullah.
Tak seorang pun mengetahui kebiasaannya itu.
Bahkan anak semata wayangnya yang kini bekerja di luar kota pun tidak pernah diberi tahu.
Baginya, mimpi itu terlalu pribadi.
Terlalu sakral.
Ia masih ingat sebuah percakapan bersama Arif bertahun-tahun lalu.
"Waktu kita sudah tua nanti," kata Arif sambil memandang langit senja dari teras rumah, "aku ingin kita Umrah bersama."
Rania tertawa pelan.
"Kenapa nanti? Kenapa bukan sekarang?"
Arif tersenyum.
"Karena sekarang kita masih mengejar banyak hal. Nanti kalau Allah sudah cukupkan semuanya, kita berangkat."