Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #2

Setelah Kepergian

Hujan turun sejak dini hari.

Butiran air membentur genting rumah dengan irama yang pelan, seolah enggan membangunkan siapa pun. Rania berdiri di depan jendela ruang tamu sambil memegang secangkir teh hangat. Pandangannya menembus halaman yang basah, tetapi pikirannya jauh melayang ke masa yang telah berlalu.

Di dinding ruang tamu tergantung sebuah foto berbingkai kayu.

Foto itu diambil sebelas tahun lalu.

Arif berdiri di sampingnya dengan senyum yang selalu berhasil membuat siapa pun merasa tenang. Di belakang mereka, hamparan sawah menghijau diterpa cahaya matahari sore. Tidak ada pose yang dibuat-buat. Hanya dua orang yang menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan.

Rania mendekati foto itu.

Jarinya mengusap pelan permukaan bingkai yang mulai berdebu.

"Assalamu'alaikum, Mas..."

Sapaan itu masih sering ia ucapkan setiap pagi.

Bukan karena ia menganggap Arif masih ada, melainkan karena kerinduan terkadang membutuhkan cara sederhana untuk disampaikan.

Sudah hampir lima tahun sejak malam yang mengubah hidupnya.

Malam ketika Arif mengeluhkan nyeri di dadanya sepulang dari masjid.

Mereka mengira hanya kelelahan.

Namun rasa sakit itu semakin hebat.

Ambulans datang terlambat.

Di rumah sakit, dokter hanya mampu menggeleng pelan.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Kalimat itu masih terdengar jelas di telinganya hingga hari ini.

Sejak malam itu, rumah yang dulu penuh percakapan berubah menjadi ruang yang dipenuhi keheningan.

Tidak ada lagi suara televisi yang sengaja dibesarkan Arif saat menonton berita.

Tidak ada lagi aroma kopi yang selalu ia seduh setiap menjelang Subuh.

Tidak ada lagi perdebatan kecil tentang tanaman mana yang harus dipindahkan ke halaman depan.

Kesunyian ternyata memiliki suara.

Dan suara itu sangat panjang.

Hari-hari pertama setelah kepergian Arif terasa begitu berat.

Rania bahkan pernah berpikir bahwa hidupnya telah selesai.

Ia mengurangi pekerjaan.

Jarang keluar rumah.

Sering menangis tanpa alasan yang jelas.

Beberapa kerabat menyarankannya menikah lagi.

Sebagian lagi mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya.

Tetapi waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan.

Waktu hanya mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan dengan kehilangan.

Perubahan terbesar dalam hidupnya justru dimulai ketika suatu malam ia terbangun menjelang azan Subuh.

Entah mengapa ia merasa ingin berwudu.

Rumah begitu sunyi.

Ia menggelar sajadah.

Salat dua rakaat.

Kemudian berdoa sangat lama.

Lihat selengkapnya