Pendaftaran Umrah mengubah banyak hal dalam diri Rania.
Bukan rutinitasnya.
Bukan pekerjaannya.
Melainkan cara ia memandang setiap hari yang datang.
Kini setiap pagi memiliki arti. Di dinding ruang kerjanya tergantung kalender dengan lingkaran merah pada tanggal keberangkatan. Masih tiga bulan lagi, tetapi setiap hari yang berlalu terasa seperti satu langkah kecil menuju Baitullah.
Ia mulai menjaga kesehatan, mengurangi begadang, dan menyempatkan diri berjalan kaki setiap sore agar fisiknya lebih siap. Di sela-sela pekerjaannya sebagai editor naskah, ia juga membaca buku-buku tentang manasik Umrah, sejarah Makkah dan Madinah, serta kisah para ulama yang pernah menjadi tamu Allah.
Hidupnya terasa lebih terarah.
Setidaknya...
Begitulah yang ia rasakan sampai suatu pagi.
Hari itu Rania mendapat pekerjaan menyunting sebuah novel dari penerbit langganannya.
Seperti biasa, ia duduk di ruang kerja kecilnya ditemani secangkir kopi hangat dan alunan murattal Al-Qur'an yang diputar pelan dari telepon genggamnya.
Ia baru menyelesaikan lima belas halaman ketika telepon rumah berdering.
Rania mengangkat kepalanya.
Entah mengapa, sebelum dering kedua terdengar, sebuah bayangan melintas begitu saja.
Telepon itu berasal dari kurir.
Kurir akan mengantar paket buku.
Ia akan berkata,
"Mohon maaf, Bu, rumahnya yang pagar putih, ya?"
Rania mengernyit.
Bayangan itu hanya berlangsung satu atau dua detik.
Begitu cepat hingga ia sendiri tidak yakin apakah benar-benar memikirkannya atau hanya sedang berkhayal.
Telepon terus berdering.
Ia mengangkat gagang telepon.
"Selamat pagi."
Suara di seberang terdengar ramah.
"Selamat pagi, Bu. Mohon maaf, rumahnya yang pagar putih, ya? Saya mau mengantar paket."
Rania membeku.
Kalimatnya...
Persis.
Tidak kurang satu kata pun.
"Bu... halo?"
"Iya..."
Jawabannya terdengar pelan.
"Iya, benar."
Telepon ditutup.
Rania masih memegang gagangnya beberapa detik.
Mungkin hanya kebetulan.
Kurir memang sering bertanya seperti itu.
Ia mencoba kembali bekerja.
Namun pikirannya tidak lagi berada pada naskah di depannya.
Sore harinya, Rania pergi ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan rumah.
Di depan pintu masuk, seorang anak laki-laki berlari sambil membawa balon merah.
Saat anak itu melewatinya, kembali muncul sensasi aneh.
Waktu seperti melambat.
Pandangannya kosong.
Lalu...
Sebuah bayangan.
Balon merah itu akan lepas.
Anak itu menangis.
Ibunya datang membawa es krim.
Tangisnya berhenti.
Selesai.
Hanya beberapa detik.
Rania menggeleng pelan.