Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #4

Masa Depan Dalam Hitungan Waktu

Rania mulai menyadari bahwa apa yang dialaminya bukan lagi sekadar perasaan familiar.

Déjà vu yang datang beberapa hari terakhir memiliki pola yang berbeda.

Lebih jelas.

Lebih tajam.

Dan yang paling mengganggu, selalu datang beberapa menit sebelum sebuah peristiwa benar-benar terjadi.

Pagi itu, Rania menghadiri manasik Umrah pertama di kantor biro perjalanan.

Ruang pertemuan dipenuhi sekitar tiga puluh calon jemaah. Sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun. Ada pasangan suami istri, ibu-ibu yang datang bersama anaknya, dan beberapa orang yang berangkat seorang diri seperti dirinya.

Rania memilih duduk di baris kedua.

Di atas meja tersedia buku panduan, botol air mineral, dan sebuah name tag bertuliskan namanya.

"Rania Prameswari."

Ia tersenyum kecil.

Masih terasa asing melihat namanya berada di daftar calon tamu Allah.

Ketika pembimbing manasik mulai berbicara, Rania berusaha memusatkan perhatian.

Namun, tanpa peringatan, pandangannya mendadak kosong.

Suara di ruangan perlahan memudar.

Yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri.

Lalu...

Kilasan itu datang.

Seorang pria tua di barisan belakang akan berdiri sambil memegang dadanya.

Botol air mineral di meja depan akan terguling.

Seorang ibu berjilbab ungu akan berteriak meminta tolong.

Petugas biro perjalanan berlari membawa kursi roda.

Kilasan itu berakhir.

Rania tersentak.

Ia menoleh ke belakang.

Pria tua itu masih duduk tenang.

Sedang mencatat.

Tidak terjadi apa-apa.

Rania menghela napas.

"Mungkin kali ini salah."

Namun baru lima menit berlalu...

Pria tua itu perlahan berdiri.

Wajahnya pucat.

Tangannya memegang dada.

Botol air mineral di meja depan tersenggol dan jatuh berguling.

"Ibu... tolong!"

Seorang perempuan berjilbab ungu berdiri panik.

Petugas biro perjalanan segera membawa kursi roda dari luar ruangan.

Seluruh peserta menjadi gaduh.

Rania membeku.

Semuanya...

Persis.

Bahkan urutannya tidak berubah.

Setelah kondisi pria itu membaik dan dibawa ke klinik terdekat, kegiatan manasik dilanjutkan.

Namun Rania tidak lagi mampu berkonsentrasi.

Tangannya terasa dingin.

Bukan karena kejadian tadi.

Melainkan karena ia tahu kejadian itu akan terjadi.

Lima menit sebelumnya.

Ia mulai menghitung.

Telepon kurir.

Balon merah.

Cangkir pecah.

Lihat selengkapnya