Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #5

Satu Masa Depan yang Hilang

Sudah hampir sebulan sejak Rania mulai mengalami déjà vu yang selalu menjadi kenyataan.

Awalnya ia hanya menganggapnya sebagai keanehan yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Namun, setelah puluhan kejadian kecil terbukti persis seperti yang dilihatnya, satu keyakinan mulai tumbuh di dalam dirinya.

Setiap kilasan adalah potongan masa depan.

Dan setiap potongan masa depan itu selalu menjadi kenyataan.

Keyakinan itulah yang perlahan mengubah rasa ingin tahunya menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Harapan.

Tanggal keberangkatan Umrah tinggal dua bulan lagi.

Kalender di ruang kerja Rania dipenuhi lingkaran merah dan catatan kecil.

57 hari lagi.

56 hari lagi.

Setiap pagi ia mencoret satu angka.

Setiap malam ia membaca kembali buku manasik.

Sesekali ia mencoba menghafal doa-doa thawaf sambil membayangkan dirinya berjalan mengelilingi Ka'bah.

Ia begitu bahagia.

Namun, di sela-sela kebahagiaan itu, sebuah pertanyaan terus muncul.

"Kalau aku benar-benar akan ke sana..."

"Mengapa aku belum pernah melihatnya?"

Sejak saat itu, Rania mulai menunggu datangnya déjà vu, bukan lagi dengan rasa takut, melainkan dengan harapan.

Setiap kali pandangannya tiba-tiba kosong, jantungnya berdegup lebih cepat.

"Ini pasti tentang Umrah."

Tetapi tidak pernah.

Yang muncul justru hal-hal yang sama sekali tidak penting.

Ia melihat penjual sayur akan menjatuhkan timbangan.

Benar.

Ia melihat tetangganya akan kehilangan kunci rumah.

Benar.

Ia melihat hujan turun ketika matahari masih bersinar.

Benar.

Semuanya benar.

Tetapi tidak pernah tentang dirinya.

Apalagi tentang Baitullah.

Obsesi itu tumbuh tanpa ia sadari.

Di sela-sela pekerjaannya mengedit naskah, ia membuka video siaran langsung Masjidil Haram melalui internet.

Ia menatap Ka'bah begitu lama.

Ribuan orang sedang thawaf.

Sebagian menangis.

Sebagian mengangkat tangan berdoa.

Sebagian hanya berjalan pelan sambil memandang bangunan hitam itu tanpa berkedip.

Rania ikut menangis.

Bukan karena iri.

Tetapi karena berharap.

"Ya Allah..."

"Perlihatkan aku sekali saja."

Ia memejamkan mata.

Membayangkan dirinya berada di antara lautan manusia itu.

Ia berharap, ketika membuka mata, sebuah kilasan akan datang.

Namun...

Tidak terjadi apa-apa.

Hanya layar komputer yang terus menampilkan orang-orang bertawaf.

Beberapa hari kemudian ia mencoba cara lain.

Ia mengeluarkan perlengkapan Umrah yang baru dibelinya.

Koper.

Kain ihram perempuan.

Lihat selengkapnya