Dua bulan sebelum keberangkatan Umrah, hidup Rania mulai terbagi menjadi dua bagian.
Bagian pertama adalah kehidupan yang dilihat orang lain.
Seorang editor naskah yang tenang.
Tetangga yang ramah.
Calon jemaah Umrah yang rajin mengikuti manasik.
Tidak ada yang aneh.
Namun ada kehidupan kedua yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Kehidupan yang dipenuhi potongan-potongan masa depan.
Kehidupan yang perlahan membuatnya mempertanyakan setiap langkah yang akan diambil.
Dan pusat dari kehidupan itu adalah sebuah buku bersampul cokelat tua yang selalu ia simpan di laci meja kerjanya.
Buku itu tidak memiliki judul.
Namun di dalam hati, Rania mulai menyebutnya sebagai Buku Catatan Takdir.
Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaan menyunting naskah, Rania mengeluarkan buku tersebut.
Halaman-halamannya mulai menguning di bagian sudut karena terlalu sering dibuka.
Tulisan tangannya memenuhi hampir setiap lembar.
Tanggal.
Jam.
Lokasi.
Orang yang terlibat.
Apa yang ia lihat.
Apa yang benar-benar terjadi.
Semuanya ditulis sedetail mungkin.
Ia percaya, jika memang semua ini memiliki pola, maka pola itu hanya akan terlihat jika seluruh kejadian dicatat dengan jujur.
Ia membuka halaman pertama.
3 Mei
Pukul 09.12
Telepon dari kurir.
Kalimat yang diucapkan sama persis dengan yang kulihat.
Terbukti.
5 Mei
Balon merah terlepas.
Anak menangis.
Ibunya membeli es krim.
Terbukti.
6 Mei
Cangkir putih pecah.
Sudah kupindahkan, tetapi tetap pecah dengan cara berbeda.
Terbukti.
Halaman demi halaman dipenuhi kata yang sama.
Terbukti.
Terbukti.
Terbukti.
Semakin banyak catatan yang terkumpul, semakin banyak pula pola yang mulai ia temukan.
Déjà vu hampir selalu datang tanpa peringatan.
Durasinya hanya beberapa detik.
Peristiwa yang dilihat akan terjadi dalam hitungan menit, meskipun sesekali baru terjadi beberapa jam kemudian.
Yang paling aneh, semua kejadian terlihat dari sudut pandangnya sendiri.
Seolah ia sedang melihat dunia melalui matanya sendiri beberapa menit di masa depan.
Tidak pernah dari sudut pandang orang lain.
Ia menuliskan kesimpulan itu di halaman khusus.
Poin kelima ia beri garis bawah tiga kali.
Karena ia sudah berkali-kali mencoba mengubah apa yang dilihatnya.
Memindahkan cangkir.
Mengganti jalan pulang.
Menunda keluar rumah.
Mengubah jadwal.
Namun hasil akhirnya selalu sama.
Takdir seolah hanya memilih jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.
Jumlah catatan terus bertambah.