Sudah hampir dua bulan Rania hidup bersama sesuatu yang tak dapat ia jelaskan.
Ia tidak lagi terkejut ketika sebuah kilasan datang.
Ia sudah terbiasa membiarkan pandangannya kosong beberapa detik, menunggu potongan masa depan itu selesai, lalu mencatatnya di Buku Catatan Takdir.
Yang berubah bukan lagi kemampuan itu.
Melainkan dirinya.
Kini, setiap kali sebuah déjà vu muncul, Rania tidak lagi sekadar menunggu apakah itu akan menjadi kenyataan.
Ia ingin membuktikan sesuatu.
Apakah masa depan bisa diubah?
Jika bisa diubah, mungkin...
Mungkin halaman kosong tentang Umrah juga bisa berubah.
Kesempatan pertama datang pada suatu pagi.
Rania sedang menyiram tanaman di halaman ketika sensasi yang sudah dikenalnya kembali muncul.
Udara terasa hening.
Suara burung menghilang.
Lalu sebuah kilasan muncul.
Ia melihat pot bunga besar di teras depan akan jatuh ketika seekor kucing meloncat ke pagar.
Pot itu pecah.
Tanah berserakan.
Kilasan selesai.
Rania membuka mata.
Ia segera menghampiri pot tersebut.
Tanpa berpikir panjang, ia mengangkatnya ke sudut halaman yang jauh dari pagar.
"Kalau dipindahkan, pasti tidak akan jatuh."
Ia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin takdir bisa dicegah.
Sepuluh menit kemudian, tetangga sebelah datang membawa sapu.
"Rania, boleh pinjam selangnya?"
"Tentu."
Saat menyerahkan selang, tanpa sengaja ujung sapu yang dibawa tetangganya menyenggol pot yang baru saja dipindahkan.
Pot itu jatuh.
Pecah.
Persis seperti yang telah ia lihat.
Hanya caranya yang berbeda.
Rania memandang pecahan tanah liat itu cukup lama.
"Masih kebetulan," gumamnya.
Namun jauh di dalam hati, keyakinannya mulai goyah.
Keesokan harinya, ia kembali mendapat kesempatan.
Saat sedang mengedit naskah, sebuah kilasan datang.
Telepon genggamnya akan berdering.
Penerbit akan meminta revisi tambahan.
Ia akan menyetujui pekerjaan itu.
Begitulah yang ia lihat.
Begitu kilasan berakhir, Rania segera mematikan telepon genggamnya.
"Kalau tidak bisa dihubungi, berarti tidak akan terjadi."
Ia bahkan meletakkan telepon itu di dalam laci meja.
Satu jam berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Rania mulai tersenyum puas.
Namun menjelang siang, bel rumah berbunyi.
Seorang kurir datang membawa surat dari penerbit.
Isinya persis seperti yang ia lihat.
Permintaan revisi tambahan.
Ia tetap menerima pekerjaan itu.