Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #8

Orang-Orang yang Diselamatkan

Sejak menerima kenyataan bahwa ia tidak mampu mengubah masa depan, Rania berhenti melakukan percobaan-percobaan yang melelahkan.

Ia tidak lagi memindahkan pot bunga.

Tidak lagi mematikan telepon.

Tidak lagi sengaja mengubah rute perjalanan.

Namun satu pertanyaan baru mulai mengganggunya.

Jika ia memang tidak dapat mengubah akhir dari sebuah peristiwa...

Apakah ia masih bisa mengubah nasib seseorang di dalamnya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga suatu pagi Allah seolah memberinya kesempatan untuk mencari jawabannya.

Rania sedang berbelanja di pasar tradisional ketika sensasi déjà vu kembali datang.

Suara para pedagang perlahan menghilang.

Warna-warna di sekitarnya memudar.

Dalam beberapa detik ia melihat seorang bocah laki-laki berlari sambil membawa kantong plastik.

Bocah itu akan terpeleset karena lantai yang basah.

Kepalanya hampir membentur sudut meja ikan.

Seorang perempuan akan menjerit.

Kilasan itu berakhir.

Rania segera melihat ke arah lorong yang sama.

Belum terjadi apa-apa.

Beberapa detik kemudian, ia melihat bocah yang sama berlari dari ujung pasar.

Tanpa berpikir panjang, Rania melangkah cepat.

"Nak... pelan-pelan."

Anak itu tidak mendengar.

Ia tetap berlari.

Tepat ketika kakinya mulai tergelincir, Rania berhasil meraih lengannya.

Tubuh bocah itu tetap kehilangan keseimbangan, tetapi tidak sampai membentur meja.

Ia hanya terduduk di lantai sambil menangis pelan.

Ibunya segera datang memeluknya.

"Terima kasih, Bu... kalau tidak ada Ibu..."

Rania hanya tersenyum.

"Alhamdulillah."

Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sudah melihat kejadian itu beberapa menit sebelumnya.

Bagi orang-orang di pasar, ia hanyalah seorang perempuan yang kebetulan sigap.

Peristiwa itu terus terbayang sepanjang perjalanan pulang.

Untuk pertama kalinya, hasil sebuah déjà vu benar-benar berbeda.

Anak itu memang tetap terpeleset.

Namun luka yang seharusnya terjadi tidak pernah ada.

Mungkin...

Takdir bukanlah sesuatu yang sesederhana hitam dan putih.

Mungkin ada bagian yang masih dapat diikhtiarkan.

Pikiran itu membuat dadanya sedikit lebih ringan.

Kesempatan kedua datang seminggu kemudian.

Rania sedang menunggu lampu lalu lintas ketika sebuah kilasan muncul.

Seorang pengendara sepeda motor akan berhenti tepat di belakang sebuah truk.

Beberapa detik kemudian truk itu mundur karena sopir tidak melihat keberadaan motor kecil tersebut.

Kilasan selesai.

Rania langsung menoleh.

Motor itu memang ada.

Persis seperti yang ia lihat.

Tanpa ragu ia turun dari motornya.

Lihat selengkapnya