Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #9

Ketika Semua Benar

Pagi itu hujan turun sejak subuh.

Rintiknya halus, hampir tak terdengar, tetapi cukup membuat udara terasa dingin. Dari jendela ruang kerjanya, Rania memandang halaman rumah yang mulai dipenuhi titik-titik air. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepulkan uap tipis.

Semuanya tampak biasa.

Namun hidup Rania sudah lama berhenti menjadi sesuatu yang biasa.

Sudah lebih dari tiga ratus catatan memenuhi Buku Catatan Takdir.

Dan semakin banyak catatan itu bertambah, semakin kecil ruang yang tersisa bagi keraguan.

Kini ia tidak lagi bertanya apakah déjà vu itu nyata.

Yang menjadi pertanyaan hanyalah:

Apa lagi yang akan diperlihatkan kepadanya hari ini?

Pukul delapan lewat lima belas menit, sensasi itu datang lagi.

Suara hujan perlahan menghilang.

Pandangannya membeku.

Dalam beberapa detik ia melihat teko listrik di dapurnya mendidih. Air meluap karena tutupnya tidak terpasang rapat. Uap mengepul memenuhi meja.

Kilasan selesai.

Rania segera menuju dapur.

Teko itu memang belum dinyalakan.

Ia sempat berpikir untuk membuang airnya saja.

Namun kemudian ia berhenti.

Beberapa hari terakhir ia sudah belajar.

Menghindari bukan berarti menghapus.

Ia hanya memasang tutup teko lebih rapat, lalu kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian telepon dari klien membuatnya kehilangan konsentrasi. Saat berbicara, ia lupa bahwa teko masih menyala.

Air tetap meluap.

Hanya saja, kali ini tidak membasahi seluruh meja seperti yang ia lihat.

Rania segera mematikan listrik.

Ia mencatat kejadian itu.

Terbukti.

Sekali lagi.

Belum sempat tinta di buku catatannya mengering, kilasan berikutnya datang.

Ia melihat tetangga depan rumah akan tergesa-gesa keluar membawa payung.

Payung itu tersangkut pagar.

Gagangnya patah.

Lima menit kemudian, semuanya terjadi.

Bahkan ekspresi kesal tetangganya sama persis.

Rania hanya menghela napas.

Ia bahkan tidak lagi terkejut.

Siang harinya, saat mengantre di apotek, sebuah kilasan baru muncul.

Seorang pria tua akan merogoh saku bajunya.

Resep obatnya tidak ada.

Ia panik.

Kemudian cucunya datang berlari membawa map biru.

Kilasan itu berlangsung hanya beberapa detik.

Saat kembali ke kenyataan, Rania memandang antrean di depannya.

Pria tua itu benar-benar ada.

Beberapa menit kemudian ia mulai mencari-cari resepnya.

"Waduh..."

"Tertinggal."

Wajahnya berubah pucat.

Persis seperti yang dilihat Rania.

Tak lama kemudian seorang remaja berlari masuk sambil membawa map biru.

"Kakek!"

Resep itu ditemukan.

Lihat selengkapnya