Waktu bergerak jauh lebih cepat daripada yang Rania bayangkan.
Angka-angka yang setiap hari ia coret di kalender kini tinggal hitungan minggu.
Dua puluh satu hari.
Lalu sembilan belas.
Enam belas.
Empat belas.
Semakin dekat hari keberangkatan, semakin besar harapannya bahwa suatu pagi, atau suatu sore, atau bahkan beberapa menit sebelum tidur, Allah akan memperlihatkan satu saja potongan masa depan tentang Umrah.
Ia tidak meminta melihat seluruh perjalanan.
Tidak perlu.
Cukup satu detik.
Melihat lantai marmer Masjidil Haram.
Mendengar gema talbiyah.
Melihat ujung Kiswah Ka'bah tertiup angin.
Apa saja.
Asal ia tahu bahwa dirinya benar-benar akan sampai di sana.
Namun setiap hari yang datang hanya membawa kekecewaan baru.
Suatu pagi, setelah salat Subuh, Rania duduk di ruang tamu sambil memegang tasbih.
Udara masih dingin.
Rumah masih sunyi.
Ia sengaja memejamkan mata, berharap keheningan itu mengundang datangnya déjà vu.
Beberapa menit berlalu.
Tiba-tiba sensasi itu muncul.
Jantungnya berdebar.
"Ya Allah..."
Batinnya berbisik penuh harap.
"Paling tidak kali ini..."
Pandangannya perlahan berubah.
Ia melihat seorang penjual bubur menjatuhkan sendok besar ke selokan.
Kilasan selesai.
Rania membuka mata.
Dadanya seperti kehilangan tenaga.
Beberapa menit kemudian, dari jendela rumah, ia benar-benar melihat penjual bubur di ujung gang menjatuhkan sendoknya.
Ia tidak lagi merasa kagum.
Ia justru ingin menangis.
Mengapa sendok itu dapat ia lihat...
Tetapi Ka'bah tidak?
Hari-hari berikutnya menjadi semakin menyiksa.
Setiap kali déjà vu datang, Rania selalu memiliki harapan yang sama.
"Ini pasti tentang Umrah."
Namun yang muncul selalu hal-hal kecil.
Anak tetangga kehilangan sepatu.
Kurir salah mengetuk rumah.
Pohon mangga patah tertiup angin.
Lampu taman mati.
Mobil tetangga mogok.
Seorang pelanggan meminta revisi.
Semuanya benar.
Selalu benar.
Dan semuanya terasa tidak penting dibandingkan satu perjalanan yang memenuhi seluruh pikirannya.
Rania mulai menghitung.
Sudah tiga puluh tujuh kali déjà vu datang sejak ia pertama kali menyadari halaman Umrahnya kosong.
Tiga puluh tujuh kesempatan.
Tidak satu pun berkaitan dengan Tanah Suci.
Ia mencatat angka itu di pojok halaman.
Lalu memandanginya lama.
Semakin besar angkanya, semakin kecil harapannya.
Manasik terakhir dilaksanakan pada hari Minggu.
Seluruh calon jemaah berkumpul mengenakan pakaian serba putih.
Pembimbing menjelaskan kembali tata cara ihram.