Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #11

Antara Ikhtiar dan Ketakutan

Tujuh hari.

Hanya tujuh hari lagi.

Kalender yang tergantung di ruang makan kini dipenuhi tanda silang merah. Setiap pagi Rania mencoret satu kotak tanggal, lalu memandangi angka yang tersisa beberapa saat sebelum melanjutkan aktivitasnya.

Orang-orang di sekitarnya mengira ia sedang berbahagia.

Dan memang seharusnya begitu.

Bertahun-tahun ia menabung.

Bertahun-tahun ia menahan keinginan membeli banyak hal.

Bertahun-tahun ia menyimpan impian yang dulu ia rajut bersama almarhum Arif.

Kini impian itu tinggal selangkah lagi.

Namun justru ketika langkah terakhir sudah di depan mata, hatinya dipenuhi ketakutan yang tidak mampu ia jelaskan kepada siapa pun.

Pagi itu Rania membuka map bening yang berisi seluruh dokumen perjalanan.

Paspor.

Kartu identitas.

Bukti pembayaran.

Tiket elektronik.

Surat keterangan kesehatan.

Ia mengeluarkan semuanya satu per satu.

Nama.

Nomor paspor.

Tanggal lahir.

Tanggal keberangkatan.

Ia memeriksanya perlahan.

Lima menit kemudian ia memeriksanya lagi.

Setelah selesai, ia memasukkan kembali semuanya ke dalam map.

Baru beberapa langkah meninggalkan meja, ia kembali lagi.

Map itu dibuka sekali lagi.

Barangkali ada yang terlewat.

Padahal tidak ada.

Semuanya lengkap.

Tetap saja ia belum merasa tenang.

Siang harinya ia menghubungi biro perjalanan.

"Selamat siang, Bu Rania."

"Maaf mengganggu."

"Tidak apa-apa, Bu."

"Saya hanya ingin memastikan..."

Petugas itu tertawa kecil.

"Soal keberangkatan lagi ya, Bu?"

Rania ikut tersenyum kaku.

"Iya."

"Jadwal tidak berubah?"

"Tidak."

"Tiket sudah keluar?"

"Sudah."

"Visa?"

"Sudah terbit kemarin."

"Benarkah?"

"Iya, Bu. Semua sudah siap."

"Kalau begitu... tidak ada masalah lagi?"

"Tidak ada."

"Insya Allah Ibu tinggal berangkat."

Percakapan itu berakhir.

Namun lima belas menit kemudian, Rania membuka kembali pesan dari biro perjalanan.

Ia membaca tulisan Visa Approved berulang-ulang.

Seharusnya ia lega.

Tetapi yang muncul justru pertanyaan lain.

"Kalau semua sudah siap..."

"Mengapa aku tetap tidak melihat Umrah itu?"

Sore harinya ia mengeluarkan koper dari lemari.

Padahal koper itu sudah disusun rapi beberapa hari sebelumnya.

Ia membuka resleting.

Mengeluarkan seluruh isi.

Mukena.

Gamis.

Kaus kaki.

Obat-obatan.

Peralatan mandi.

Sabuk paspor.

Buku doa.

Sajadah kecil.

Lihat selengkapnya